
*Oleh: Cut Ulfa Humaira
HARI INI, manusia berdiri di puncak pencapaian ilmiah yang luar biasa. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mendikte keputusan harian kita, bioteknologi mampu meretas kode genetik kehidupan, dan eksplorasi ruang angkasa membawa mimpi kolonisasi Mars kian mendekati kenyataan. Namun, di balik megahnya etalase kemajuan ini, ada retakan besar yang menganga. Kita sedang menyaksikan drama kehancuran global: krisis ekologi yang akut, perubahan iklim yang tak terkendali, dan kekosongan spiritualitas manusia modern yang kian terasa.
Mengapa sains yang begitu canggih justru melahirkan dunia yang kian rapuh? Krisis ini bukanlah sekadar kegagalan teknis-manajerial, melainkan sebuah kegagalan cara berpikir—sebuah krisis mendasar pada cara kita memandang ilmu pengetahuan. Modernitas telah melahirkan dunia yang dingin dan hampa spiritualitas, sebuah kondisi yang oleh sosiolog Max Weber disebut sebagai “desakralisasi semesta” (disenchantment of nature). Alam tidak lagi dipandang sebagai tanda-tanda kebesaran ilahi (ayat), melainkan sekadar tumpukan materi mati yang siap dieksploitasi demi pertumbuhan ekonomi tanpa batas. Di sinilah Kajian Sains Islam hadir bukan sekadar sebagai nostalgia masa lalu atas kejayaan ilmuwan muslim terdahulu (seperti Ibnu Sina atau Al-Khwarizmi), melainkan sebagai tawaran alternatif untuk mengembalikan “jiwa” sains yang telah hilang.
- Menelusuri Akar Masalah: Ketika Alam Kehilangan Kesuciannya
Sejak era Pencerahan di Eropa, sains modern secara sadar memisahkan diri dari agama dan ketuhanan. Pandangan para pemikir seperti Francis Bacon menegaskan bahwa alam harus ditaklukkan dan dipaksa untuk melayani kebutuhan manusia.
Cara pandang sekuler ini melahirkan sikap sombong manusia (antroposentrisme), di mana manusia merasa menjadi penguasa mutlak semesta yang bebas dari tanggung jawab moral kepada Tuhan. Akibatnya, alam kehilangan kesuciannya. Sungai, hutan, dan gunung tidak lagi memiliki nilai spiritual, melainkan hanya dilihat sebagai bahan baku industri dan komoditas ekonomi belaka.
Sains modern yang awalnya diciptakan untuk membebaskan manusia dari takhayul, justru menjelma menjadi alat perusak baru. Atas nama objektivitas ilmiah yang “bebas nilai”, etika dan spiritualitas diusir secara paksa dari laboratorium. Akibatnya, seperti yang pernah dikritik oleh pemikir Seyyed Hossein Nasr, kita mendapati manusia modern berhasil menaklukkan kosmos, tetapi gagal menaklukkan ego dan keserakahannya sendiri. Tanpa panduan moral keagamaan, sains pada akhirnya menjadi alat destruktif yang mengeksploitasi bumi tanpa batas.
- Paradigma Islam: Menyatukan Akal, Wahyu, dan Alam Semesta
Di tengah kebuntuan sains modern yang kering spiritualitas, Kajian Sains Islam menawarkan cara pandang yang menyatukan segalanya (integratif). Berbeda dengan sains modern yang hanya percaya pada apa yang bisa dilihat dan dihitung secara fisik (positivisme), sains Islam bertumpu pada fondasi Tauhid—keesaan yang mempersatukan dunia fisik dan spiritual.
Dalam cara pandang Islam, sumber pengetahuan tidak pernah dipisah-pisahkan secara kaku. Wahyu Allah (Al-Qur’an), akal sehat, dan indra manusia saling bekerja sama mencari kebenaran. Alam semesta bukanlah objek mati; ia adalah “Kitab Terbuka” (al-Mushaf al-Kawn) yang sejajar dengan kitab suci Al-Qur’an (al-Mushaf al-Tadwini). Keduanya merefleksikan kebenaran ilahi yang sama.
Ketika seorang ilmuwan muslim mempelajari astronomi, biologi, atau fisika, ia tidak sedang melakukan hitung-hitungan yang dingin. Ia sedang membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di jagat raya dan di dalam diri manusia sendiri. Di sini, nilai-nilai etis, tasawuf, dan tanggung jawab lingkungan hidup bukanlah tempelan luar, melainkan ruh dari aktivitas ilmiah itu sendiri. Manusia diposisikan bukan sebagai penakluk alam, melainkan sebagai khalifah fil ardh penjaga dan pemelihara bumi yang bertanggung jawab langsung kepada Sang Pencipta.
- Tantangan Nyata: Jebakan “Cocoklogi” di Kampus Islam
Tantangan terbesar kita hari ini tidak lagi berada pada perdebatan teori di buku-buku, melainkan pada praktiknya di lembaga pendidikan kita sendiri. Di banyak perguruan tinggi Islam di Indonesia, kita sering melihat jargon “integrasi keilmuan” yang baru menyentuh permukaan saja.
Kita sering kali terjebak dalam metode “Islamisasi” yang dangkal, atau yang sering disebut sebagai fenomena “cocoklogi”. Praktik ini sekadar menempelkan ayat-ayat suci Al-Qur’an pada teori sains Barat tanpa memeriksa kembali dasar berpikir sains tersebut secara mendalam. Pelajaran fisika, biologi, atau ekonomi tetap diajarkan dengan logika sekuler-materialistik yang utuh, lalu di akhir bab disisipkan satu atau dua ayat Al-Qur’an sebagai pembenaran legitimatif (justifikasi ayat). Ini bukanlah integrasi sejati, melainkan pemaksaan dua hal yang berbeda secara paksa.
Meskipun kampus-kampus telah melahirkan berbagai metafora integrasi keilmuan, seperti model “Jaring Laba-laba” di UIN Sunan Kalijaga atau “Pohon Ilmu” di UIN Malang pada tingkat praktis di ruang kelas, jurang pemisah itu tetap ada. Mahasiswa sering kali mengalami pembelahan karakter berpikir, di masjid mereka menjadi teolog yang saleh, namun ketika masuk laboratorium atau merumuskan kebijakan publik, mereka berpikir dengan logika sekuler yang mengabaikan tuhan. Kajian Sains Islam harus berani melangkah lebih jauh, bukan cuma sekadar simbol visual, melainkan harus merombak cara mengajar, menyusun riset, dan membangun filosofi sains yang benar-benar berakar pada pandangan hidup Islam.
- Kesimpulan: Menuju Sains yang Memiliki Jiwa
Jika sains modern telah membawa bumi ke jurang kehancuran lingkungan karena kehilangan kompas spiritualnya, maka Kajian Sains Islam bukanlah sekadar pilihan akademis yang mewah. Ini adalah kebutuhan mendesak bagi peradaban kita saat ini.
Dunia hari ini sangat membutuhkan sains yang memiliki jiwa. Sebuah sains yang tidak hanya bertanya, “bagaimana cara membelah atom?” tetapi juga bertanya, “apakah secara moral tindakan ini membawa kebaikan (maslahah) atau justru merusak (mafsadah) bumi dan masa depan generasi kita?”
Melalui integrasi ilmu yang sejati, kita diajak untuk menghargai kembali kesucian alam ini. Sains harus diubah dari alat eksploitasi materi menjadi sarana merenung (tafakkur) yang mendekatkan kita kepada Tuhan, sekaligus melahirkan aksi nyata untuk menjaga kelestarian bumi. Hanya dengan mengembalikan jiwa spiritual ke dalam tubuh sains, kita dapat menyelamatkan masa depan kemanusiaan dan merawat bumi yang sedang menderita ini.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, M. Amin. (2014). Integrated-Interdisciplinary Islamic Studies in Contemporary Higher Education. Yogyakarta: Pilar Media.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (1993). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: ISTAC.
Bagir, Zainal Abidin (Ed.). (2005). Integrasi Ilmu dan Agama: Interpretasi dan Aksi. Yogyakarta: Mizan.
Nasr, Seyyed Hossein. (1996). The Encounter of Man and Nature: The Spiritual Crisis of Modern Man. Chicago: Kazi Publications.
Nasr, Seyyed Hossein. (2007). The Need for a Sacred Science. Richmond: Curzon Press.
*Cut Ulfa Humaira merupakan mahasiswi Prodi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan UIN Ar-Raniry Banda Aceh.






