
Jakarta – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Sucofindo (Persero) dan PT Surveyor Indonesia (Persero) untuk optimalisasi penyediaan layanan jasa dalam mendukung kegiatan dan kapasitas nasional sektor hulu minyak dan gas bumi.
MoU tersebut ditandatangani oleh Kepala BPMA Nasri Djalal, Direktur Utama PT Sucofindo Jobi Triananda, dan Direktur Utama PT Surveyor Indonesia Sandry Pasambuna di Jakarta, pekan lalu.
Nasri menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat rantai nilai (value chain) industri migas di Aceh.
“Kerja sama ini merupakan langkah strategis dan value-chain yang efektif dalam kolaborasi mitra kerja strategis dalam mendukung dan meningkatkan kehandalan operasi hulu migas, guna mewujudkan kemandirian dan ketahanan energi,” ujar Nasri dalam keterangannya, Senin (3/11/2025).
Ia menambahkan, kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pelaksanaan program kerja agresif di sektor hulu migas, meningkatkan produksi nasional dan regional, serta membuka peluang kerja bagi masyarakat.
Sebagai regulator hulu migas di Aceh, BPMA berupaya memanfaatkan kerja sama dengan dua BUMN di bawah Holding Jasa Survei itu — Sucofindo dan Surveyor Indonesia — yang memiliki kompetensi di bidang pengujian, inspeksi, sertifikasi, konsultansi, dan verifikasi.
Kolaborasi ini diharapkan menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi sektor-sektor lain, serta mendorong tumbuhnya industri penunjang migas di Aceh.
Terkait peningkatan kapasitas nasional, Nasri menyoroti pentingnya penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di industri hulu migas.
“Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama dalam pengelolaan migas saat ini adalah peningkatan TKDN. Pemerintah melalui berbagai regulasi mendorong agar penggunaan barang, jasa, dan tenaga kerja dalam negeri terus ditingkatkan,” kata Nasri.
Menurutnya, realisasi capaian komitmen TKDN gabungan barang dan jasa pada kegiatan hulu migas di wilayah kewenangan BPMA hingga Kuartal III 2025 telah mencapai 69,78 persen. BPMA juga optimistis capaian TKDN tahun 2025 akan mencapai 65 persen sesuai proyeksi nasional.
Nasri berharap kerja sama ini segera ditindaklanjuti dengan langkah konkret yang memberikan dampak langsung bagi kegiatan operasional migas di Aceh serta ekonomi daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama PT Surveyor Indonesia, Sandry Pasambuna mengatakan MoU tersebut mencerminkan dua semangat besar.
“Semangat BPMA dalam menjaga, mengelola dan mengoptimalkan sumber daya energi Aceh dan Indonesia secara berkelanjutan dan berintegritas. Serta semangat PT Surveyor Indonesia dan PT Sucofindo dalam memastikan mutu, keselamatan, serta berkelanjutan di setiap sendi pembangunan nasional,” ujarnya.
Sandry juga mengumumkan rencana pembukaan kantor cabang Surveyor Indonesia di Aceh untuk memperkuat koordinasi dan layanan di wilayah tersebut.
“Hal ini dapat mempermudah koordinasi dan memperkuat layanan kami di Wilayah Aceh, membuka peluang ekonomi dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan industri di wilayah Aceh,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama PT Sucofindo Jobi Triananda menegaskan bahwa sinergi antara kedua BUMN jasa survei dan BPMA bukan hal baru.
“Kita telah bekerjasama dalam berbagai inisiatif strategis sebelumnya, yang memperkuat fondasi tata kelola, transparansi, dan efisiensi pengelolaan sektor migas Aceh,” ujarnya.
Menurut Jobi, kerja sama ini akan menjadi model kolaborasi nasional antar-BUMN dan lembaga daerah untuk memperkuat industri energi nasional agar tangguh, mandiri, dan berdaya saing global.
“Momentum ini mempertegas komitmen berkelanjutan dari PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia untuk aktif mendorong kemajuan Aceh melalui dukungan teknis dan profesionalisme personel serta layanan institusional,” ucapnya. []





