News

Din Syamsuddin: Bung Karno Tokoh Muslim Sekaligus Nasionalis

Jakarta – Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menegaskan bahwa Proklamator Kemerdekaan RI sekaligus Presiden pertama Indonesia, Sukarno atau Bung Karno, merupakan tokoh nasionalis sekaligus tokoh Muslim.

Hal itu disampaikan Din saat memberikan ceramah pada Haul ke-56 Bung Karno di Masjid At-Taufik, Lenteng Agung, Jakarta, Minggu (21/6). Kegiatan tersebut diprakarsai DPP Baitul Muslimin (Bamusi) PDIP dan dihadiri ratusan jemaah serta sejumlah tokoh PDIP, antara lain Ahmad Basarah yang mewakili Megawati Soekarnoputri, Abdullah Azwar Anas, Gus Falah, dan Helmi Hidayat.

Menurut Din, banyak alasan yang menunjukkan bahwa Bung Karno merupakan tokoh Muslim yang memiliki wawasan keislaman luas dan mendalam. Ia menilai Bung Karno mampu memadukan wawasan kebangsaan dan keislaman tanpa mempertentangkan keduanya.

“Menurut Bung Karno, cita-cita kebangsaan Indonesia selaras dengan nilai-nilai Islam,” ujar Din.

Sebagai penggali Pancasila, lanjutnya, Bung Karno menempatkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila yang memiliki posisi sentral terhadap sila-sila lainnya. Karena itu pula, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 3 Agustus 1965 menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Bung Karno dalam bidang Filsafat Ilmu Tauhid.

Din juga menyinggung pemikiran Bung Karno tentang Islam berkemajuan. Dalam buku *Di Bawah Bendera Revolusi*, tepatnya pada artikel tahun 1924, Bung Karno menulis bahwa Islam yang akan diwujudkan di Indonesia merdeka adalah Islam yang berkemajuan, sebuah gagasan yang menurut Din sejalan dengan pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

“Islam yang akan kita wujudkan di Indonesia Merdeka nanti adalah Islam yang berkemajuan,” kata Din mengutip pemikiran Bung Karno.

Karena pandangan tersebut, Bung Karno kemudian menulis artikel yang pada 1940 diterbitkan menjadi buku berjudul *Islam Sontoloyo*. Menurut Din, buku itu merupakan bentuk autokritik Bung Karno terhadap praktik keberislaman yang dinilainya masih dogmatis dan cenderung menafsirkan Al-Qur’an secara literal.

“Hal ini bertentangan dengan Islam Berkemajuan dan tidak akan membawa umat kepada kemajuan,” ujarnya.

Dalam ceramahnya, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta itu juga menyoroti gagasan Trisakti Bung Karno yang terdiri atas berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya.

Menurut Din, konsep tersebut masih sangat relevan untuk kehidupan bangsa saat ini dan semestinya menjadi pedoman para pemimpin nasional.

“Trisakti sangat dan tetap relevan dengan kehidupan bangsa dewasa ini. Maka seyogyanya para pemimpin bangsa mengikuti dan menerapkan secara konsisten dan konsekuen,” katanya.

Di akhir ceramah, Din yang juga pernah menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina Bamusi mendampingi Megawati Soekarnoputri berpesan agar PDIP tidak menjauh dari Islam dan umat Islam.

Ia menilai Bamusi, yang merupakan kelanjutan dari Jamiyatul Muslim di tubuh Partai Nasional Indonesia (PNI) pada era Bung Karno, perlu terus berfungsi sebagai sarana dakwah sekaligus wahana memadukan nasionalisme dan Islam.

Acara haul diawali setelah salat Magrib dengan tahlilan dan ditutup dengan pembacaan doa untuk Bung Karno serta salat Isya berjamaah. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button