
*Oleh: Nurul Syafikah
DI TENGAH perkembangan zaman yang semakin canggih, kecepatan akses informasi tentu sudah tidak dapat diragukan lagi. Generasi muda menjadi tonggak utama dalam menggerakkan kecanggihan tersebut melalui kecakapannya di dunia digital, baik dalam menerima maupun menyebarkan informasi.
Dengan kondisi ini, akses generasi muda terhadap berbagai isu politik nasional sebenarnya terbuka sangat luas. Namun realitanya, partisipasi dan suara generasi muda dalam ranah politik masih tergolong rendah dibandingkan dengan mereka yang memilih bersikap tidak peduli. Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan, mengapa generasi muda cenderung apatis terhadap isu-isu politik yang tengah terjadi?
Berdasarkan data dari Kompas.id, mayoritas generasi muda Indonesia merupakan pengguna aktif media sosial dengan persentase mencapai sekitar 60%. Namun, tingginya angka tersebut tidak sejalan dengan keterlibatan mereka dalam dunia politik. Data lain menunjukkan bahwa tingkat partisipasi politik generasi muda, terutama dalam ruang diskusi kebijakan publik, masih berada di angka 1,1%.
Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara tingginya akses informasi dengan rendahnya keterlibatan generasi muda dalam merespons isu-isu politik nasional. Hal ini dapat terjadi karena generasi muda memiliki anggapan bahwa dunia politik dipenuhi dengan konflik. Berita-berita mengenai perkembangan politik kerap terasa jauh dari kepentingan masyarakat dan sulit dipahami kaitannya dalam kehidupan sehari-hari.
Para wakil rakyat yang seharusnya memihak penuh kepada masyarakat, malah bertindak sebaliknya. Perubahan kebijakan, seperti revisi undang-undang, hingga kinerja pejabat publik yang dinilai belum optimal, semakin memperkuat rasa jenuh dan kekecewaan. Serangkaian kondisi tersebut membuat sebagian generasi muda memilih untuk menjaga jarak dan menutup diri dari isu-isu politik yang terus bermunculan.
Kondisi ini tidak terlepas dari sistem politik saat ini yang terkesan belum terbuka sepenuhnya bagi generasi muda untuk terlibat secara penuh. Partisipasi anak muda dalam dunia politik sering kali hanya dianggap sebagai simbol semata, sekadar menunjukkan bahwa generasi muda turut dilibatkan dalam proses politik.
Namun, pada kenyataannya, keterlibatan tersebut belum diiringi dengan peran nyata dalam pengambilan keputusan. Generasi muda diberi kesempatan untuk bersuara, tetapi keputusan-keputusan strategis tetap didominasi oleh elit politik dan kerap kali tidak mempertimbangkan suara mereka.
Akibatnya, generasi muda sering kali hanya dijadikan pelengkap legitimasi tanpa memiliki pengaruh yang signifikan, sehingga menimbulkan perasaan sia-sia untuk terlibat lebih jauh dalam dunia politik.
Selain faktor eksternal yang berasal dari sistem politik, permasalahan internal yang dihadapi generasi muda juga menjadi salah satu alasan kuat mengapa mereka memilih untuk bersikap apatis terhadap perkembangan politik nasional.
Permasalahan ekonomi, banyaknya tekanan dalam pekerjaan, serta tuntutan untuk bertahan hidup di tengah kondisi yang tidak menentu membuat generasi muda lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan pribadinya.
Di sisi lain, konflik dalam diri, kelelahan mental, dan rasa tidak memiliki kendali atas keadaan juga mendorong generasi muda untuk mengesampingkan persoalan politik yang dianggap tidak memberikan dampak langsung terhadap kehidupan mereka.
Dalam kondisi yang seperti ini, keterlibatan dalam dunia politik sering kali dipandang sebagai beban tambahan, bukan sebagai ruang untuk memperjuangkan perubahan. Sikap apatis generasi muda terhadap perkembangan politik bukanlah perkara yang dapat diabaikan begitu saja.
Ketika sebagian besar dari mereka memilih untuk menarik diri dan tidak peduli terhadap jalannya proses politik, ruang pengawasan terhadap pemerintahan menjadi semakin lemah. Hal ini membuka peluang bagi elit politik untuk terus mengambil keputusan tanpa adanya kontrol yang kuat dari masyarakat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, kebijakan yang dihasilkan berpotensi semakin jauh dari kepentingan publik dan hanya akan menguntungkan segelintir pihak yang berkuasa.
Di sisi lain, generasi muda yang seharusnya memiliki peran penting dalam menentukan arah kebijakan, justru tidak memiliki ruang yang memadai untuk memengaruhi keputusan politik.
Oleh karena itu, sikap apatis yang ada pada generasi muda terhadap perkembangan politik tidak dapat dilihat semata-mata sebagai kesalahan mereka saja, melainkan juga karena sistem politik yang belum sepenuhnya membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung.
Meskipun demikian, generasi muda tetap memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Kesadaran politik, sekecil apa pun bentuknya, merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa kebijakan negara tidak hanya ditentukan oleh segelintir pihak yang berkuasa. Dengan keterlibatan yang lebih kritis dan berkelanjutan, generasi muda dapat menjadi kekuatan penyeimbang agar proses politik berjalan lebih adil dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas. []
*Nurul Syafikah merupakan mahasiswi Ilmu Administrasi Negara pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan (FISIP) UIN Ar-Raniry.






