
*Oleh: Muhammad Hafiz Muharram
KRISIS air bersih masih menjadi permasalahan serius yang dihadapi masyarakat di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Meskipun Aceh dikenal memiliki curah hujan yang relatif tinggi, kenyataannya tidak semua daerah dapat menikmati akses air bersih yang layak dan berkelanjutan. Kondisi ini semakin terasa pada musim kemarau, ketika sumber-sumber air mulai menyusut dan sulit diandalkan.
Di beberapa kabupaten seperti Aceh Besar, Aceh Timur, dan wilayah pesisir lainnya, masyarakat kerap mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Sumur-sumur warga mengering atau menghasilkan air yang keruh dan tidak layak konsumsi. Akibatnya, sebagian warga terpaksa membeli air bersih atau mengambil air dari lokasi yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka.
Salah satu penyebab utama krisis air bersih di Aceh adalah menurunnya kualitas dan kuantitas sumber air. Kerusakan lingkungan akibat pembukaan lahan, penebangan hutan, serta pencemaran sungai berdampak langsung pada ketersediaan air. Daerah resapan air yang semakin berkurang menyebabkan cadangan air tanah tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat, terutama saat kemarau panjang.
Selain itu, keterbatasan infrastruktur juga menjadi faktor penghambat. Jaringan distribusi air bersih belum menjangkau seluruh wilayah, khususnya daerah pedalaman dan terpencil. Banyak masyarakat yang masih bergantung pada sumber air alami tanpa pengolahan yang memadai, sehingga berisiko terhadap kesehatan.
Dampak krisis air bersih sangat dirasakan oleh masyarakat. Aktivitas rumah tangga terganggu, sanitasi menjadi buruk, dan risiko penyakit meningkat. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak akibat penggunaan air yang tidak memenuhi standar kebersihan.
Pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya, seperti pembangunan sumur bor dan sistem penyediaan air minum. Namun, upaya tersebut masih perlu ditingkatkan agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian sumber air serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan.
Krisis air bersih di Aceh bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial. Tanpa penanganan yang serius dan berkelanjutan, krisis ini berpotensi menjadi masalah jangka panjang. Oleh karena itu, menjaga sumber daya air dan memastikan akses air bersih bagi seluruh masyarakat harus menjadi prioritas bersama demi masa depan Aceh yang lebih baik. []
*Muhammad Hafiz Muharram merupakan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh






