News

Peringatan Maulid di Insan Qurani, Dr Nasril Ajak Santri Buktikan Cinta pada Rasul

Aceh Besar – Dayah Insan Qurani, Aceh Besar, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di lingkungan dayah, Selasa (25/8).

Dalam kesempatan itu, para santri diajak tidak menjadikan Maulid sekadar perayaan seremonial, tetapi momentum untuk mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah SAW.

Pesan tersebut disampaikan Dr Muhammad Nasril, Lc., M.A., Doktor Pengkajian Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, saat memberikan tausiah pada peringatan Maulid tersebut.

Nasril mengatakan setidaknya ada tiga tahapan penting dalam membangun kecintaan kepada Rasulullah SAW, yakni mengenal, mencintai, dan meneladani.

Menurutnya, pengenalan terhadap kehidupan Rasulullah melalui sirah akan menumbuhkan kecintaan. Namun, kecintaan yang benar tidak cukup hanya diucapkan, melainkan harus diwujudkan melalui sikap, amalan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan mengenal sirah dan perjuangan Rasulullah SAW, akan tumbuh kecintaan kepada beliau. Namun, cinta yang sesungguhnya tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui sikap, amalan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nasril.

Ia juga mengingatkan Maulid seharusnya menjadi ruang untuk melakukan muhasabah. Kemeriahan acara bukanlah tujuan akhir, tetapi bagaimana setelah peringatan tersebut seseorang semakin dekat dengan Rasulullah, mencintai sunnahnya, dan memperbaiki akhlaknya.

Nasril kemudian mengajak para santri menjadikan Rasulullah SAW sebagai uswah hasanah atau teladan dalam kehidupan sehari-hari.

“Maulid jangan berhenti pada mengenang kelahiran Nabi. Jadikan ia sebagai momentum untuk memperbaiki diri, memperbanyak selawat, memperdalam sirah dan hadis, serta menghadirkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan kita,” pesannya.

Ia menjelaskan mengenal Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengetahui nama, nasab, dan sejarah kelahirannya. Para santri juga perlu memahami bagaimana Rasulullah menghadapi berbagai ujian, menjalankan dakwah, memimpin umat, memperlakukan keluarga dan sahabat, serta menunjukkan kasih sayang kepada sesama.

“Bagaimana mungkin cinta tumbuh kalau kita tidak mengenal orang yang kita cintai? Karena itu, membaca sirah Nabi harus menjadi bagian dari tradisi belajar kita,” katanya.

Karena itu, Nasril mendorong para santri memperbanyak membaca literatur tentang kehidupan Rasulullah, baik karya klasik maupun kontemporer. Menurutnya, semakin seseorang mengenal sirah Nabi, semakin banyak nilai yang dapat dipetik untuk membentuk karakter dan kepribadian.

Namun, kata dia, pengenalan tersebut tidak boleh berhenti pada pengetahuan. Kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam perilaku dan akhlak.

Ia menyebut kejujuran, amanah, kesabaran, penghormatan kepada guru, bakti kepada orang tua, kasih sayang kepada sesama, serta menjaga persaudaraan merupakan bagian dari keteladanan Rasulullah yang perlu dihidupkan para santri.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Nasril mengajak para santri melihat perjalanan dakwah Rasulullah SAW yang tidak selalu berjalan mudah. Berbagai penolakan, tekanan, dan perlakuan menyakitkan menjadi bagian dari perjalanan dakwah yang menunjukkan keteguhan sekaligus kemuliaan akhlak Rasulullah.

“Disakiti, tetapi tidak membalas dengan kebencian. Dihina, tetapi tidak membalas dengan penghinaan. Ditolak, tetapi tidak berhenti berbuat baik. Di situlah kita belajar tentang keagungan akhlak Rasulullah SAW,” katanya.

Di penghujung ceramah, Nasril kembali mengingatkan keberhasilan peringatan Maulid tidak semata-mata diukur dari kemeriahan acara. Hal yang lebih penting adalah perubahan sikap yang lahir setelah peringatan tersebut.

Menurutnya, Maulid harus menjadi wasilah sekaligus alarm bagi umat untuk kembali mendekat kepada Rasulullah SAW.

“Kesibukan dan rutinitas terkadang membuat kita lupa meluangkan waktu untuk membaca sirah dan mempelajari kehidupan Nabi. Karena itu, Maulid harus menjadi pengingat untuk kembali belajar, memperbaiki diri, dan semakin menghidupkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Dayah Insan Qurani, H Muzakkir Zulkifli, S.Ag., mengatakan peringatan Maulid merupakan agenda rutin tahunan dayah. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi sumber motivasi sekaligus pembelajaran bagi para santri.

“Anak-anak kami, ini merupakan agenda rutin dayah kita. Karena itu, ikuti dengan serius dan simak materi yang disampaikan oleh narasumber tentang sirah dan akhlak Rasulullah SAW,” ujar Muzakkir. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button