News

50 Tahun Bahlil Lahadalia: Melangkah Dari Timur, Bertumbuh untuk Indonesia

*Oleh: M. Fauzan Febriansyah
Pendiri MFF Syndicate
Pengurus BPC HIPMI Kota Medan 2021–2023

Kalau hari ini ada lomba “anak organisasi yang kariernya paling absurd tapi nyata”, nama Bahlil Lahadalia mungkin masuk final tanpa perlu babak penyisihan.

Bayangkan saja.

Seorang anak dari Papua yang pernah membantu ekonomi keluarga dengan berbagai pekerjaan serabutan, pernah berjualan kue saat SD, kemudian menjadi kernet dan sopir angkot saat masih remaja di Fakfak, Papua Barat.

Saat mahasiwa Bahlil lalu menjadi aktivis HMI. Kemudian merintis jalan menjadi pengusaha. Hingga akhirnya menjadi Ketua Umum HIPMI, Menteri Investasi, Menteri ESDM, sampai akhirnya memimpin Partai Golkar.

Kalau kisah hidup seperti ini ditulis sebagai skenario film, mungkin ada produser yang bilang, “Kurangi sedikit, terlalu dramatis.”

Padahal justru kenyataannya begitu.

Barangkali karena itulah serial animasi “Melangkah dari Timur” terasa relevan. Bukan semata karena menceritakan seorang Bahlil Lahadalia, melainkan karena ia mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak hanya bergerak dari Jakarta. Ada ribuan anak muda dari Papua, Aceh, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara yang sedang berjalan di jalur yang sama: berangkat dari pinggiran menuju pusat kekuasaan.

Dan Bahlil menjadi salah satu contoh bahwa jalan itu memang ada, meski tidak pernah mudah.

Saya selalu percaya bahwa manusia bisa dianalogikan seperti pohon. Ada yang daunnya rimbun, tetapi akarnya dangkal. Sedikit badai, langsung tumbang.

Ada pula yang pertumbuhannya pelan, tetapi akarnya menembus tanah begitu dalam sehingga sulit digoyang.

Kalau memakai analogi itu, akar Bahlil berada pada dunia kaderisasi.

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukan sekadar organisasi mahasiswa yang mengajarkan cara membuat proposal kegiatan atau menyusun kepanitiaan. Di sana, kader belajar berdebat, membaca buku, memahami ekonomi-politik, hingga mengelola organisasi. Bahlil menempuh proses itu dan kemudian dipercaya menjadi Bendahara Umum PB HMI. Posisi tersebut tentu tidak datang begitu saja, melainkan hasil dari proses panjang membangun kepercayaan dan jejaring.

Bagi banyak alumni HMI, organisasi adalah laboratorium kepemimpinan.Dan laboratorium itulah yang tampaknya membentuk cara berpikir Bahlil.

Setelah akarnya kokoh, batang pohonnya tumbuh melalui dunia usaha. HIPMI adalah fase yang menurut saya paling menarik.

Di organisasi ini, idealisme bertemu dengan kenyataan pasar. Kita tidak cukup pandai berpidato; kita juga dituntut mampu membaca peluang, menghitung risiko, mengelola keuangan saat berbisnis, hingga bertahan ketika usaha sedang tidak baik-baik saja.

Ketika Bahlil memimpin BPP HIPMI pada 2015-2019, ia membawa narasi bahwa pengusaha Indonesia tidak boleh hanya lahir dari kota-kota besar. Daerah harus menjadi pusat pertumbuhan baru. Gagasan ini kemudian terasa berkelanjutan ketika ia masuk ke pemerintahan.

Tanggung jawab besar itu akhirnya datang. Sebagai Menteri Investasi, ia menjadi salah satu wajah utama kebijakan hilirisasi dan peningkatan realisasi investasi. Dalam beberapa tahun terakhir, realisasi investasi Indonesia mencapai rekor baru dengan nilai investasi menembus ribuan triliun rupiah secara kumulatif. Angka-angka itu tentu bukan hasil kerja satu orang, melainkan kerja kolektif pemerintah dan dunia usaha. Namun sebagai menteri yang memimpin sektor tersebut, Bahlil berada di garis depan untuk menjelaskan sekaligus mempertanggungjawabkan arah kebijakan itu.

Lalu datang bab berikutnya. Dipercaya menjadi Menteri ESDM. Kalau investasi itu seperti mengelola lalu lintas kendaraan, sektor energi ibarat mengatur seluruh pembangkit listrik sekaligus SPBU dalam satu waktu. Salah sedikit, dampaknya terasa ke mana-mana. Mulai dari industri, rumah tangga, hingga harga kebutuhan pokok.

Di sinilah kepemimpinan Bahlil menghadapi banyak tantangan nyata di lapangan. Bukan hanya soal keberanian mengambil keputusan, tetapi juga kemampuan menerima kritik.

Karena energi adalah wilayah yang nyaris tidak pernah sepi dari perdebatan.

Kemudian, ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Golkar, jalan hidup Bahlil kembali memasuki arena yang berbeda.

Bahlil merintis jalan pengkaderan di Golkar juga dari bawah. Dan Golkar bukan organisasi Partai politik yang kecil. Golkar memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia. Memiliki jaringan hingga ke desa-desa, dan kader dengan beragam latar belakang. Memimpin partai sebesar itu jelas membutuhkan kemampuan dan seni mengelola perbedaan sekaligus menjaga arah organisasi.

Kalau diibaratkan pohon tadi, maka batangnya kini mulai bercabang. Satu cabangnya bernama birokrasi. Cabang lainnya bernama politik. Serta cabang satinya lagi bernama ekonomi.

Tetapi yang paling menarik justru pucuknya. Pucuk adalah tempat tumbuhnya gagasan. Saya kira, ukuran seorang pemimpin bukan semata-mata berapa banyak jabatan yang pernah ia duduki. Ukurannya adalah apakah setiap jabatan itu melahirkan ide yang bisa membuat Indonesia bergerak lebih cepat. Sekaligus membuat kesejahteraan bagi rakyat dapat terus tumbuh di banyak tempat.

Bagi generasi muda, terutama mereka yang hari ini sedang sibuk di organisasi kampus, HIPMI, komunitas, maupun organisasi kepemudaan lain, perjalanan Bahlil memberikan satu pelajaran sederhana.

Jangan minder berasal dari daerah. Jangan malu pernah miskin. Jangan takut memulai dari bawah. Karena dari kisah hidup para pemimpin Indonesia, telah berkali-kali menunjukkan bahwa pemimpin besar tidak selalu lahir dari keluarga besar. Mereka selalu lahir dari proses yang besar.

Memang, sebagai pejabat publik, Bahlil tentu tidak lepas dari kritik. Dalam negara demokrasi, setiap kebijakan layak diperdebatkan, diuji, bahkan dikoreksi. Itulah mekanisme yang membuat pemerintahan terus membaik. Mengapresiasi perjalanan hidup seseorang tidak berarti menutup ruang kritik terhadap kebijakan yang diambilnya.

Perjalan Bahlil Lahadalia selalu layak diceritakan, terutama kepada Generasi Z yang hari ini sedang sibuk mengejar IPK, merintis usaha, mengurus organisasi, atau bahkan masih bingung menentukan arah hidup. Di zaman ketika media sosial sering membuat kesuksesan tampak seperti hasil semalam, perjalanan Bahlil mengingatkan bahwa yang paling berharga justru proses yang tidak pernah masuk kamera: seni mengelola organisasi, usaha yang pernah gagal, pintu yang berkali-kali tertutup, hingga keberanian untuk terus melangkah ketika orang lain memilih berhenti. Tidak semua orang akan menjadi menteri atau ketua umum partai, tetapi setiap orang punya kesempatan menjadi versi terbaik dari dirinya jika mau bertumbuh.

Pada akhirnya, “Melangkah dari Timur” bukan sekadar judul sebuah dokumenter tentang Bahlil. Ia bisa menjadi metafora bagi siapa saja yang sedang memulai langkah dari titik yang sederhana. Sebab Indonesia tidak pernah kekurangan anak muda yang cerdas; yang sering kurang adalah anak muda yang mau berproses dengan sabar, berorganisasi dengan sungguh-sungguh, bekerja tanpa merasa terlalu cepat berhak atas hasil, dan tetap rendah hati ketika berhasil. Jika lima puluh tahun perjalanan Bahlil meninggalkan satu pesan, mungkin pesannya sederhana:

”jangan takut memulai dari bawah. Karena pelajaran hidup dari Bahlil Lahadalia sudah membuktikan, pohon yang paling tinggi akan lahir dari akar yang paling kuat.”

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button