DuniaNews

Intel Rusia Mulai Bantu Iran, Beri Info Target untuk Hantam AS

Jakarta – Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat di Timur Tengah berpotensi semakin meluas. Intelijen Amerika Serikat menyebut Rusia diduga memberikan informasi penargetan militer kepada Iran untuk menyerang aset militer AS di kawasan tersebut.

Laporan yang dikutip dari The Washington Post, Sabtu (7/3) menyebutkan, informasi tersebut berasal dari tiga pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut.

Mereka menyebut sejak perang pecah pada Sabtu lalu, Rusia disebut memberikan data lokasi sejumlah aset militer Amerika Serikat kepada Iran, termasuk kapal perang dan pesawat tempur.

Informasi ini dinilai menjadi indikasi awal keterlibatan tidak langsung Moskow dalam konflik yang berkembang cepat di Timur Tengah.

Kremlin sendiri belum memberikan tanggapan rinci terkait tuduhan tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov hanya menolak memberikan komentar.

Sebelumnya Moskow juga menyerukan penghentian konflik yang mereka sebut sebagai “tindakan agresi bersenjata tanpa provokasi.”

Para analis menilai pola serangan Iran terhadap fasilitas militer Amerika menunjukkan tingkat presisi yang tinggi.

Serangan tersebut dilaporkan menargetkan radar peringatan dini, pusat komando, serta infrastruktur militer penting milik AS di kawasan Timur Tengah.

Ahli militer Rusia di Carnegie Endowment for International Peace, Dara Massicot mengatakan pola serangan tersebut terlihat sangat terarah.

“Iran melakukan serangan yang sangat tepat sasaran pada radar peringatan dini atau radar di luar cakrawala,” katanya.

“Mereka melakukan ini dengan cara yang sangat terarah. Mereka mengincar komando dan kendali,” tambahnya.

Salah satu serangan juga dilaporkan menghantam fasilitas milik CIA di kedutaan besar Amerika Serikat di Riyadh, Arab Saudi.

Penilaian internal Departemen Luar Negeri AS menyebut sebagian bangunan kedutaan mengalami kerusakan berat dan tidak dapat dipulihkan.

Iran diketahui hanya memiliki sedikit satelit militer dan tidak memiliki konstelasi satelit sendiri.

Karena itu, dukungan intelijen dari Rusia dinilai sangat penting, terutama dalam menyediakan citra dan pelacakan target militer secara real-time.

Peneliti dari Belfer Center, Nicole Grajewski menilai serangan Iran menunjukkan peningkatan kemampuan yang signifikan.

“Mereka berhasil menembus pertahanan udara,” ujarnya.

Ia juga menilai kualitas serangan Iran kali ini bahkan meningkat dibanding konflik singkat dengan Israel pada tahun lalu.

Sementara itu dua pejabat AS yang mengetahui laporan intelijen tersebut mengatakan bahwa China tampaknya tidak terlibat langsung membantu Iran dalam operasi militer tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Kedutaan Besar China di Washington hanya menekankan pentingnya penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.

Pemerintah China menyebut konflik yang terjadi harus “segera dihentikan.”

Hubungan militer antara Iran dan Rusia sendiri sudah terjalin erat sejak perang di Ukraina pecah pada 2022.

Iran sebelumnya memberikan teknologi drone serang murah kepada Rusia yang digunakan dalam operasi militer di Ukraina.

Salah satu pejabat AS mengatakan dukungan Rusia kepada Iran bisa menjadi bentuk balasan atas bantuan tersebut.

“Rusia sangat menyadari bantuan yang kami berikan kepada Ukraina,” kata pejabat tersebut.

“Saya pikir mereka sangat senang mencoba membalas budi.”

Sejumlah analis menilai Rusia berpotensi mendapat keuntungan strategis jika konflik antara Amerika Serikat dan Iran berlangsung lama.

Selain berpotensi meningkatkan harga minyak global, konflik tersebut juga dapat mengalihkan perhatian Amerika Serikat dan Eropa dari perang di Ukraina.

Jika konflik semakin meluas, Timur Tengah berpotensi menjadi arena baru persaingan geopolitik antara kekuatan besar dunia. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button