
Aceh Barat – Di sebuah rumah sederhana di Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, suara halus jarum yang menembus kain beludru terdengar nyaris tanpa jeda. Di sanalah, Ema Mutiara Deka menghabiskan hari-harinya—menyulam benang emas menjadi kisah panjang tentang tradisi, ketekunan, dan harapan.
Bagi sebagian orang, kasab mungkin hanya tampak sebagai hiasan berkilau di pelaminan adat atau perlengkapan upacara. Namun di tangan Ema, sulaman itu menjelma menjadi lebih dari sekadar karya seni—ia adalah identitas, warisan, sekaligus sumber penghidupan.
Sebagai anggota Persit Kartika Chandra Kirana, Ema menjalani dua dunia yang berjalan beriringan. Di satu sisi, ia mendampingi suaminya, seorang prajurit yang bertugas di Aceh Barat. Di sisi lain, ia membangun usaha kasab yang kini dikenal dengan nama “Mutiara Kasab”.
Keahlian itu bukan datang tiba-tiba. Sejak kecil, Ema sudah akrab dengan benang dan pola. Ia belajar dari orang tuanya, yang juga pengrajin kasab. Dari tangan merekalah, ia mewarisi keterampilan sekaligus kecintaan terhadap budaya Aceh.
“Setiap motif itu ada maknanya,” begitu prinsip yang ia pegang.

Motif pucok rebung, misalnya, melambangkan pertumbuhan dan harapan. Pinto Aceh mencerminkan keagungan budaya, sementara sulubayung khas Aceh Barat menyimpan nilai kehangatan dan kebersamaan. Semua itu tidak sekadar disulam, tetapi juga “diceritakan” lewat setiap tusukan jarum.
Prosesnya pun tak singkat. Dari menggambar pola hingga menyelesaikan sulaman, satu karya bisa memakan waktu hingga sebulan. Semuanya dikerjakan secara manual—tanpa mesin, tanpa jalan pintas.
Dari ruang kerjanya, lahir berbagai produk: pelaminan adat, perlengkapan peusijuk, busana, tas, hingga hiasan rumah. Karyanya tak hanya bertahan di pasar lokal, tetapi juga menjangkau luar daerah.
Namun, bagi Ema, keberhasilan bukan sekadar soal penjualan.
Ia justru menemukan kebahagiaan ketika mampu mengajak perempuan di sekitarnya untuk ikut menyulam. Di sela aktivitas rumah tangga, ibu-ibu di desanya berkumpul, belajar, dan bekerja bersama.
Dari situlah, perlahan terbentuk sebuah komunitas kecil—yang tak hanya menghasilkan kerajinan, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi.
“Tantangannya pasti ada,” katanya, Rabu (29/4). Penjualan yang naik turun menjadi bagian dari perjalanan. Tapi bagi Ema, bertahan adalah pilihan, dan berinovasi adalah keharusan.
Di tengah gempuran produk modern, ia tetap menjaga keaslian kasab. Namun, bukan berarti menutup diri dari perubahan. Melalui pameran dan media sosial, ia mencoba memperkenalkan kasab dengan sentuhan yang lebih segar, tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Peran sebagai istri prajurit pun memberi warna tersendiri. Kehidupan yang menuntut disiplin dan kesiapsiagaan justru membentuk karakter Ema—tangguh, sabar, dan konsisten.
Dari desa kecil di Aceh Barat, ia menunjukkan bahwa karya besar tak selalu lahir dari tempat besar. Kadang, ia tumbuh dari kesabaran, dari cinta pada tradisi, dan dari keinginan sederhana: membantu sesama.
Di antara benang-benang emas yang ia sulam, terselip cerita tentang perempuan yang tidak hanya menjaga budaya, tetapi juga menghidupkan harapan.
Dan dari tangan Ema, kasab terus bercerita—tentang Aceh, tentang perempuan, dan tentang masa depan yang tetap berakar pada tradisi. []





