News

Arisan Buku Subulussalam: Kolaborasi Menjemput Pembaca di Ruang Terbuka

GERIMIS turun perlahan pada Minggu (2/8) sore. Langit Kota Subulussalam sudah mendung sedari siang, tetapi halaman Lapangan Sadakata justru dipenuhi percakapan hangat. Selembar tikar yang sejatinya adalah spanduk bekas digelar di atas paving. Puluhan buku disusun rapi, sementara beberapa anak dan orang dewasa duduk bersila membuka halaman demi halaman buku yang digelar.

Suasana sore tadi guyub. Kadang diinterupsi suara tawa, obrolan ringan, dan sesekali bunyi lembar buku yang dibalik oleh tangan-tangan pembaca.

Lapangan Sadakata yang selama ini lebih akrab dengan hiruk-pikuk aktivitas sore warga, tiba-tiba menghadirkan sebuah ruang kecil untuk merayakan kebiasaan membaca.

Kami menamainya Arisan Buku: Lapak Baca Lapangan Sadakata.

Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Subulussalam, BEM STIT Hamzah Fansuri, dan Sadakata Leadership Academy. Gagasannya sederhana, bagaimana kolaborasi komunitas bisa menghadirkan buku lebih dekat kepada masyarakat, sekaligus menghidupkan kembali budaya literasi yang mulai memudar.

Puluhan koleksi buku yang memenuhi lapak baca sore itu berasal dari Perpustakaan Desa (Perpusdes) Penuntungan, sebuah perpustakaan desa yang selama ini dikelola dengan penuh dedikasi oleh Fitriana. Di kalangan pegiat literasi Subulussalam, nama perempuan paruh baya itu bukan sosok asing. Kak Fitri, begitu ia akrab disapa, dikenal sebagai motor penggerak literasi, pemilik Perpusdes Penuntungan, sekaligus relawan aktif Relima yang selama bertahun-tahun mengumpulkan, merawat, dan membawa buku-buku agar dapat menjangkau lebih banyak pembaca.

Bagi Fitriana, perpustakaan tidak boleh berhenti menjadi bangunan yang menunggu didatangi. Buku harus bergerak mendatangi masyarakat. Maka sore tadi, buku-buku ikut “berjalan” menuju lapangan.

Di atas tikar sederhana, novel anak, ensiklopedia, buku cerita bergambar, hingga bacaan pengetahuan umum tersaji. Siapa pun boleh membaca. Tanpa syarat dan tanpa dipungut biaya.

Tentu saja pemandangan sore tadi di Lapangan Sadakata menghadirkan optimisme kecil di tengah tantangan besar literasi Indonesia.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2026 melalui Susenas Modul Sosial Budaya dan Pendidikan menunjukkan bahwa perilaku membaca masyarakat Indonesia masih didominasi oleh bacaan tertentu, sementara akses masyarakat terhadap informasi melalui media elektronik dan internet terus meningkat. Kondisi ini menjadi tantangan bagi upaya membangun budaya membaca buku secara berkelanjutan.

Sementara itu, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang disusun Perpustakaan Nasional juga memperlihatkan masih adanya kesenjangan literasi antarwilayah, termasuk di berbagai daerah di Aceh yang masih menghadapi keterbatasan akses perpustakaan, koleksi bacaan, serta ruang membaca publik.

Subulussalam tidak berada di luar tantangan itu. Kota ini masih memiliki jumlah perpustakaan komunitas yang terbatas, kegiatan literasi yang belum berlangsung secara berkesinambungan, serta minimnya ruang publik yang secara rutin mempertemukan masyarakat dengan buku.

Membangun budaya membaca tidak selalu dimulai dari gedung perpustakaan yang megah. Budaya membaca bisa lahir dan mengakar dari ruang-ruang sederhana seperti tikar yang digelar di lapangan, lapak baca dan warga yang bertemu dalam arisan buku.

Karena itu, Arisan Buku bukan sekadar agenda membaca bersama. Arisan Buku merupakan upaya menghadirkan ekosistem literasi yang hidup—mendorong masyarakat untuk berbagi buku, berbagi cerita, dan berbagi pengetahuan.

Semangat yang sama juga dirasakan oleh Icha, perwakilan BEM STIT Hamzah Fansuri, yang mengikuti kegiatan sejak awal hingga selesai. Menurutnya, ruang-ruang literasi seperti ini perlu dijadikan agenda rutin.

“Kegiatan seperti ini sangat positif. Kolaborasi bersama di Arisan Buku bisa dilaksanakan setiap minggu agar semakin banyak masyarakat, terutama anak-anak dan mahasiswa, yang terbiasa membaca dan berdiskusi bersama,” ujarnya.

Harapan itu menjadi penting. Sebab budaya baca tidak dibangun melalui seremonial sesaat, melainkan melalui kebiasaan yang terus diulang. Setiap pekan. Setiap bulan. Hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Kolaborasi antara komunitas, kampus, dan lembaga pendidikan seperti yang dilakukan Relima, BEM STIT Hamzah Fansuri, dan Sadakata Leadership Academy memperlihatkan bahwa gerakan literasi tidak harus menunggu program besar pemerintah. Gerakan literasi dapat tumbuh dari inisiatif warga yang percaya bahwa perubahan selalu dimulai dari langkah kecil.

Ketika gerimis akhirnya reda. Matahari mulai tenggelam di balik pepohonan. Setelah berhasil menjemput pembaca, satu per satu buku kembali dimasukkan ke dalam kotak. Tikar dilipat. Para relawan bersiap pulang.

Namun bagi setiap relawan yang hadir sore tadi bisa merasakan; bahwa ada harapan yang baru ditanam. Untuk perubahan masyarakat dan peradaban kota yang lebih baik, dari sebuah lapak baca sederhana di Kota Subulussalam. []

M. Fauzan Febriansyah
Kepala Sekolah Sadakata Leadership Academy

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button