NewsOlahraga

Amerika Serikat tak Layak Jadi Host Piala Dunia 2026

Banda Aceh – Amerika Serikat dinilai tidak layak menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 setelah sejumlah kebijakan imigrasi negara tersebut disebut menghambat kedatangan wasit, ofisial tim hingga suporter dari beberapa negara peserta.

Kritik itu disampaikan pegiat sepak bola Aceh, Munawardi Ismail. Menurutnya, kebijakan tersebut bertentangan dengan semangat sepak bola yang seharusnya menjadi ajang pemersatu dan mempererat persaudaraan antarbangsa.

“Sepak bola seharusnya menjadi ruang perjumpaan seluruh bangsa, bukan ruang yang dibatasi tembok-tembok politik dan imigrasi. Sepak bola itu tanpa sekat, tanpa peluit imigrasi,” kata Munawardi di Banda Aceh, Jumat (12/6).

Munawardi menyoroti kasus wasit asal Somalia, Artan, yang ditolak masuk ke Amerika Serikat. Padahal, Artan merupakan peraih penghargaan Wasit Terbaik Afrika 2025 dan berpeluang menjadi wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan Piala Dunia.

Akibat penolakan tersebut, Artan dicoret dari daftar perangkat pertandingan FIFA.

“Sebuah turnamen dunia seharusnya menjamin seluruh peserta, ofisial, dan perangkat pertandingan dapat hadir tanpa hambatan administratif yang diskriminatif,” ujarnya.

Menurut Munawardi, kasus Artan bukan satu-satunya persoalan yang muncul menjelang penyelenggaraan turnamen. Ia menyebut sejumlah laporan juga mengindikasikan adanya kendala visa dan pembatasan masuk yang dialami ofisial maupun anggota delegasi dari beberapa negara peserta.

Pria yang berprofesi sebagai wartawan olahraga itu menilai kondisi tersebut mencoreng citra Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai negara demokratis dan terbuka.

Tak hanya soal imigrasi, Munawardi juga mempertanyakan kelayakan Amerika Serikat sebagai tuan rumah dari sisi moral dan politik luar negeri.

Ia menilai FIFA terkesan menerapkan standar ganda dalam menyikapi persoalan geopolitik. Menurutnya, FIFA pernah menjatuhkan sanksi kepada Rusia terkait perang di Ukraina, namun berbagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat tidak pernah menjadi pertimbangan dalam penentuan status maupun penyelenggaraan turnamen internasional.

“FIFA harus menunjukkan konsistensi dalam menegakkan prinsip-prinsip yang selama ini mereka gaungkan. Jangan sampai sepak bola justru tunduk pada kepentingan politik negara tertentu,” kata pria yang sempat menjadi promotor Martunis mencicipi latihan bola di Sporting Lisbon ini.

Munawardi berharap FIFA melakukan evaluasi menyeluruh terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada turnamen internasional di masa mendatang. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button