
Bireuen – Pendidikan tinggi di tengah arus globalisasi dan komersialisasi Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga tampil sebagai oase pendidikan yang langka dan unik. Berlokasi di pesisir utara Aceh, UNISAI bukan hanya sekadar kampus yang menawarkan program studi Islami, melainkan sebuah institusi pendidikan tinggi yang mengintegrasikan secara penuh antara sistem pendidikan tradisional Dayah (pesantren) dengan sistem akademik kampus modern.
Yang menjadikan UNISAI begitu istimewa adalah kewajiban semua mahasiswanya untuk tinggal di dayah (mondok). Ini bukan sekadar syarat administratif, melainkan bagian dari filosofi pendidikan kampus: membentuk pribadi intelektual yang juga berkarakter, berakhlak, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Hal ini sejalan dengan model pendidikan holistik yang banyak dicita-citakan tetapi jarang benar-benar diterapkan di Indonesia.
Satu keunikan yang sangat menonjol di UNISAI adalah jadwal perkuliahan yang dimulai setelah salat Zuhur hingga menjelang Magrib. Waktu pagi hari dimanfaatkan untuk kegiatan keilmuan pesantren seperti mengaji kitab kuning, halaqah tafsir, fikih, dan akidah. Malam harinya, para mahasiswa kembali ke rutinitas dayah dengan pengajian, zikir jama’i, serta pembinaan spiritual lainnya.
Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya dijejali teori akademik dari ruang kuliah, tapi juga diasah spiritualitasnya setiap hari dalam suasana yang khas pesantren. Dalam sehari, mahasiswa UNISAI mengalami tiga dunia sekaligus: dunia akademik, dunia pesantren, dan dunia sosial keislaman berbasis komunitas. Inilah integrasi yang jarang ditemukan di kampus-kampus lain.
Hal yang juga menarik perhatian adalah budaya berpakaian civitas akademika UNISAI. Baik dosen maupun mahasiswa pada umumnya mengenakan kain sarung atau celana kain (celana khas dayah), menegaskan identitas keislaman dan kearifan lokal Aceh. Ini bukan sekadar simbol, tetapi perwujudan dari semangat kesederhanaan, kesopanan, dan penghormatan terhadap budaya pesantren yang telah mengakar kuat di Tanah Rencong.
Keunikan UNISAI menjadi jawaban atas krisis identitas dalam sistem pendidikan nasional. Di saat banyak kampus menjadi institusi yang terputus dari akar spiritual dan sosial, UNISAI justru menjadikan integrasi antara agama, budaya, dan ilmu sebagai fondasi utama. Ini sesuai dengan gagasan besar yang diungkapkan oleh tokoh pendidikan Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas, bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga mensucikan jiwa (ta’dib).
UNISAI juga menjadi inspirasi bagaimana sistem Dayah yang tradisional bisa dikembangkan menjadi model pendidikan tinggi alternatif tanpa kehilangan ruh-nya. Dosen-dosen di UNISAI bukan hanya para akademisi bergelar S2 dan S3, tetapi juga adalah alumni pesantren yang memahami dinamika sosial keislaman masyarakat Aceh. Beberapa dari mereka bahkan adalah pimpinan Dayah atau pengasuh majelis taklim.
Struktur Akademik UNISAI: Memadukan Ilmu dan Nilai
UNISAI saat ini memiliki tiga fakultas utama yang mendukung misi integratifnya:
Fakultas Tarbiyah dengan program studi: Pendidikan Agama Islam (PAI), Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Pendidikan Bahasa Arab
Fakultas Dakwah dan Komunikasi, meliputi: Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) jenjang S1 dan S2, Pengembangan Masyarakat Islam (PMI).
Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, terdiri dari: Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) dan Ekonomi Syariah (EKOS).
Program-program studi ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja, tetapi juga menjawab tantangan keumatan dan kebangsaan dengan basis keilmuan Islam yang kuat.
Dalam jangka panjang, UNISAI diproyeksikan menjadi pusat intelektual Islam di kawasan Barat Indonesia. Ia tidak hanya akan melahirkan sarjana, tetapi juga peneliti, pemikir Islam, dan pemimpin yang mampu menyatukan kekuatan ilmu dan keteguhan iman. Dalam iklim pendidikan nasional yang cenderung pragmatis, UNISAI memberi alternatif bahwa pendidikan bisa tetap bermakna, berakar, dan berdampak luas.
UNISAI menunjukkan bahwa integrasi antara pesantren dan kampus bukanlah utopia. Ia nyata, hidup, dan tumbuh di Samalanga, Aceh. Ketika dunia pendidikan tinggi cenderung kehilangan ruh, UNISAI justru menghidupkannya kembali. Di sini, ilmu bukan sekadar alat mencari kerja, tetapi jalan menuju keberkahan dan kebermanfaatan bagi umat.
Maka, UNISAI tidak hanya layak dibanggakan oleh Aceh, tetapi juga oleh Indonesia. Ia adalah simbol bahwa Islam, tradisi, dan ilmu pengetahuan bisa berjalan bersama, saling menguatkan, dan membentuk peradaban baru yang beradab. []
Laporan: Avicenna Al Maududdy, Dosen UNISAI Samalanga, Kab. Bireun, Aceh





