HukumNews

Iran Lumpuhkan Jet Siluman AS dengan Teknologi Termal

Teheran – Ketangguhan jet tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat kembali dipertanyakan setelah Iran mengklaim berhasil merusak salah satu unitnya menggunakan sistem pertahanan udara Majid (AD-08). Insiden tersebut disebut memaksa pesawat melakukan pendaratan darurat di wilayah Timur Tengah.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis rekaman sensor inframerah pada Jumat (20/3). Video itu memperlihatkan sebuah drone melacak target udara yang disebut menyerupai F-35. Tak lama kemudian, proyektil terlihat meledak di dekat sasaran.

IRGC mengklaim jet tersebut terkena dan rusak parah, meski tidak merinci jenis senjata yang digunakan dalam serangan itu.

Mengutip laporan CNN, Sabtu (21/3), dua sumber internal menyebut satu unit F-35 memang melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara di kawasan Timur Tengah setelah diduga terkena tembakan dari wilayah Iran.

Juru bicara Komando Pusat AS (Centcom), Kolonel Tim Hawkins, membenarkan insiden tersebut. Ia menyatakan pesawat F-35A Angkatan Udara AS mendarat darurat saat menjalankan misi tempur di atas Iran.

“Pesawat mendarat dengan selamat dan pilot dalam kondisi stabil. Insiden ini masih dalam penyelidikan,” ujarnya.

Sistem Majid Jadi Sorotan

Laporan sejumlah media militer menyebut sistem Majid sebagai faktor kunci dalam insiden ini. Sistem pertahanan udara jarak pendek buatan Iran itu dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman, mulai dari drone, rudal jelajah, hingga pesawat tempur yang terbang rendah.

Berbeda dari sistem konvensional berbasis radar, Majid mengandalkan sensor elektro-optik dan pencitraan termal. Teknologi ini memungkinkan pelacakan target berdasarkan panas mesin, bukan pantulan gelombang radar.

Kemampuan tersebut dinilai menjadi keunggulan utama:

  • Anti-siluman: Tidak bergantung pada radar, sehingga lebih efektif terhadap pesawat stealth.
  • Senyap: Tidak memancarkan sinyal radio, membuatnya sulit terdeteksi sistem peringatan dini.
  • Anti-jamming: Tidak mudah diganggu oleh perang elektronik.

Disebutkan pula, sistem ini mampu melacak hingga empat target sekaligus dalam jarak sekitar 15 kilometer. Jika dipadukan dengan radar Kashef-99, jangkauan deteksinya bisa meningkat hingga 30 kilometer.

Selain Majid, sejumlah analis militer menduga keterlibatan rudal antipesawat portabel (MANPADS) 9K333 Verba buatan Rusia. Iran diyakini memiliki ratusan unit sistem ini.

Verba menggunakan pencari optik multispektral yang mampu membedakan target asli dari umpan seperti flare atau gangguan inframerah lainnya.

Pengamat militer menilai perkembangan sistem pertahanan udara bergerak Iran kini menjadi ancaman serius, bahkan bagi pesawat generasi kelima seperti F-35.

Sistem yang bersifat mobile dan minim emisi ini dinilai sulit dideteksi, sehingga mempersempit waktu reaksi pilot di udara.

Sejauh ini, belum ada laporan kehilangan jet tempur berawak dari pihak AS maupun Israel. Namun, Iran tercatat telah menembak jatuh sedikitnya 11 drone MQ-9 Reaper serta sejumlah pesawat nirawak canggih lainnya dalam beberapa tahun terakhir.

Situasi ini memperlihatkan bahwa dominasi teknologi siluman tidak lagi sepenuhnya kebal, terutama menghadapi sistem pertahanan berbasis sensor termal yang terus berkembang. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button