News

Psikolog Beberkan Ciri Anak Jadi Korban Kekerasan Daycare

Banda Aceh – Maraknya kasus kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak (daycare) menjadi sorotan serius. Psikolog dari Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh, Iyulen Pebry Zuanny, menilai fenomena ini sebagai tanda adanya persoalan sistemik dalam pengelolaan daycare.

Menurut Iyulen, meningkatnya kasus kekerasan dan pengabaian tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan individu semata. Ia menyebut ada sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari kompetensi pengasuh yang kurang memadai hingga lemahnya sistem pengawasan.

“Ini bukan sekadar oknum. Ada masalah dalam sistem, seperti kurangnya kompetensi, pengawasan yang lemah, dan aturan yang tidak berjalan optimal,” kata Iyulen, Rabu (29/4).

Ia menjelaskan, dalam perspektif psikologi, anak usia dini sedang berada dalam fase penting untuk membangun rasa aman dan kepercayaan terhadap lingkungan. Jika pada fase ini anak mengalami pengalaman buruk, dampaknya bisa berkepanjangan.

“Anak bisa mengalami kesulitan mengatur emosi, sulit percaya pada orang lain, hingga terganggu perkembangan sosialnya,” ujarnya.

Iyulen mengingatkan orang tua untuk peka terhadap perubahan perilaku anak. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain anak menjadi lebih takut, sering menangis, menolak pergi ke daycare, hingga perubahan pola makan dan tidur.

Selain itu, anak juga bisa mengalami kemunduran perkembangan, seperti kembali mengompol.

Sementara pada anak yang belum bisa berbicara, tanda-tanda kekerasan bisa terlihat dari bahasa tubuh dan perilaku. Misalnya tubuh yang menegang saat bertemu orang tertentu, menangis terus-menerus tanpa sebab jelas, atau muncul luka dan memar yang tidak wajar.

“Setiap anak bisa menunjukkan tanda yang berbeda, jadi penting untuk segera melakukan asesmen ke psikolog jika ada kecurigaan,” jelasnya.

Tips Memilih Daycare

Iyulen juga membagikan sejumlah tips bagi orang tua dalam memilih daycare. Ia menyarankan agar orang tua melakukan pengecekan langsung sebelum memutuskan menitipkan anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain cara pengasuh berinteraksi dengan anak, aturan keamanan, hingga prosedur darurat yang diterapkan.

Selain itu, orang tua juga perlu memastikan daycare memiliki izin resmi, pengasuh yang berkualifikasi, jumlah pengasuh yang memadai, serta lingkungan yang bersih dan aman.

“Yang paling penting adalah bagaimana daycare membangun hubungan emosional dengan anak, bukan sekadar menjaga,” tegasnya.

Dari sisi pengelola, Iyulen menekankan pentingnya sistem perlindungan anak yang jelas. Daycare harus memiliki aturan yang tegas, jumlah pengasuh yang seimbang, serta pelatihan rutin bagi tenaga pengasuh.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi, termasuk adanya sistem pelaporan jika terjadi masalah.

Untuk proses rekrutmen, pengelola daycare disarankan melakukan tes psikologi, wawancara mendalam, pengecekan latar belakang, hingga simulasi kemampuan mengasuh anak.

Iyulen menegaskan bahwa pengawasan di daycare tidak boleh dilakukan secara asal. Sistem pengawasan harus berlapis, seperti penggunaan CCTV yang dapat dipantau, inspeksi mendadak, serta evaluasi rutin terhadap kinerja pengasuh.

Selain itu, perlu ada mekanisme pengaduan yang terbuka agar setiap permasalahan bisa segera ditangani.

“Daycare harus benar-benar menjadi tempat yang aman dan nyaman, karena di sanalah anak tumbuh dan berkembang,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button