Kampus

[Jurnal] Kemajuan Peradaban pada Masa Mongol Islam

KEMAJUAN PERADABAN PADA MASA MONGOL ISLAM
Disusun oleh :
Avicenna Al Maududdy
Magister Sejarah Peradaban Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang masalah

Bangsa Mongol merupakan bangsa yang yang berhasil meruntuhkan Baghdad di bawah kepemimpinan Hulagu Khan. Tentara Mongol mengepung Kota Baghdad selama dua bulan, setelah perundingan damai gagal, akhirnya khalifah menyerah dan Baghdad jatuh ke tangan bangsa Mongol. Kejatuhan Baghdad, Islam memasuki periode transisi, selama tiga tahun tidak ada khalifah dalam pemerintahan Islam. Pada masa transisi ini muncul Dinasti-Dinasti Mongol Islam di Asia Tengah dan sekitarnya. Kekuatan Muslim berhasil menanamkan ajaran tauhid di kalangan bangsa Mongol, sehingga bangsa yang awalnya menjadi salah satu penyebab kehancuran Peradaban Islam, kemudian membangkitkan kembali peradaban Islam yang telah dihancurkan.

Keturunan-keturunan Chengis Khan menjadi pemeluk Agama Islam dan memberikan sumbangan dalam kemajuan Islam dalam beberapa aspek. Keturunan Chengis Khan mendirikan dinasti-dinasti Islam seperti Dinasti Chaghtai, Dinasti Golden Horde, dan Dinasti Ilkhan yang membawa peradaban Islam kembali berkembang setelah sebelumnya dihancurkan oleh bangsa Mongol. Jurnal ini akan membahas tentang bagaimana Islam menyebar di kalangan bangsa Mongol dan kemajuan-kemajuan peradaban Islam yang dicapai pada masa Mongol Islam.

  1. Rumusan masalah
  2. Bagaimana awal mula bangsa Mongol menerima Islam?
  3. Apa saja kemajuan Peradaban Islam pada masa Mongol?

 

BAB II

AWAL MULA HUBUNGAN MONGOL DAN ISLAM

  1. Sejarah Bangsa Mongol

Awal mula Mongol dalam catatan sejarah dimulai akhir abad ke-12 dan awal abad ke-13 M. Pada mulanya bangsa Mongol adalah suatu masyarakat yang mendiami hutan Siberia dan Mongolia Luar di antara Gurun Gobi dan Danau Baikal. Mereka berasal dari daerah pegununngan Mongolia yang membentang dari Asia Tengah sampai Siberia Utara, Tibet Selatan, Mancuria Barat, dan Turkistan Timur. Mereka adalah salah satu anak rumpun dari bangsa Tartar. Bangsa Mongol bukan merupakan ras yang sama dengan bangsa China. Mereka keturunan dari Tungusi Stok asli, dengan campuran kuat darah Persia dan Turki, sebuah ras yang sekarang disebut Ural-Altik.[1]

Bangsa Mongol seperti bangsa nomad lainnya, hidup dalam pengembaraan dan tinggal di perkemahan. Mereka hidup sederhana dengan berburu binatang, menggembala domba, dan memakai kulit binatang untuk menutupi aurat. Budaya perampokan sudah menjadi perilaku umum bagi mereka. Sebagian kecil mereka menganut cabang Nestorian dan Samaniah. Pada umumnya orang-orang Mongol menyembah matahari, memakan daging semua binatang, juga daging sesama manusia. Halal atau haram dan benar atau salah tidak menjadi persoalan bagi mereka. mereka hidup dalam keadaan kotor dan tidak bersih. Bangsa Mongol memang dikenal tidak beradab, namun mereka merupakan bangsa yang pemberani, sabar, ahli perang dan tahan terhadap penderitaan serta mampu menghadapi tekanan dari musuh. Mereka adalah bangsa pejuang dengan fisik yang kuat. Mereka sangat patuh kepada pemimpin atau kepalasuk. Kondisi geografis yang menyebabkan sifat mereka bercampur antar baik dan buruk.[2]

Kemajuan bangsa Mongol secara besar-besaran terjadi pada masa kepemimpinan Yasugi Bahadur Khan. Ia berhasil menyatukan 13 kelompok suku yang ada pada waktu itu. Setelah Yasugi meninggal, putranya, Temuchin[3] yang masih berusia 13 tahun tampil sebagai pemimpin. Dalam waktu 30 tahun, ia berusaha memperkuat angkatan perangnya dengan menyatukan bangsa Mongol dan suku bangsa lain, sehingga menjadi satu pasukan teratur dan tangguh. Ia menetapkan suatu undang-undang yang disebut Alyasak atau Alyasah, untuk mengatur kehidupan rakyatnya. Wanita mempunyai kewajiban yang sama dengan laki-laki dalam kemiliteran. Pasukan perang dibagi dalam beberapa kelompok besar dan kecil, seribu, dua ratus, dan sepuluh orang. Tiap-tiap kelompok dipimpin oleh seorang komandan. Dengan demikian bangsa Mongol mengalami kemajuan pesat di bidang militer.[4] Bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Temuchin berhasil menganeksasi daerah-daerah di Asia dan Eropa di antaranya; China, Turkistan, sebagian India, Persia, Asia Minor, dan Eropa Timur.[5]

  1. Bangsa Mongol dan Dunia Islam

Kejeniusan Chengis dan keberanian orang-orang yang loyal padanya menjadikan dominasi kekuasaannya meluas secara cepat ke seluruh Mongolia dan daerah-daerah tetangganya, sehingga wilayah kekuasaannya terlihat di perbatasan kerajaan Iran, dan Khawarizam di Asia Tengah, yang luasnya meliputi Persia hingga Transoxiana. Karena kekagumannya akan kekuatan militer dan majunya kebudayaan bangsa Iran, maka Chengis mengirimkan para utusan kepada Sultan Alauddin Muhammad Shah, raja Khawarizam, untuk satu tujuan dan lainnya. Di sinilah sejarah hubungan bangsa Mongol dan umat Islam bermula hingga nantinya berakhir pada kehancuran kerajaan-kerajaan Islam di Asia Barat.[6]

Invasi Mongol memperkuat hubungan Iran dan Asia Tengah. Pada abad ke-13 masyarakat Mongol non Muslim mendirikan pemerintahan mereka di seluruh wilayah Asia Tengah, sebagian besar wilayah Timur Tengah dan Cina. Penaklukan bangsa Mongol secara cepat memperluas wilayah Asia Tengah dalam berhubungan dengan Timur Tengah mengantarkan daerah-daerah padang rumput di sebelah utara Laut Hitam, Laut Caspia, dan Laut Aral ke dalam hubungan dengan masyarakat Muslim di Transoxania dan Iran, dan melalui penyatuan Transoxania Muslim dengan wilayah timur Asia Tengah dan Cina.[7]

Sepeninggal Chengis Khan, daerah kekuasaannya yang begitu luas dibagi kepada empat anaknya; Jochi, Chaghtai, Oghtai, dan Tuli. Ia menunjuk anak ketiganya, yaitu Oghtai, sabagai Khan Agung. Cucu Chengis Khan, anak tuli, yang bernama Hulagu Khan mendirikan Dinasti Ilkhan di Persia dan sekitarnya. Putranya yang lain, bernama Chaghtai (1227-1241), mendirikan Dinasti Chaghtai dan menempati wilayah Transoxiana dan sekitarnya. Keturunan Chengis Khan, Takinah dari garis Chagtai, Timur Lang, melanjutkan Dinasti Chaghtai dengan nama Dinasti Timuriah. Sementara itu, putra pertama Chengis Khan, yaitu Jochi, berhasil menaklukan lembah Sungai Volga dan Siberia yang dipimpin putranya, Batu. Batu inilah yang merintis Dinas Kipcak yang kemudian terkenal dengan nama Golden Horde. Kemudian hari mereka masuk Islam dan berhasil menaklukan Rusia, Polandia, dan sekitarnya. Keturunan Chengis tersebut akhirnya menyumbang kemajuan Islam yang telah dirusak oleh Chengis Khan dan keturunannya, lebih-lebih cucunya, Hulagu Khan.[8]

 

BAB III

KEMAJUAN ISLAM PADA MASA MONGOL

  1. Dinasti Ilkhan (1256-1363 M)

Dinasti Ilkhan didirkan oleh Hulagu Khan. Kondisi kehidupan keberagamaan pada masa Hulagu sangat toleran, akan tetapi kemajuan Islam di antara bangsa Mongol sangat lamban dibanding agama Kristen dan Buddha. Anak hulagu Khan yang bernama Tagudar memiliki ketertarikan terhadap Islam. Sejak kecil ia telah dididik sebagai orang Kristen, tapi, ketika beranjak dewasa, ia lebih sering bergaul dengan orang Arab Muslim dan sangat mencintai mereka hingga akhirnya ia melepaskan agama lamanya dan kemudian menjadi seorang muslim.[9]

Penguasa ke-8 dinasti ini yang bernama Ghazan Khan, berhasil membawa dinasti ini ke puncak kejayaan. Sebelum masuk Islam, ia telah dididik sebagai seorang buddha dan selama menjabat sebagai gubernur di Khurasan, ia banyak membangun kuil-kuil Buddha dan dengan terbuka mempersilahkan para biksu datang ke Persia. Proses masuknya Ghazan dalam Islam, berkat jasa Panglima Jenderal Nawroz yang membantu perjuangan Ghazan melawan sepupunya yang bernama Baydu. Ghazan berjanji kepada Nawroz, jika ia memenangkan pertempuran melawan Baydu, ia akan menerima agama Islam, dan janji itu pun ia penuhi.[10]

Ghazan melakukan beberapa perubahan terhadap kalangan Mongol, salah satunya dalam bidang ekonomi. Sebelum Ghazan Khan tidak ada perincian tentang pemasukan dan pengeluaran keuangan negara. Ghazan Khan mengenalkan dengan baik tentang pengaturan keuangan negara. Hasil dari langkah tersebut adalah kemakmuran negara dapat diperbaiki dan kondisi keuangan semua provinsi pada saat itu mengalir lebih deras daripada pengeluaran kerajaan. Dua atau tiga kali tiap tahunnya pajak pendapatan masuk ke dalam perbendaharaan negara tanpa tertunda. Perbendaharaan tidak pernah kosong meskipun Ghazan Khan banyak memberikan hadiah-hadiah yang lebih besar daripada yang diberikan oleh penguasa sebelumnya kepada pasukan dan para amir tiap tahunnya.[11]

Di samping memeperbarui ekonomi, ia memberi sanksi terhadap pegawai yang melakukan KKN dan mengutamakan perbaikan moral. Untuk mengatasi keterpurukan, Ghazan Khan tidak segan-segan menerapkan hukuman gantung dan keluarganya pun tidak luput dari aturan tersebut. Ghazan Khan dengan tegas juga melarang peminjaman uang yang disertai dengan bunga karena sebelum kepemimpinannya praktik ini diiziinkan dan mengakibatkan kesengsaraan bagi rakyat kecil. Dalam bidang pertanian Ghazan Khan mengirim banyak utusan ke Cina dan India untuk mengumpulkan bibit-bibit lokal dan membawanya kembali ke Tabriz, tempat potongan-potongan tunas buah, biji jenis baru, dan jamu jamu ditanam. Produksi beras mengalami surplus dan menjadi negara pengekspo pertama dalam sejarah bangsa Mongol. Ghazan Khan menghidupkan kembali roda pertanian setelah sebelumnya macet total dan para petani tidak menggarap sawahnya karena pajak tinggi, Ghazan Khan membebaskan berbagai pajak atau menguranginya terutama bagi petani yang mengalami kerugian.[12]

Setelah Ghazan Khan wafat pada tahun 1304 M, ia digantikan oleh sadaranya Uljaytu yang kemudian berganti nama menjadi Muhammad Khuda Bandah setelah masuk Islalm. Pada masa periode pemerintahannya terjadi penaklukan Gilan akibat serangan orang Mongol Chaghtai terhadap Khurasan. Setelah Khuda wafat, ia digantikan oleh Abu Sa’id yang masih berusia 12 tahun. Karena usia yang masih muda, ia terpaksa menggantungkan diri kepada seorang bernama Amir Cupan, sehingga Cupan menjadi penguasa secara defacto. Mulailah Cupan berkuasa sewenang-wenang dan lalim terhadap rakyat. Kekuasaan semena-mena dan kelaliman Amir Cupan menyebabkan tentara Ilkhan Berontak. Hal tersebut melemahkan sendi-sendi kekuatan Dinasti Ilkhan, sehingga menyebabkan keruntuhan Dinasti ini.[13]

  1. Dinasti Chaghtai (1227-1369 M)

          Sepeninggal Chengis Khan, Chaghtai yang kemudian berkuasa di Transoxiana. Ia sangat taat kepada Undang-Undng Mongol dan hormat kepada sistem yang dibangun Chengis Khan. Chaghtai sangat membnci aturan Islam dan memusuhi umat Islam. Setelah Chaghtai meninggal dinasti ini dikendalikan oleh keturunannya yang hampir semuanya muslim. Setelah Chaghtai, cucunya Kara Hulegu diangkat menjadi penguasa Dinasti Chaghtai. Namun kemudian ia meninggal dunia dan istrinya Orghana yang menjalankan tugas sebagai penguasa sementara. Setelah Orghana, putranya, Mubarak Shah, menjadi penguasa Muslim pertama yang memerintah dinasti ini. Mubarak Shah merupakan penguasa Mongol pertama yang memakai nama Islam.[14]

Di antara tahun 1334 dan 1369, 17 orang penguasa berturut-turut berkuasa di Tran soxiana dan semuanya sangat lemah, tidak mampu memulihkan situasi di sana. Kondisi serba tidak menentu dengan konfilk dalam istana, konfilk sesama bangsa Mongol, kedengkian, dan haus kekuasaan menyebabkan pertumpahan darah yang luar biasa membawa dinasti ini apda gerbang kehancuran. Saat itulah muncul Timur Lang yang menguasai politik Dinasti Chaghtai.[15] Ia mengumpulkan ahli hukum, astronom, sosiolog, sejarawan, dokter, dan budayawan di istananya. Dia juga membangun banyak istana dan masjid serta gedung-gedung yang indah. Timur Lang juga membangun selokan sebagai sarana irigasi.[16]

Timur Lang adalah seorang penguasa yang mencintai dan memperhatikan rakyat. Demi kesejahteraan mereka, ia membangun banyak masjid, rumah sakit, dan sekolah. Ia memperharikan secara khusus kesejahteraan para petani dan fasilitas-fasilitas para pedagang. Pada masanya para pedagang dari mancanegara maupun domestik sangat ramai. Melalui sungai Amu Daria, Efrat, Tigris, Sind, dan sebagainya komoditi-komoditi dari Arab bahkan dari Afrika dan Eropa disuplai ke Samarkand dan Tabriz. Timur Lang sangat menghormati ilmuwan dan pujangga. Ilmuan-ilmuan dari negeri yang ditaklukannya sangat dihargai dan mereka diberi berbagai jabatan sebagi penghargaan.[17]

Setelah Timur Lang meninggal anak keempatnya yang bernama Shahrukh naik tahta. Ia membangun akademi untuk penelitian dan pengajaran ilmu pengetahuan terutama sains, kesenian, sastra, musik, dan sebagainya. Banyak budayawan berkumpul di istananya. Pada masanya komoditi karpet diukir dengan berbagai motif yang indah sangat terkenal dan dikagumi para pedagang mancanegara. Setelah Shahrukh wafat, naiklah putranya, Ulugh Beg. Ia mengikuti jejak ayahnya dengan membangun observatorium. Pada periode ini mencapai keemasannya pada bidang seni dan budaya.[18]

Sepeninggal Timur Lang daerah kekuasaan yang demikian luas menjadi menyempit. Selama satu abad berikutnya wilayah kekuasaanya hanya sampai batas wilayah Persia saja, dikarenakan hampir semua penggantinya lebih berfokus kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan budaya, namun kebanyakan mereka sangat lemah dalam urusan negara, hanya Shahrukh yang agak menonjol dalam administrasi pemerintahan. Penguasa terakhir, Husen baykara, meskipun agak menonjol dan dapat mengembalikan kejayaan, namun wilayah kekuasaannya ini kemudian hanya bertahan di daerah Afghanistan dengan ibu kota Herat dan sekitarnya saja. Pada akhirnya ia tidak mampu membendung arus kekuatan Safawiyah.[19]

  1. Dinasti Golden Horde (12561502)

          Dalam Sejarah Mongol kemunculan Dinasti Golden Horde (Dinasti Kipcak) sangat menarik karena anak cabang Dinasti Mongol ini yang paling lama berkuasa dan membawa kejayaan dalam perdagangan di Asia dan Eropa. Semasa Khan agung Oghtai, putra Chengis Khan, terjadi penaklukan besar-besaran terhadap lembah Sungai Volga dan Serbia. Penaklukan ini dipimpin oleh Batu, anak mendiang Jochi (putra Chengis). Batu lah yang kemudian merintis Dinasti Kipcak. Pada masa saudara Batu, yaitu Berke, dinasti ini berubah menajadi Dinasti Golden Horde. Kemunculan Golden Horde dari asal kata Sira Wardu, yang artinya ‘kemah emas’. Para penguasa Golden Horde dalam pertemuan perdana dengan ribuan rakyat, terutama yang Muslim, duduk di paviliun yang berwarna emas yang terkenal dengan The Golden Pavilion.[20]

Jochi wafat dalam usia yang relatif muda. Jochi mempunyai negara dominan yang diberikan oleh Chengis. Kemudian negara tersebut diberikan kepada dua orang putranya Orda dan Batu. Batu meneruskan perjuangannya dan berkampanye di Eropa Timur. Batu meninggal pada tahun 1256 M. Sartak, putra Batu berada di Karakuram. Mendengar berita kematian ayahnya, Sartak menuju Sarai, Ibu kota Dinasti Golden Horde. Namun dalam perjalanan ia wafat. Sehingga saudaranya Batu, Berke Khan, menjadi penggantinya. Berke secara terang-terangan menyatakan masuk Islam. Keterbukaannya dalam mengakui dirinya sebagai penganut Islam membuat banyak orang dan rakyat berbondong-bondong mengikuti jejaknya, yaitu masuk agama Islam.[21]

Berke seorang politikus ulung, terutama saat adanya ancaman dari Mongol cabang lain. Ia mengadakan persahabatan dengan Dinasti Mamluk. Ia mendirikan Sarai baru dan membangun negeri itu dengan indah. Berke menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara dan banyak membangun madrasah, masjid, dan monumen-monumen yang indah.[22] Setelah Berke wafat, penguasa Golden Horde adalah Mongke Timur (1267-1280, Tuda Mongke (1280-1287), Tulabugha (1287-1290), Tukht (1290-1313). Selanjutnya Uzbek Khan naik tahta. Periode ini menjadi masa kejayaan Golden Horde. Banyak masjid dan sekolah didirikan, perdagangan juga maju pesat. Pada periode Uzbeg Khan ini Golden Horde menjadi negara  Islam yang sempurna. Semua peraturan negara menggunakan syariat Islam. Meskipun ia seorang Muslim sejati, namun ia juga seorang pluralis yang menhormati agama lain.[23]

Setelah Uzbeg, Jani Beg naik tahta sebagai penguasa yang kuat. Ia menguasai Tabriz dan Azerbaijan. Jani Beg meninggal karena sakit pada tahun 1357 M. Kemudian digantikan oleh Birdi Beg. Ia terbunuh oleh seseorang yang tidak diketahui pada tahun 1359 M. Kemudian dinasti ini mengalami kemunduran karena adanya konflik internal. Akhirnya, Tokhtamis, keturunan dari Wardah (saudara Batu) naik tahta, ia menaklukan Moskow. Namun, ia kalah di Terekh saat melawan Timur pada tahu 1395. Akibat kekalahan ini merupakan pertanda keruntuhan kekuatan Golden Horde. Setelah Tookhtamis wafat, muncul perebutan kekuasaan dari suku-suku Mongol baok Islam amupun non-Islam. Idikhu Khan menjadi penguasa terakhir Dinasti Golden Horde.[24]

 

BAB IV

KESIMPULAN

          Bangsa Mongol menjadi salah satu faktor besar dalam keruntuhan peradaban Islam di Baghdad, sehingga mengakibatkan perpecahan dalam Umat Islam, karena Baghdad sebagai Ibu Kota Dinasti Abbasiah merupakan pusat peradaban Islam. Terjadi kevakuman dalam pemerintahan Islam selama hampir tiga tahun. Kevakuman ini yang kemudian mengawali munculnya masa transisi dalam dunia Islam. Bangsa Mongol merupakan bangsa pejuang dengan fisik yang kuat. Mereka sangat mematuhi perintah pemimpin atau kepala suku mereka yang dikenal dengan nama Chengis khan. Chengis Khan dan cucunya Hulagu Khan menjadi tokoh yang dibenci oleh Umat Islam pada masa itu. Namun keturunannya kemudian memeluk agama Islam dan memulihkan kembali peradaban Islam yang telah dihancurkan oleh Chengis Khan dan Hulagu Khan.

Dinasti-dinasti Mongol Islam ini berhasil membangkitkan kembali kemajuan peraddaban Islam. Ada Dinasti Ilkhan dengan Ghazan Khan sebagai pemimpin. Ia berhasil melakukan reformasi sistem pemerintahan. Ghazan Khan mengenalkan sistem pembukuan pemasukan dan pengeluaran negara. Sistem yang tidak dilakukan oleh penguasa sebelumnya. Pada Dinasti Chaghtai ada Timur Lang yang berhasil dalam penaklukan dan perluasan wilayah. Sedangkan Dinasti Golden Horde mencapai puncaknya di bidang kebudayaan dan banyak mendirikan masjid juga sekolah pada masa pemerintahan Uzbeg Khan. Kemajuan pengetahuan, arsitektur, ekonomi, sistem administrasi pemerintahan, dan banyak hal lainnya menjadi sumbangan tak ternilai bagi sejarah perdaban Umat Islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

Karim, M. Abdul. Bulan Sabit di Gurun Gobi: Sejarah Dinasti Mongol Islam di Asia Tengah. Yogyakarta: Suka Press UIN Sunan Kalijaga, 2014.

________. Islam di Asia Tengah. Yogyakarta: Bagaskara, 2006.

________. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta: Bagaskara, 2019.

Lapidus, Ira M. Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Kesatu dan Dua. Jakarta: PT Raja

                  Grafindo Persada, 1999.

Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010.

[1] M. Abdul Karim, Bulan Sabit di Gurun Gobi: Sejarah Dinasti Mongol Islam di Asia Tengah, (Yogyakarta: Suka Press UIN Sunan Kalijaga, 2014), hlm. 49-50.

[2] Ibid., hlm. 52.

[3]  Temuchin merupakan nama Chengis sebelum menjadi Khan agung bangsa Mongol

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2010), hlm. 112.

[5] Karim, Bulan Sabit, hlm. 53.

[6] M. Abdul Karim, Islam di Asia Tengah, (Yogyakarta: Bagaskara, 2006), hlm. 34-35.

[7] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam: Bagian Kesatu & Kedua, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999), hlm. 638.

[8] Karim, Bulan Sabit, hlm. 74.

[9] M. Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta: Bagaskara, 2019), hlm. 294-295.

[10] Karim, Islam di Asia, hlm. 86-87.

[11] Karim, Bulan Sabit, hlm. 149-150.

[12] Ibid., hlm. 149-152.

[13] Karim, Sejarah Pemikiran, hlm. 301-303.

[14] Karim, Bulan Sabit, hlm. 102-103.

[15] Ibid., hlm. 109.

[16] Karim, Sejarah pemikiran, hlm. 290.

[17] Karim, Bulan Sabit, hlm. 163.

[18] Karim, Sejarah Pemikiran, hlm. 291.

[19] Ibid., hlm. 292.

[20] Ibid.,

[21] Karim, Bulan Sabit, hlm. 121-123.

[22] Ibid., hlm. 166.

[23] Karim, Sejarah Pemikiran, hlm.293.

[24] Ibid., hlm. 294

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button