NewsOpini

Pentingnya Peran Keluarga untuk Penderita TB MDR

Oleh: dr. Nurlina, M.K.M
Penulis merupakan Dokter Umum Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh

SAAT ini angka kejadian penyakit paru di masyarakat terus meningkat dan penularannya sangat cepat yaitu melalui pernapasan. Hal ini meningkatkan kepedulian kita terhadap kesehatan, khususnya kesehatan paru. Salah satu penyakit paru dengan angka insidens yang tinggi yaitu Tuberkulosis atau yang lebih dikenal dengan TB. Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan menyebabkan TB paru, namun bakteri ini juga memilki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya (TB ekstra paru) seperti, kelenjar limfe, tulang, dan organ lainnya.

World Health Organization (WHO) mencanangkan strategi ‘End Tuberculosis’, yang merupakan bagian dari Sustainable Development Goals, dengan satu tujuan yaitu untuk mengakhiri epidemi tuberkulosis di seluruh dunia. Secara umum disebutkan jumlah kasus baru (insidens) TB di dunia meningkat dibandingkan pada tahun sebelumnya. Berdasakan Global TB Report 2022, Indonesia penyumbang kasus tuberkulosis kedua terbanyak di dunia. Hal ini merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia dan memerlukan perhatian dari semua pihak, karena memberikan beban morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Tuberkulosis merupakan penyebab kematian tertinggi setelah penyakit jantung iskemik dan penyakit serebrovaskuler.

Masalah kesehatan yang lebih lanjut diperparah dengan beberapa tahun terakhir akibat meningkatnya Multidrug Resistant Tuberculosis (TB MDR) yaitu penyakit TB yang resisten terhadap OAT (Obat Anti Tuberculosis) di mana TB MDR ini resisten terhadap dua obat anti tuberkulosis yang paling ampuh yaitu rifampicin dan isoniazid.

Seseorang diduga menderita TB MDR yaitu pada penderita TB yang gagal pengobatan, kuman TB masih positif setelah tiga bulan pengobatan, penderita TB yang kembali berobat setelah lalai berobat (loss to follow-up), penderita TB dengan HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang tidak menunjukkan respons terhadap pengobatan TB.

TB MDR membutuhkan pengobatan jangka panjang untuk mencapai kesembuhan. Maka dibutuhkan peran petugas kesehatan khususnya sebagai Pengawas Minum Obat (PMO) agar penderita lebih disiplin dalam mengonsumsi obat untuk mencapai kesembuhan.

Pengobatan TB MDR lebih lama dari pengobatan TB pada umumnya dan penanganannya lebih sulit dari pengobatan TB yang masih sensitif. Namun, TB MDR ini dapat disembuhkan. Angka keberhasilan pengobatan tergantung kepada seberapa cepat kasus TB MDR ini teridentifikasi dan ketersediaan obat yang efektif.

Jangka pengobatan TB MDR lebih panjang dengan biaya yang lebih mahal dan efek samping yang lebih berat, sehingga membuat sebagian pelayanan kesehatan tidak menyediakan pengobatan tersebut. Berdasarkan Programmatic Management of Drug Resistance Tuberculosis, insidens TB MDR yang tinggi sebagian besar disebabkan oleh rendahnya angka keberhasilan pengobatan TB terutama di fasilitas pelayanan kesehatan rumah sakit, klinik, dan praktik swasta.

Menindaklanjuti permasalahan tersebut, pemerintah membentuk tim Manajemen Terpadu Penanggulangan Tuberkulosis Resisten Obat (MTPTRO) yang merupakan bagian integral program pengendalian TB nasional. Dengan tujuan agar seluruh pasien TB MDR dapat mengakses penatalaksanaan TB MDR yang terstandar dan cepat, mengurangi angka kesakitan, serta memutuskan rantai penularan TB MDR (Kementrian Kesehatan RI, 2014). MTPTRO adalah untuk menganalisis relevansi, efisiensi, efektivitas, dampak dan keberlanjutan penerapan program.

Kejadian TB MDR dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko antar lain, riwayat pengobatan, ketidakpatuhan pengobatan, usia, jenis kelamin, efek samping OAT, tidak ada pengawasan selama pengobatan, pengetahuan pasien tentang penyakit TB MDR dan pengobatannya.

Rumah sakit dan beberapa puskesmas yang sudah mendapatkan pelatihan khusus TB MDR yang boleh memberikan pelayanan pengobatan pada pasien TB MDR. Pasien TB MDR harus datang ke tempat pelayanan yang ditunjuk setiap hari untuk mendapatkan obat. Pasien harus menelan obat tersebut di depan petugas kesehatan agar petugas dapat memastikan kepatuhan minum obat pasien.

Efek samping pada pengobatan TB MDR sangat penting untuk dilakukan pemantauan, karena pada pengobatan TB MDR memiliki efek samping lebih banyak dari pengobatan TB yang masih sensitif.

Beberapa efek samping dari pengobatan TB MDR yang dialami pasien adalah mual, muntah, nyeri sendi, gangguan psikiatri, gangguan pendengaran, gangguan tidur, diare, derajat efek samping (berat dan ringan). Respon terhadap masing-masing individu tidak dapat diprediksi, tetapi pengobatan tidak boleh dihentikan karena ketakutan terhadap efeksamping obat yang ditimbulkan.

Semua obat yang digunakan mempunyai kemungkinan efek samping dari yang ringan hingga yang berat. Sebelum pasien memulai pengobatan TB MDR petugas kesehatan penting menjelaskan tentang efek samping obat. Agar pasien memahami dan tidak menghentikan pengobatan sendiri akibat efek samping yang dirasakan.

Dalam suatu penelitian menyebutkan aspek yang paling penting dalam sistem pelayanan adalah peran petugas yang siap melayani, petugas yang menghormati pasien, memberikan informasi bahwa TB dapat disembuhkan, bantuan transformasi aspek yang paling penting dan ketersediaan obat.

Petugas kesehatan perlu memberikan penyuluhan kepada pasien khususnya untuk pemahaman dan pengetahuan tentang tuberkulosis dan proses pengobatan yang akan dijalani oleh pasiennya, sehingga dengan pengetahuan yang baik, pasien teratur menjalani pengobatan.

Khusus pengobatan TB MDR peran PMO mengingatkan penderita lebih disiplin dalam mengonsumsi obat untuk mencapai kesembuhan. Dan memberikan motivasi minum obat dengan memberikan edukasi serta memantau efek samping selama menjalani pengobatan untuk konsistensi pasien dalam menjalani pengobatan untuk mencapai kesembuhan dan mengurangi penularan.

Dalam pengobatan TB MDR ini selain peran petugas kesehatan, juga sangat diperlukan adanya dukungan dari keluarga dalam menjalani pengobatan, karena dengan memberikan pendampingan dan dukungan positif akan meningkatkan harapan dan kualitas hidup pasien. Dukungan keluarga sangat dibutuhkan sebagai sistem pendukung utama dapat mengembangkan respons baik. Respons ini sangat efektif untuk beradaptasi dalam menangani stresor yang dihadapi terkait penyakitnya baik fisik, psikologis maupun sosial. Beberapa pendapat mengatakan kedekatan hubungan yaitu keluarga merupakan sumber dukungan sosial yang paling penting khususnya bagi pasien dalam menjalani pengobatan.

Dukungan keluarga sangat berperan dalam rangka meningkatkan kepatuhan minum obat. Keluarga adalah unit terdekat dengan pasien dan merupakan motivator terbesar dalam perilaku berobat pederita TB MDR. Adanya perhatian dan dukungan keluarga dalam mengawasi dan mengingatkan penderita serta mendampingi pasien dalam menghadapi efek samping yang ditimbulkan selama pengobatan dapat memperbaiki derajat kepatuhan penderita.

Ada beberapa faktor yang paling berpengaruh terhadap pengendalian TB MDR adalah kepatuhan minum obat. Kepatuhan minum obat adalah mengonsumsi obat yang diresepkan dokter pada waktu dan dosis yang tepat untuk pengobatan yang efektif. Faktor yang mempengaruhi prilaku kepatuhan pasien dalam minum obat adalah pengetahuannya, sikap dan dukungan keluarga yang sangat berpengaruh dalam meningkatnya kepatuhan pasien TB MDR dalam menjalani pengobatannya. Maka dari itu sangat penting bagi keluarga untuk memberikan pendampingan khusus bagi pasien TB MDR untuk mencapai derajat kesembuhannya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button