
Jakarta – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengusulkan agar dana otonomi khusus (otsus) untuk Aceh diperpanjang. Usulan ini muncul seiring kondisi Aceh yang masih tertatih dan dinilai masih membutuhkan waktu panjang untuk pulih dari bencana.
Hal tersebut disampaikan Tito dalam rapat kerja bersama Komisi II DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/4). Ia mengungkapkan aspirasi perpanjangan dana otsus kerap disampaikan oleh berbagai pihak dari Aceh.
“Memang ada dalam kunjungan-kunjungan dan juga menerima delegasi dari Aceh, selalu menyampaikan meminta agar, karena tingkat kemiskinan masih tinggi di atas nasional dan Sumatera, pengangguran juga tinggi, meskipun IPM membaik tapi di bawah nasional, masih perlu, mereka masih memerlukan dana otonomi khusus,” kata Tito, dilansir dari detik.com, Senin (13/4).
Menurut Tito, ada juga harapan agar besaran dana otsus ditingkatkan, menyesuaikan dengan skema yang diterapkan di Papua.
“Dan mengusul ya mungkin melihat dari Papua bertambah 2,25% sampai tahun 2040 ya, 41 ya? Dan kemudian mereka juga mengharapkan otsus ini diperpanjang dan dananya, besarannya juga ya kalau enggak bisa sama seperti Papua 2,25% kembali ke 2%. Itu permintaannya dari teman-teman di sana,” sambungnya.
Tito menilai usulan tersebut masuk akal, mengingat kondisi Aceh yang masih dalam tahap pemulihan akibat bencana. Ia menyebut proses menuju kondisi normal tidak bisa dilakukan secara cepat.
“Saya sebagai Ketua Satgas memperkirakan itu lebih kurang timeline-nya menuju normality, hanya normal fungsional, mungkin 2 bulan 3 bulan ke depan masih bisa, bisa menuju normal fungsional saja,” ujarnya.
Namun, upaya pemulihan kerap terganggu oleh bencana susulan. Tito mencontohkan banjir dan longsor yang kembali terjadi di beberapa wilayah seperti Aceh Tengah dan Pidie Jaya.
“Kemarin minggu lalu Aceh Tengah hujan lebat jalan-jalan longsor lagi, jembatan juga banyak yang ada beberapa yang kemudian terseret lagi ini. Kemudian juga dua hari yang lalu di Pidie Jaya banjir lagi, Bupatinya lapor sama saya 50 cm sampai 80 cm lumpur di sana. Padahal sudah kita lakukan perbaikan-perbaikan ya,” ungkapnya.
“Inilah situasi lapangan. Jalan yang putus lagi padahal sudah dibuka. Ini sekarang sedang kerja keras semua dari TNI, Polri, kemudian Kementerian PU, BNPB semua sedang bekerja untuk melakukan normalisasi kembali,” lanjut dia.
Lebih jauh, Tito memperkirakan pemulihan penuh pascabencana di Aceh membutuhkan waktu cukup panjang, minimal tiga tahun. Hal ini disebabkan luasnya dampak kerusakan yang terjadi.
“Tapi jujur bahwa apa untuk melakukan pemulihan ini paling cepat menurut saya adalah tiga tahun,” ujarnya.
Ia merinci, ribuan fasilitas umum terdampak, termasuk lebih dari 4.000 fasilitas pendidikan. Selain itu, sekitar 36.000 rumah mengalami kerusakan berat atau hilang, serta sedikitnya 79 sungai membutuhkan normalisasi.
Melihat kondisi tersebut, Tito kembali menegaskan pentingnya dukungan fiskal melalui perpanjangan dana otsus.
“Ini mungkin sambil itu juga mungkin salah satu pendorong kalau menurut kami perlu adanya dana otsus ini diperpanjang di Aceh dan kalau memang kemampuan fiskal negara memungkinkan, mungkin dikembalikan ke 2%, saran kami,” tuturnya. []





