
*Oleh: Teuku Avicenna Al Maududdy, M. Hum
PADA 3 Juni 2026, genap enam belas tahun wafatnya Wali Negara Aceh Sumatera Merdeka (1976-2005), Teungku Hasan Muhammad di Tiro. Bagi sebagian orang, Hasan Tiro adalah tokoh kontroversial yang memimpin gerakan perlawanan Aceh terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Namun bagi sebagian masyarakat Aceh lainnya, ia adalah seorang pemikir, ideolog, dan nasionalis Aceh yang berusaha membangkitkan kembali kesadaran sejarah, martabat, dan identitas bangsa Aceh yang menurutnya telah mengalami kemunduran sejak berakhirnya kedaulatan Kesultanan Aceh.
Enam belas tahun setelah wafatnya, pemikiran Hasan Tiro masih menjadi bahan diskusi yang relevan. Bukan semata-mata karena sejarah konflik Aceh, tetapi karena banyak gagasannya tentang identitas, pendidikan, kualitas manusia, dan harga diri bangsa masih memiliki relevansi dalam kehidupan masyarakat Aceh kontemporer.
Di tengah arus globalisasi, modernisasi, dan perubahan sosial yang cepat, pertanyaan yang dahulu diajukan Hasan Tiro masih layak direnungkan: siapakah orang Aceh, dan ke mana arah masa depan Aceh?
Turi Droë: Mengenal Diri Sebagai Bangsa
Salah satu konsep paling terkenal dalam pemikiran Hasan Tiro adalah Turi Droë yang secara sederhana dapat dipahami sebagai “kenali dirimu sendiri”. Konsep ini bukan sekadar ajakan untuk memahami identitas pribadi, tetapi juga identitas kolektif suatu bangsa.
Menurut Hasan Tiro, bangsa yang kehilangan kesadaran sejarah akan kehilangan arah. Karena itu, ia berusaha mengingatkan masyarakat Aceh tentang perjalanan panjang bangsanya.
Dalam berbagai tulisannya, Aceh tidak dipandang sebagai wilayah pinggiran yang muncul setelah Indonesia merdeka, melainkan sebagai bangsa yang memiliki sejarah politik, diplomasi, perdagangan, dan kebudayaan yang panjang sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam.
Dalam perspektif ini, Turi Droë menjadi sebuah proyek kesadaran sejarah. Hasan Tiro mengkritik kondisi ketika generasi muda Aceh lebih mengenal sejarah kerajaan-kerajaan di Jawa dibandingkan sejarah para sultan, ulama, dan pejuang Aceh sendiri.
Kritik tersebut bukan berarti menolak sejarah Indonesia, melainkan menuntut agar sejarah Aceh memperoleh ruang yang proporsional dalam pendidikan dan kesadaran publik.
Bagi Hasan Tiro, identitas bukanlah alat untuk membenci bangsa lain. Identitas adalah fondasi untuk membangun rasa percaya diri. Sebab bangsa yang tidak mengenal dirinya akan mudah kehilangan arah dan bergantung pada definisi yang diberikan oleh pihak lain.
Tusoë Droë dan Krisis Kualitas Sumber Daya Manusia Aceh
Selain Turi Droë, Hasan Tiro juga memperkenalkan konsep Tusoë Droë, yang dapat dimaknai sebagai upaya mencapai keunggulan atau superioritas melalui kualitas diri.
Dalam pandangannya, kebesaran Aceh pada masa lalu tidak lahir karena jumlah penduduk yang besar atau kekayaan alam semata. Kejayaan itu lahir dari kualitas manusianya. Aceh pernah menjadi pusat pendidikan Islam, perdagangan internasional, diplomasi, dan ilmu pengetahuan di Asia Tenggara.
Karena itu, Hasan Tiro memandang pendidikan sebagai instrumen utama kebangkitan bangsa. Kemerdekaan politik tanpa kualitas manusia hanya akan melahirkan ketergantungan baru. Sebaliknya, masyarakat yang terdidik akan mampu menentukan nasibnya sendiri.
Jika melihat Aceh hari ini, kritik Hasan Tiro masih terasa relevan. Meskipun memperoleh status otonomi khusus dan alokasi anggaran yang besar, berbagai indikator pembangunan manusia menunjukkan bahwa Aceh masih menghadapi tantangan serius dalam sektor pendidikan, literasi, riset, dan daya saing ekonomi.
Pertanyaan yang patut diajukan bukanlah apakah Aceh memiliki sumber daya yang cukup, melainkan apakah Aceh telah berhasil mengubah sumber daya tersebut menjadi kualitas manusia yang unggul.
Dalam konteks ini, Tusoë Droë bukanlah konsep superioritas etnis. Ia lebih tepat dipahami sebagai dorongan untuk mencapai keunggulan intelektual, moral, dan profesional sehingga masyarakat Aceh mampu bersaing secara terhormat di tingkat nasional maupun global.
Nasionalisme Aceh dan Kritik terhadap Sentralisasi Kekuasaan
Salah satu aspek paling penting dalam pemikiran Hasan Tiro adalah nasionalisme Aceh. Nasionalisme ini lahir dari pembacaan sejarah bahwa Aceh memiliki pengalaman politik yang berbeda dengan banyak wilayah lain di Nusantara.
Hasan Tiro berpendapat bahwa hubungan Aceh dengan Indonesia tidak dapat dipahami hanya dari perspektif negara modern pasca-1945. Menurutnya, Aceh memiliki sejarah kenegaraan, diplomasi internasional, dan identitas politik yang telah terbentuk jauh sebelum Indonesia berdiri.
Dari sudut pandang tersebut, ia mengkritik pola pembangunan yang terlalu berpusat di Jakarta dan Pulau Jawa. Kritik ini tidak ditujukan kepada masyarakat Jawa sebagai etnis, melainkan kepada sistem sentralisasi yang selama puluhan tahun menjadikan Jawa sebagai pusat kekuasaan politik, ekonomi, dan birokrasi.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa selama era Orde Baru, banyak daerah di luar Jawa merasakan ketimpangan pembangunan. Sumber daya alam dari berbagai daerah dieksploitasi untuk kepentingan pembangunan nasional, sementara manfaat yang dirasakan masyarakat lokal sering kali dianggap tidak sebanding.
Dalam konteks Aceh, perasaan ketidakadilan tersebut diperkuat oleh pengalaman konflik, eksploitasi sumber daya alam, serta pendekatan keamanan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Karena itu, nasionalisme Aceh yang dibangun Hasan Tiro tidak dapat dipisahkan dari kritik terhadap sentralisasi kekuasaan. Ia melihat bahwa martabat suatu bangsa hanya dapat tumbuh ketika rakyat memiliki kendali yang lebih besar atas masa depannya sendiri.
Namun demikian, enam belas tahun setelah wafatnya Hasan Tiro dan dua dekade setelah perdamaian Aceh, tantangan yang dihadapi Aceh tidak lagi sama seperti masa konflik. Persoalannya bukan hanya hubungan Aceh dengan Jakarta, tetapi juga bagaimana elite Aceh mengelola kewenangan yang telah diberikan melalui perdamaian dan otonomi khusus.
Pendidikan sebagai Jalan Kebangkitan Bangsa Aceh
Dalam banyak aspek, Hasan Tiro dapat disebut sebagai seorang pemikir pendidikan. Meskipun tidak dikenal sebagai teoritikus pendidikan formal, seluruh gagasannya sesungguhnya mengarah pada pembentukan manusia Aceh yang sadar sejarah, percaya diri, dan berkualitas.
Pendidikan yang ia bayangkan bukan hanya proses memperoleh ijazah. Pendidikan harus membentuk karakter, keberanian, dan kesadaran identitas. Seorang Aceh yang terdidik menurut perspektif ini adalah orang yang memahami sejarah bangsanya, menghargai budayanya, menguasai ilmu pengetahuan modern, dan mampu berkompetisi dengan siapa pun.
Ironisnya, tantangan pendidikan Aceh saat ini bukan lagi kurangnya sekolah atau kampus. Tantangan terbesar adalah bagaimana membangun budaya intelektual yang kuat.
Aceh memerlukan lebih banyak peneliti, penulis, sejarawan, ilmuwan, inovator, dan pemikir publik. Kebangkitan Aceh tidak akan lahir hanya dari slogan politik atau romantisme masa lalu, tetapi dari investasi jangka panjang pada ilmu pengetahuan dan kualitas manusia.
Jika Turi Droë mengajarkan pentingnya mengenal diri, maka pendidikan adalah sarana untuk mewujudkan kesadaran tersebut dalam tindakan nyata.
“Orang Merdeka Adalah Seorang Pejuang”
Dalam buku hariannya yang belum selesai, The Price of Freedom (1984), Hasan Tiro menulis:
“Nilai suatu hal tidak ditentukan oleh apa yang dapat anda lakukan dengannya, tetapi oleh berapa harga yang bersedia anda bayar untuk itu.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa kemerdekaan bagi Hasan Tiro bukan hadiah. Kemerdekaan adalah tanggung jawab.
Ketika ia menulis bahwa “orang merdeka adalah seorang pejuang”, yang dimaksud bukan hanya perjuangan bersenjata. Yang lebih penting adalah keberanian untuk bertanggung jawab atas nasib sendiri.
Hari ini, mungkin musuh terbesar Aceh bukan lagi peluru atau konflik bersenjata. Musuh terbesar itu bisa berupa kemalasan intelektual, korupsi, ketergantungan, rendahnya budaya membaca, lemahnya inovasi, serta hilangnya keberanian untuk bermimpi besar.
Maka enam belas tahun setelah wafatnya Hasan Tiro, warisan terbesarnya bukanlah romantisme konflik masa lalu. Warisan terbesarnya adalah panggilan untuk membangun kembali martabat bangsa Aceh melalui Turi Droë (identitas), Tu’oh Droë (kualitas), Tusoë Droë (keunggulan), dan Meuadoe A (pluralitas).
Karena sesungguhnya, sebagaimana ditulis Hasan Tiro dalam refleksi pribadinya:
“Now all my self-doubts are swept away. I have been on the right path all along, although a painful and an agonizing one.”
Kalimat itu bukan hanya tentang perjalanan hidup Hasan Tiro. Kalimat itu juga dapat dibaca sebagai pesan kepada generasi Aceh hari ini: bahwa setiap bangsa yang ingin menjaga martabatnya akan menempuh jalan yang panjang, berat, dan penuh pengorbanan. Namun bangsa yang mengenal dirinya sendiri tidak akan kehilangan arah dalam perjalanan sejarah.
Refleksi untuk Generasi Aceh Masa Kini
Enam belas tahun setelah kepergian Hasan Tiro, generasi muda Aceh hidup dalam situasi yang berbeda dari generasi konflik. Mereka tumbuh dalam suasana damai, memiliki akses informasi global, dan menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, warisan Hasan Tiro tidak harus dibaca secara harfiah atau dibatasi pada konteks perjuangan bersenjata. Yang lebih penting adalah memahami substansi pemikirannya: martabat, identitas, kualitas diri, pendidikan, dan keberanian menentukan masa depan.
Aceh tidak akan maju hanya dengan mengingat kejayaan masa lalu. Namun Aceh juga tidak akan memiliki masa depan jika melupakan sejarahnya sendiri.
Dalam kerangka itulah Turi Droë tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang mengenal dirinya akan memiliki arah. Tusoë Droë mengingatkan bahwa kemajuan hanya dapat dicapai melalui kualitas manusia. Sementara nasionalisme Aceh mengingatkan bahwa harga diri suatu bangsa harus dibangun di atas keadilan, pengetahuan, dan tanggung jawab.
Sebagaimana ditulis Hasan Tiro dalam The Price of Freedom, nilai suatu hal ditentukan oleh harga yang bersedia dibayar untuk memperolehnya. Bagi generasi Aceh hari ini, harga itu mungkin bukan lagi perang dan pengorbanan fisik, melainkan kerja keras, pendidikan, integritas, serta komitmen untuk membangun Aceh yang bermartabat.
Enam belas tahun setelah wafatnya Sang Wali Negara, pertanyaan terbesar bukanlah apakah Hasan Tiro benar atau salah dalam seluruh gagasannya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah generasi Aceh hari ini telah cukup mengenal dirinya sendiri, cukup berkualitas untuk bersaing, dan cukup berani untuk membawa Aceh menuju masa depan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, sebagaimana pesan yang tersirat dalam pemikiran Hasan Tiro, sebuah bangsa hanya akan dihormati apabila ia terlebih dahulu menghormati dirinya sendiri. []
*Penulis merupakan Dosen Tetap Prodi Pengembangan Masyarakat Islam di Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga, Kab. Bireuen, Aceh





