News

ToF Peace Generation Aceh: Cetak Agen Perubahan Lewat 12 Nilai Perdamaian

Banda Aceh – Di tengah maraknya narasi polarisasi dan ujaran kebencian di ruang publik, Peace Generation Aceh hadir membawa angin segar. Melalui program Training of Facilitator (ToF) yang digelar sepanjang Juni hingga Agustus 2025, komunitas ini berkomitmen melahirkan generasi fasilitator damai yang mampu menjawab tantangan sosial dengan pendekatan nilai dan empati.

Dengan tajuk “From Youth to Peace Leaders”, program ToF ini digelar selama tiga bulan penuh, membahas 12 Nilai Dasar Perdamaian (12 NDP), mulai dari menerima diri sendiri hingga memaafkan yang dikemas dalam suasana edukatif dan reflektif.

Uniknya, pelatihan ini dilaksanakan empat kali dalam sebulan, tepatnya setiap malam akhir pekan (Sabtu atau Minggu malam). Model ini dirancang agar fleksibel bagi para peserta yang berasal dari berbagai latar komunitas dan aktivitas. Format mingguan juga memungkinkan ruang pendalaman nilai secara bertahap dan berkelanjutan.

“Kami ingin mencetak fasilitator muda yang bukan hanya bisa berbicara tentang perdamaian, tapi hidup dan memperjuangkannya. Pelatihan ini bukan tentang menghafal modul, tapi tentang menghidupi nilai,” ungkap Koordinator Umum PeaceGen Aceh, Avicenna Al Maududdy dalam keterangannya, Senin (16/6/2025).

Kegiatan berlangsung dengan metode pelatihan yang mengedepankan fasilitasi partisipatif, diskusi kelompok, simulasi konflik, serta studi kasus lokal khas Aceh. Para peserta juga akan mendapatkan pelatihan komunikasi efektif, teknik mediasi, hingga cara membangun ruang aman (safe space) dalam komunitas.

“Karena perdamaian bukan sesuatu yang kita tunggu, tapi sesuatu yang harus kita bentuk, bersama,” ungkap Kevin Leonardy, Sekretaris Umum PeaceGen Aceh.

Dengan pendekatan yang santai namun substansial, peserta ToF akan mengikuti pelatihan sebanyak 4 kali dalam sebulan, artinya satu bulan langsung dapat 4 nilai, dan selesai dalam tiga bulan. Pelatihan ini bukan sekadar sesi teori, tapi juga praktik fasilitasi, diskusi antar komunitas, refleksi pribadi, hingga studi kasus nyata yang diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh.

Materi yang dibahas bukan tema biasa, tapi soal: Menerima diri sendiri (self-acceptance), Mengelola prasangka, Toleransi lintas iman, Kesetaraan gender, Empati terhadap perbedaan, Menolak kekerasan, hingga seni memaafkan yang menyembuhkan.

ToF bukan hanya tempat belajar jadi fasilitator damai, tapi juga ruang healing kolektif, tempat berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi. Pelatihan ini dirancang agar para peserta bisa menjadi role model di komunitasnya, bukan dengan gaya menggurui, tapi melalui contoh nyata dan praktik nilai.

“Peace itu bukan teori tinggi. Tapi soal bagaimana kita menyapa sesama dengan senyum, menahan ego dalam debat, atau tahu cara mengelola konflik tanpa emosi. Itulah yang kami latih di ToF ini,” ujar Nyanyak Marawan Putri, Bendahara Umum PeaceGen Aceh.

Dengan metode fasilitasi partisipatif, simulasi peran, diskusi kelompok kecil, serta penguatan komunikasi empatik, para peserta akan dibentuk menjadi fasilitator yang siap terjun ke berbagai ruang sosial dari sekolah, dayah, pesantren, hingga komunitas inklusif lintas iman dan gender.

Program ini terbuka bagi pengurus PeaceGen Aceh serta aktivis muda lintas komunitas. Targetnya adalah terbentuknya minimal 20 fasilitator bersertifikat yang siap turun ke komunitas, sekolah, hingga ruang-ruang interaksi lintas iman dan budaya.

“Aceh memiliki jejak sejarah panjang tentang konflik dan rekonsiliasi. Namun hari ini, anak-anak mudanya menolak mewarisi trauma; mereka memilih menjadi jembatan, bukan tembok. Melalui Peace Generation, gerakan damai kini tumbuh dari akar dari anak muda untuk sesamanya,” ungkap Aulia Salsabila, peserta Training of Facilitator (ToF) PeaceGen Aceh.

ToF 2025 ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi munculnya gelombang baru fasilitator muda yang tidak hanya aktif di PeaceGen, tapi juga siap menebarkan nilai-nilai damai ke berbagai pelosok Aceh. Mereka bukan hanya lulusan pelatihan, tapi juga penyala cahaya di tengah hiruk-pikuk media sosial, polarisasi politik, dan fragmentasi sosial di Aceh. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button