News

USK dan Dua Kampus Gelar Workshop Peran Perempuan dalam Membangun Ketahanan Masyarakat

Banda Aceh – Setelah sukses menggelar workshop terkait peran perempuan menghadapi 3 fase krisis pada 26 Agustus lalu di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Sabtu (23/9/2023) Magister Ilmu Kebencanaan USK kembali sukses melaksanakan workshop bertajuk “Peran Perempuan dan Fungsi Keluarga dalam membangun ketahanan masyarakat menghadapi 3 Fase krisis (Konflik, Tsunami dan Pandemi Covid-19).

Namun kali ini dilaksanakan di Universitas Pattimura Ambon. Kegiatan kolaborasi antara Universitas Syiah Kuala, Universitas Pattimura dan CSEAS Kyoto University ini menghadirkan narasumber yang merupakan aktivis perempuan dari berbagai latar belakang, di antaranya Baihajar Tualeka, S.H. dari latar belakang Aktivis perempuan dan Tokoh Perempuan Nasional.

Kemudian, Prof. Dr. Ir. Aphrodite Milana Sahusilawane, M.S dari latar belakang Akademisi; Dra. Olivia Ch. Salampessy, MP dari latar belakang politisi dan Assoc. Prof. Nishi Yoshimi yang merupakan seorang peneliti Jepang yang memiliki ketertarikan khusus terhadap Aceh dari CSEAS Kyoto University.

Acara dibuka dengan kata sambutan oleh Kaprodi Magister Ilmu Kebencanaan yaitu Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si yang datang langsung dari Aceh.

Dalam sambutannya, Rina menyatakan pada dasarnya workshop ini didorong oleh kegiatan penelitian yang sedang dilakukan terkait peran perempuan dalam menghadapi 3 fase krisis.

“Nah dari penelitian yang masih berproses ini kami mendapat banyak informasi menarik, salah satunya ternyata banyak perempuan yang selama ini belum terekspos perjuangannya. Diharapkan ini dapat menjadi upaya untuk mengeksplisitkan peran perempuan-perempuan hebat ini, agar terus bergulir,” ujarnya.

Sementara itu, Kaprodi Manajemen Hutan Pascasarjana Universitas Pattimura yaitu Dr. Ir. Papilaya, M. Sc. Forest. Trop yang turut menghadiri sekaligus membuka acara workshop hari ini dalam sambutannya berharap kegiatan ini mampu membuka mata seluruh lapisan masyarakat baik dari dalam maupun luar Ambon.

“Terutama bagaimana kontribusi dari perempuan-perempuan hebat yang ada di Ambon dalam membangun ketangguhan masyarakat pada berbagai sektor, terutama pada pembangunan kota Ambon menjadi wilayah yang semakin baik,” katanya.

Workshop berdurasi 4 jam tersebut berhasil menarik perhatian peserta dan membuat mereka larut ke dalam kisah pengalaman dan cerita yang dipaparkan oleh para pemateri. Kegiatan yang dipandu oleh Ibu Dr. Bokiraiya Latuamury, S. Hut, M.Sc ini dihadiri oleh 50 peserta di Ruang Aula Pascasarjana Universitas Pattimura, Ambon dan disiarkan langsung pada kanal youtube official Pascasarjana Universitas Pattimura.

Dalam paparannya masing masing narasumber menceritakan pengalaman pribadi terkait peran selama ini dalam memperjuangkan hak hak perempuan dan usaha untuk terlibat dalam berbagai pengambilan keputusan.

Dalam materinya Baihajar Tualeka, S.H. menekankan bahwa, “Perempuanlah yang menjadi inisiator damai pada konflik 1999 dan pelopor dalam membangun kembali solidaritas antar masyarakat sesuai dengan nilai-nilai moral dan semboyan yang diterapkan di masyarakat Ambon potong di kuku, rasa di daging, Ale rasa beta rasa, Sagu salempang dipatah menjadi 2.”

Kegiatan ini mendapatkan antusiasme tinggi dari peserta. Pertanyaan-pertanyaan menarik terus bergulir tidak hanya dari pihak perempuan akan tetapi, pihak laki-laki yang juga turut aktif bertanya dan memberikan tanggapan. Peserta juga berharap kegiatan lanjutan dapat dilakukan kembali untuk menjawab dan memberikan insight yang lebih luas terhadap isu-isu dan peran perempuan dalam membangun ketahanan masyarakat .

Dalam diskusinya Prof. Dr. Ir. Aphrodite Milana Sahusilawane, M.S mengatakan “saya selalu takjub setiap mendengar pengalaman dan peran yang dimainkan perempuan dalam kehidupan ini. Bagi saya perempuan merupakan madrasah utama bagi setiap ilmu dalam kehidupan. Oleh karena itu, acara dan kegiatan ini menjadi salah satu kesempatan untuk menyebarluaskan Peran dan Fungsi perempuan dalam membangun ketahanan keluarga agar semua tau bahwa perempuan mampu tampil sebagai sosok yang tangguh dalam setiap kondisi.

Pada akhir acara Dra. Olivia. Ch Salampessy, MP turut mengajak semua lapisan masyarakat untuk perlahan mulai merubah cara pandang terhadap perempuan karena “Perempuan selalu mampu tampil sebagai penyelamat pada kondisi-kondisi kritis”.

“Jadi mari sama-sama kita mulai melihat dan menilai bahwa perempuan dan laki-laki mempunya hak yang sama termasuk terhadap pengakuan identitas keberadaannya sebagai manusia,” pungkasnya. []

Ismiatul Ramadhian Nur

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button