News

Masjid Oman Jadi Pusat Gerakan “Banda Aceh Berhaji”

Banda Aceh – Masjid Oman Al-Makmur kembali menjadi pusat kegiatan keagamaan di Banda Aceh lewat program “Banda Aceh Berhaji” yang digelar Selasa (21/4) malam. Kegiatan ini menghadirkan dai muda nasional, Hanan Attaki, dan diikuti ratusan jamaah yang didominasi generasi muda.

Acara yang berlangsung usai salat Isya ini turut dihadiri unsur Pemerintah Kota Banda Aceh, Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Wakil Wali Kota Banda Aceh, Afdal Khalilullah, mengatakan program ini menjadi langkah strategis dalam membangun kesadaran masyarakat untuk merencanakan ibadah haji sejak dini, baik secara finansial maupun spiritual.

“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi gerakan membangun kesadaran berhaji sejak dini. Masjid Oman menjadi pusat tumbuhnya semangat itu,” ujarnya.

Perwakilan BSI, Saiful Musadir, menyebut antrean haji nasional saat ini mencapai sekitar 5,7 juta orang dengan masa tunggu rata-rata hingga 27 tahun. Menurutnya, tingginya minat masyarakat membuat perencanaan haji perlu dilakukan lebih awal.

“Kami hadir bukan hanya sebagai lembaga keuangan, tetapi sebagai mitra yang mendampingi masyarakat dalam perjalanan spiritual menuju Baitullah,” jelasnya.

Dalam tausiyahnya, Hanan Attaki menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar menunggu waktu atau usia.

“Haji itu bukan soal nanti. Haji itu soal sekarang—bagaimana kita mulai niat dan ikhtiar menuju Baitullah,” tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya ibadah dalam menjaga kesehatan mental. Menurutnya, Islam tidak hanya mengatur ritual, tetapi juga membentuk keseimbangan batin.

“Allah tidak melihat penampilan kita, tapi melihat hati dan ketakwaan kita. Inilah yang menjadi fondasi kesehatan mental,” ujarnya.

Hanan menjelaskan bahwa ibadah dapat melatih ketenangan batin, muamalah membangun hubungan sosial, tazkiyatun nafs membantu pengelolaan emosi, serta keyakinan pada akhirat memberi makna hidup.

Dalam kajiannya, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga lima lingkaran kehidupan, yaitu keluarga, tetangga, guru, sahabat, dan lingkungan. Ia menilai banyak orang saat ini justru lebih fokus pada media sosial yang kerap memicu tekanan mental.

“Kalau lima lingkaran utama kita sehat, maka hidup kita akan tetap stabil, meskipun dunia luar tidak selalu mendukung,” jelasnya.

Hanan juga menyebut ibadah haji sebagai momentum “identity reset” atau pembaruan jati diri. Ia menggambarkan Ka’bah sebagai “kilometer nol spiritual”.

“Pulang dari haji seharusnya bukan hanya berganti status, tetapi menjadi pribadi yang benar-benar baru,” ungkapnya.

Menurutnya, seluruh rangkaian ibadah haji mengandung makna untuk memperbaiki pola pikir, menata ulang tujuan hidup, dan meningkatkan kualitas spiritual.

Di akhir sesi, Hanan mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan melalui muhasabah dan self-talk, serta memantaskan diri dalam menjalani kehidupan, termasuk soal jodoh.

Kegiatan ini menegaskan peran Masjid Oman Al-Makmur sebagai pusat edukasi dan gerakan keumatan di Banda Aceh. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan tokoh agama diharapkan terus berlanjut untuk membangun masyarakat yang religius, sehat secara mental, serta kuat secara spiritual.

Dengan semangat “Gak Cuma Niat, tapi Mulai Ikhtiar ke Tanah Suci”, program ini diharapkan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, mulai merencanakan perjalanan haji sejak sekarang. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button