
Aceh Barat – Ketua Pengurus Besar Himpunan Ulama Dayah Aceh (PB HUDA) Aceh, Abiya Dr. Tgk. H. Anwar Usman Kuta Krueng, melantik Pengurus Wilayah (PW) HUDA Kabupaten Aceh Barat masa khidmat 2026-2031.
Prosesi pelantikan berlangsung pada Sabtu (7/3) yang bertepatan dengan 17 Ramadan 1447 H, di Dayah Ruhul Qur’ani Meulaboh, Aceh Barat.
Dalam pelantikan tersebut, Abu Syaikh H. Abdurrahman Amin Al-Yamani kembali dipercaya memimpin HUDA Aceh Barat sebagai ketua. Ini merupakan periode ketiga dirinya mengemban amanah sebagai pimpinan pengurus himpunan ulama di wilayah tersebut.
Sementara itu, Tgk. Syahwaludin, M.A. dilantik sebagai sekretaris dan Abi Mawardi Muda sebagai bendahara.
Untuk jajaran Majelis Musytasyar PW HUDA Aceh Barat, Ketua dijabat oleh Abu H. Mahmuddin Usman, yang lebih dikenal sebagai Abu Serambi Aceh.
Anggota Majelis Musytasyar di antaranya Abu H. Mustafa Habli, Lc. (Abu Masjid Baro), Abon H. Arifin Mahmud, Waled Harmen Nuriqmar, serta sejumlah ulama lainnya.
Adapun Majelis Syuriah dipimpin oleh Rais ‘Am Abu H. Abdurrani Adian, dengan wakil Rais ‘Am Dr. (H.C.) H. Teuku Alaidinsyah, H. T. Ali Depi, dan tokoh ulama lainnya.
Sementara posisi Khathib ‘Am HUDA Aceh Barat diamanahkan kepada Waled H. Saifuddin Yahya, yang juga merupakan Imum Syiek Masjid Agung Baitul Ma’mur Aceh Barat.
Ulama Mitra Pemerintah
Dalam sambutannya, Ketua PW HUDA Aceh Barat, Abu Syaikh Al-Yamani menegaskan bahwa HUDA merupakan mitra pemerintah dalam memberikan nasihat dan masukan demi kepentingan masyarakat.
Menurutnya, pandangan yang disampaikan HUDA merupakan aspirasi para ulama Aceh Barat, bukan untuk kepentingan pribadi pengurus maupun kelompok tertentu.
“Oleh karena itu, pelantikan PW HUDA 2026 ini mengangkat tema ‘Mengokohkan Peran Ulama Dayah dalam Membangun Peradaban Aceh Barat yang Islami, Beradab, dan Bermartabat’,” ujarnya.
Pelantikan tersebut turut dihadiri Bupati Aceh Barat, Tarmizi, S.P., M.M. Dalam sambutannya, ia berharap para ulama terus memberikan masukan kepada pemerintah daerah.
Tarmizi mengibaratkan peran ulama seperti lembaga yang memberi peringatan penting bagi keselamatan masyarakat.
“Dulu BMKG pernah memberikan peringatan tentang bahaya hujan deras dan banjir. Kami harus mendengarnya, karena kami tidak ahli di bidang cuaca. Jika tidak didengar, masyarakat bisa celaka,” ujarnya.
Ia menambahkan, hal yang sama berlaku dalam urusan keagamaan.
“Demikian juga kami berharap para ulama terus memberi peringatan kepada pemerintah. Kami harus mendengarkannya, karena ulama lebih memahami ilmu agama. Jika tidak kami dengar, masyarakat juga bisa celaka,” kata Tarmizi.
HUDA Sebagai Wadah Persatuan Ulama
Sementara itu, Abiya Anwar Usman Kuta Krueng menyampaikan bahwa HUDA merupakan wadah persatuan sekaligus wadah pengabdian para ulama dayah di Aceh.
Dengan keberadaan HUDA di Aceh Barat, baik di tingkat pengurus wilayah maupun pengurus cabang di kecamatan, ia berharap penguatan nilai-nilai agama di tengah masyarakat terus berkembang.
“HUDA merupakan wadah persatuan dan pengabdian. Dengan eksistensi HUDA di Aceh Barat, kita berdoa agar penguatan agama di daerah ini terus berlanjut dan semakin baik,” kata Abiya.[]





