Kampus

Kajian Orientalis

Avicenna Al Maududdy
Magister Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kajian Orientalis

1. Konsep Orientalisme
Orientalisme adalah suatu ilmu ketimuran atau ilmu tentang timur. Adapun kata orientalis dalam pengertian umum berarti semua ahli Barat yang mempelajari dunia Timur (Jauh, Tengah atau Dekat) tentang baasanya, sastranya, peradabanya ataupun agamanya.

Dengan tersebar luasnya dīn al-Islam di Timur dan di Barat membuat para pemuka (ulama) Nashrani semakin mengamati agama itu. Dari sinilah, para orientalis mulai menaruh perhatian yang besar dan mempelajari Islam.

Salah satu ulama kristen yang menonjol adalah Yohana Damsyiqi (676-749). Dia adalah orang Timur yang hidup di masa dinasti Umawiyah, ia bekerja di Istana Umawi.

Pada hakekatnya orientalisme telah berurat berakar sejak 1000 tahun yang silam, akan tetapi baru dikenal sekitar akhir abad ke 18 atau tepatnya 1779 M di Inggris, kemudian 1788 M di Prancis.

Adapun yang melatarbelakangi orientalisme ini muncul karena oleh perbenturan antara Islam dan Kristen di Andalus dan Sisilia, sedangkan perang salib adalah merupakan motivasi terkuat bagi bangsa Eropa Kristen untuk mempelajari Islam dan adat istiadatnya.

Para pemuka Kristen berusaha untuk menentang Islam dengan memfitnah dan menyebarluaskan berita bohong tentang Islam dan Nabi Muhammad SAW., mereka mengatakan Islam adalah sumber kejahatan dan Muhammad SAW tidak lebih dari sebuah patung, tuhan bagi qabilah tertentu, dan lebih dari itu, mereka tidak segan-segan mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah setan.

Orientalisme menetapkan bahwa pengetahuan bahasa-bahasa Timur adalah merupakan perangkat untuk dapat mengetahui atau mengenal agama dan peradaban Timur, dalam hal ini kristen pun mempunyai pandangan yang sama dengan orientalisme.

Di samping itu, Kristenisasi adalah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan untuk meluaskan penyebaran atau pengaruh agama Kristen. Adapun cara untuk merealisasikan tujuan tersebut ada tiga syarat yaitu: Keharusan mempelajari bahasa, mempelajari semua macam kekufuran, kemudian membedaan anatara yaang satu dengan yang lain, membedakan semua dalih/bantahan agar dapat mematahkan lawan.

Kemajuan-kemajuan orientalisme di akhir abad pertengahan telah di topang dengan dijalinnya hubungan diplomatik dan politik dengan dinasti Utsmaniyah Turki. Demikian pula halnya hubungan-hubungan perdagangan antara Spanyol dan Itali dengan Turki dan Syiria serta Mesir juga telah memberi pengaruh berarti bagi kemajuan pendidikan orientalisme.

Abad ke 19 dan abad ke-20 terhitung abad keemasan bagi orientalis dan pada akhirnya abad ke-18. Bulan Maret 1795 M pemerintahan Revoluisoner di Paris mendirikan sekolah Bahasa Timur. Disamping itu dimulainya di Paris dalam menerbitkan buku-buku ilmiah pada taun 1838M melalui tangan Silvestre de Sascy yang selanjutnya menjadi imam para orientalis pada zamanya.

2. Kajian Orientalis Mengenai Islam
Adapun beberapa kegiatan orientalis seperti: membuka lembaga-lembaga di beberapa negeri Eropa dan Amerika untuk mengikuti pelajaran-pelajaran orientalisme. Yang pertama yang didirikan Jami’ah Asiawiyah di Paris, Jamiah al-Malakiyah al-Asiawiyah di Ingris, Jami’ah Asyarqiyah al-Amirikiyah dan Jami’ah Asyarqiyah Jerman.

Kemudian kegiatan yang dilakukan dengan menerbitkan majalahdan media komunikasi lainnya. Sepanjang sejarah, orientalisme mempunyai program dan kegiatan-kegiatan yang beraneka ragam. Adapun program-program tersebut direalisaikan dengan kegiatan: pengajaran di perguruan tinggi, mengumpulkan manuskrip Arab dan fahrasnya (indeks), koreksi dan penerbitan, penterjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Eropa, menyusun berbagai macam studi bahasa Arab dan Islam.

Misi keagamaan bagi orientalisme sudah ada sejak semula dalam tiga siap yang mereka tempuh. Yaitu: pertama, menyerang islam dan mencari titk kelemahannya, menyakinkan orang lain bahwa agama Islam adalah agama yang diambil dari agama Nasrani dan Yahudi. Kedua, memelihara penganut Nashrani dari bahay Islam dengan cara menutupi kkebenaran (Islam). Ketiga, Misi Zending dan pengkristenan orang-orang Islam.

Sumber : Mahmud Hamdy Zaqzuq, Orientalisme & Latar Belakang Pemikirannya, 1984

3. Landasan Epistimologi
Mempermasalahkan kemungkinan mendasar mengenai pengetahuan (very possibility of knowledge). Dalam perkembangannya epistemologi menampakkan jarak yang asasi antara rasionalisme dan empirisme, walaupun sebenarnya terdapat kecenderungan beriringan. Landasan epistemologi tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan dengan berdasarkan:
1. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
2. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara faktual.
Sumber : Mohammad Adib, Filsafat ilmu : ontologi, epistemologi, aksiologi dan logika ilmu pengetahuan, 2015

4. Bibliografi Orientalis
Tokoh Orientalis, Ignaz Goldziher dilahirkan dari keluarga Yahudi pada tanggal 22 Juni 1850 di Székesfehérvar, Hongaria. Sejak kecil, ia sudah mendapatkan pendidikan yang bermutu tinggi. Terbukti pada saat berumur lima tahun ia telah mampu membaca Perjanjian Lama yang berbahasa Ibrani.

Kemudian dilanjutkan dengan mempelajari Talmud pada saat berusia delapan tahun. Dalam usianya yang ke dua belas, ia seorang siswa sekolah yang telah memulai membuat karya tulisnya yang pertama tentang nenek moyang Yahudi serta pengelompokannya.

Saat berusia enam belas tahun, Universitas Budapest menjadi pilihannya setelah ia lulus dari sekolah, untuk mempelajari bahasa sastra Yunani dan Romawi kuno, bahasa-bahasa Asia, temasuk bahasa Turki dan Persia.

Kecerdasan yang ia miliki telah mengantarkannya menjadi kandidiat doktoral pada usianya yang ke-19 di universitas Leipzig dan Berlin dengan beasiswa penuh dari Departement Pendidikan Hongaria pada tahun 1870. Setelah berhasil meraih gelar doktor, ia melakukan rihlah ‘ilmiyyah ke Leiden, Belanda dan tinggal selama enam bulan.

Di dalam buku catatannya, Ignaz menghabiskan waktu enam bulan di Leiden untuk memfokuskan diri mempelajari Islam sehingga menjadikan Leiden sebagai sekolah kajian Islam terbesar dan terkenal di Eropa. Pada tahun 1872, ia berhasil meraih ijazah keguruan dari Universitas Budapest.

Di universitas ini, dia menekankan kajian peradaban Arab. Petualangan ilmiah Golziher belum selesai sampai di sini, pada bulan September 1873 hingga April 1874, Syria, Palestina dan Mesir menjadi sasaran selanjutnya.

Di sana ia merupakan orang non muslim pertama yang mendapatkan izin untuk menjadi murid di mesjid Universitas al-Azhar. Ia mencatat semua aktivitasnya di sana, sosialisasinya dengan kaum muslimin, dan perasaan simpati mendalamnya kepada Islam.

Pendapat Goldziher tentang islam, bahwa dengan karakter Islam yang terbuka maka Islam dikenal pada masa kelahirannya. Pendirinya, Muhammad, tidaklah memperkenalkan ide-ide baru dan Ia tidak memperkaya konsepsi-konsepsi terdahulu tentang hubungan manusia dengan yang transendental dan maha kuasa.

Namun, satu pun tak ada yang mengurangi nilai relatif prestasi keagamaannya. Apabila sejarawan peradaban menilai dampak suatu fenomena sejarah, masalah orisinilitas tidak menunutut perhatian utama.

Dalam evaluasi historis terhadap karya Muhammad, pokok persoalannya bukanlah apa isi wahyunya merupakan ciptaan jiwanya yang benar-benar asli dan mutlaq memberikan petunjuk jalan. Perintah Rasul Arab ini merupakan suatu campuran ide-ide dan peraturan-peraturan agama yang terpilih.

Ide-ide itu memberikan sugesti kepadanya melalui kontak, yang telah sangat mempengaruhinya dengan unsur-unsur Yahudi, Kristen, dan unsur-unsur lainnya, dan baginya semua itu agaknya dianggap tepat untuk menggugah rasa keagamaan yang sungguh-sungguh di kalangan bangsa Arab sesamanya.

Peraturan-peraturan pun diambilnya dari sumber-sumber asing; ia melihatnya sebagai peraturan-peraturan yang diperlukan untuk membangun kehidupan yang sejalan dengan kehendak Allah.

Pemikiran-pemikiran yang begitu menggugah hati sanubarinya ditangkapnya sebagai wahyu Ilahi, dan dalam hal ini dirinya sendiri merupakan sebuah sarana, Impresi-impresi dan pengalaman-pengalaman ekstren meneguhkan keyakinannya yang bersungguh-sungguh ini.

Karya-karya tulisannya yang membahas masalah keislaman banyak dipublikasikan dalam bahasa Jerman, Inggris dan Prancis. Bahkan sebagian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Satu hal yang paling berpengaruh dari berbagai karya-karya tulisannya adalah buku yang berjudul: Muhammadanische Studien, di mana ia menjadi sumber rujukan utama dalam penelitian hadis di Barat. Golziher telah banyak menghasilkan banyak karya dalam berbagai bidang, baik akidah, fikih, tafsir, hadis, maupun sastra. Hasil karya kreatifnya diantaranya :
1. Muhammadanische Studien diterbitkan tahun 1890.
2. Vorlesungen über den Islam (Introduction to Islamic Theology and Law)
3. Muslim Studies
4. Die Richtungen der Islamischen Koranauslegung yang diterjemahkan dalam bahasa Arab menjadi Madzahibu al-Tafsir al-Islami (1955)5. Methology Among The Hebrews And Its Historical Development
6. On The History of Grammar Among The Arabs
7. Zahiris : Their Doctrine and Their History, a Contribution diterbitkan pada tahun 1884.
8. Short History of Classical Arabic Literature
9. Le Dogme et Les Lois de L’Islam (The Principle of Law is Islam)
10. Etudes Sur La Tradition Islamiqu

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button