Kampus

Resonansi Etika Ekonomi dan Sunatullah: Menimbang Krisis Global dengan Sains Islam

Nama : Nayza Syifa Ulfani. NA
NIM : 250602185
Prodi : Ekonomi Syariah FEBI UIN Ar-Raniry
Mata Kuliah : Kajian Sains Islam

Ekonomi global 2024-2025 diwarnai inflasi tinggi, ketimpangan digital, dan kerentanan rantai pasok. Dalam perspektif sains Islam, ekonomi bukan sekadar mekanisme pasar, tetapi cerminan relasi manusia dengan sunatullah (hukum alam ciptaan Allah). Artikel ini mengupas fenomena ekonomi kontemporer menggunakan pisau analisis nilai-nilai keilmuan Islam: tauhid, khalifah, mizan, dan maqasid syariah.

  1. Inflasi dan Pelanggaran terhadap Keseimbangan (Mizan)

Allah berfirman dalam QS Ar-Rahman (55):7-9: “Dan langit ditinggikan-Nya dan Dia menciptakan keseimbangan (mizan), agar kamu jangan melampaui batas tentang keseimbangan itu.”

Sains Islam memandang inflasi sebagai ketidakseimbangan ekosistem ekonomi, sama seperti pemanasan global. Ketika bank sentral mencetak uang berlebihan tanpa didukung produksi riil, terjadi distorsi harga. Ini adalah pelanggaran terhadap mizan. Solusi Islam menekankan penguatan sektor riil, penghapusan riba (bunga yang memperparah gelembung utang), dan penerapan gold dinar atau silver dirham sebagai alat tukar yang stabil secara ilmiah (nilai intrinsik).

  1. Teknologi Finansial dan Etika Tauhid

Fintech dan cryptocurrency menjanjikan efisiensi, tetapi juga spekulasi (gharar) dan ketidakjelasan (jahalah). Sains Islam mengajarkan bahwa setiap transaksi harus transparan, adil, dan mendukung maslahah (kebaikan bersama). Prinsip al-‘adl (keadilan) dalam QS Al-Maidah (5):8 menjadi fondasi: “Hendaklah kamu berlaku adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Dari sisi sains, blockchain bisa dijustifikasi jika digunakan untuk zakat, wakaf, atau sukuk digital yang bebas riba. Namun, kripto yang volatil dan tanpa aset jelas bertentangan dengan prinsip al-mal al-mutamawwil (harta yang bernilai pasti).

  1. Krisis Rantai Pasok: Pelajaran dari Khalifah dan Sumber Daya

Manusia sebagai khalifah (pengelola bumi) bertanggung jawab atas distribusi sumber daya. Pandemi dan perang Rusia-Ukraina menunjukkan kerapuhan sistem kapitalis yang berorientasi efisiensi ekstrem. Sains Islam mengajarkan konsep iqtisad (kesederhanaan) dan ta’awun (tolong-menolong). Negara dengan ekonomi Islami seperti Malaysia yang menerapkan halal supply chain lebih tahan terhadap guncangan karena berbasis nilai lokal dan keadilan.

  1. Indikator Kesejahteraan: Melampaui GDP

Ekonomi konvensional bangga dengan pertumbuhan GDP, tapi sains Islam mempertanyakan: apakah pertumbuhan itu berkelanjutan dan adil? Tolak ukur Islam mencakup Indeks Maqasid Syariah: perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Negara dengan zakat produktif, baitul mal yang kuat, dan bebas riba menunjukkan ketahanan ekonomi yang lebih baik.

Dalam konteks Islam, krisis ekonomi sering kali disebabkan oleh aktivitas ekonomi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Riba, korupsi, dan praktik buruk lainnya adalah beberapa contoh yang sering kali menjadi penyebab krisis. Oleh karena itu, penting untuk mencari solusi yang tepat dan tidak hanya melihat gejala-gejala krisis.

Pada dasarnya krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia sudah bukan hal yang baru lagi, sejak dulu Indonesia sudah sering mengalami krisis ekonomi, tahun 1998 adalah puncak krisis ekonomi yang dialami Indonesia dan krisis ekonomi juga terjadi lagi pada tahun 20082, 20133, 20204

Pada tahun 1997, 2008 dan 2013 krisis yang bermula dari negara Amerika Serikat, menimbulkan

krisis keuangan global. Menurut beberapa ekonom dunia, hal ini disebabkan oleh merosotnya sistem ekonomi kapitalis yang mereka junjung. Para ekonom sibuk mencari cara untuk menyelesaikan krisis ini. Kini mereka beralih ke sistem ekonomi syariah karena beberapa bukti menunjukkan manfaatnya. Terbukti, seperti diberitakan surat kabar Republika, ketika krisis mengguncang perekonomian Amerika, sejumlah pakar dari Kementerian Keuangan negara  itu mempelajari berbagai fitur penting sistem perbankan syariah. Saat itu, pemerintah AS merasa perlu membahas efektivitas perbankan syariah dalam konteks krisis keuangan global kondisi kredit juga bermasalah di sektor perbankan menujukkan trend peningkatan di awal tahun 2026 . lonjakan tunjangan kredit yang mulai terasa dampaknya di berbagai institusi keuangan. salah satu faktor yang memicu adalah ancaman risiko geopolitik yang semakin tinggi di kalangan masyarakat.

Referensi Lengkap

Al-Qur’an dan Tafsir

  1. QS Ar-Rahman (55):7-9 – tentang mizan dan timbangan adil.
  2. QS Al-Maidah (5):8 – tentang keadilan.
  3. QS Al-Hasyr (59):7 – tentang peredaran harta tidak boleh hanya di antara orang kaya.
  4. QS Hud (11):85 – tentang larangan curang dalam takaran dan timbangan.

Buku dan Artikel Ilmiah

  1. Chapra, M. U. (2014). Morality and Justice in Islamic Economics and Finance. Edward Elgar.
  2. Askari, H., Iqbal, Z., & Mirakhor, A. (2015). Introduction to Islamic Economics: Theory and Application. Wiley.
  3. Kamali, M. H. (2017). Maqasid al-Shariah Made Simple. IIIT.
  4. El-Gamal, M. A. (2006). Islamic Finance: Law, Economics, and Practice. Cambridge University Press.
  5. Laporan IMF (2024). Global Financial Stability Report: Riba, Inflation, and Emerging Markets.
  6. Bank Indonesia (2024). Roadmap Ekonomi dan Keuangan Syariah 2024-2028.

Jurnal Terindeks

  1. Journal of Islamic Economics (2024). “Cryptocurrency from Maqasid Perspective”, Vol. 12(2), hlm. 45-67.
  2. Al-Iqtishad: Jurnal Ilmu Ekonomi Syariah (2023). “Dinar Emas dan Stabilitas Harga dalam Sains Islam”, UIN Syarif Hidayatullah.

Sumber Online Terpercaya

  1. Islamic Development Bank (IsDB) – www.isdb.org (publikasi tahunan ekonomi Islam global).
  2. Pusat Kajian Sains Islam Universitas Yordania – “The Sunnah and Economic Cycles” (2024).

Sumber data faktual

1. https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/solok/id/data-publikasi/artikel/3522-dinamika-ekonomi-global-dan-indonesia-tahun-2026-tentangan-ketidakpastian-dan-peluang-pertumbuhan.html

2. https://desakarangbendo.id/berita-ekonomi-bisnis/5423006499/kredit-macet-melonjak-awal-2026-ancaman-geopolitik-jadi-faktor-utama/

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button