
Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali November 2026 dengan serangkaian agenda strategis untuk memperkuat ekosistem pasar modal Indonesia. Mulai dari mendorong perusahaan usaha kecil dan menengah (UKM) melantai di bursa, meningkatkan transparansi kepemilikan saham, hingga menggenjot literasi investasi masyarakat.
Berbagai inisiatif tersebut dilaksanakan BEI bersama sejumlah pemangku kepentingan dan Self-Regulatory Organization (SRO) sepanjang pekan pertama November 2026.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah meluncurkan Go Public Academy for SMEs pada Senin (2/11). Program ini merupakan hasil kolaborasi BEI dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), PT Surveyor Indonesia, serta sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.
Peluncuran yang berlangsung di Main Hall BEI tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman untuk memperkuat ekosistem pengembangan perusahaan menuju pasar modal.
Go Public Academy for SMEs menjadi bagian dari strategi akselerasi jangka panjang melalui program RISE to IPO. Program ini mencakup edukasi, peningkatan kapasitas, hingga pendampingan bagi perusahaan yang ingin melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).
Sejak 2025, rangkaian program RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota, yakni Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung.
Melalui program tersebut, BEI berupaya meningkatkan kualitas tata kelola, kesiapan keuangan, transparansi, serta daya saing perusahaan. Dengan demikian, semakin banyak perusahaan Indonesia diharapkan mampu berkembang menjadi organisasi profesional dan berkelanjutan, sekaligus memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Perkuat Transparansi Kepemilikan Saham
Selain mendorong perusahaan masuk bursa, BEI juga melakukan penyempurnaan aturan keterbukaan informasi kepemilikan saham.
Pada 2 November 2026, BEI menerbitkan Surat Keputusan (SK) Direksi Nomor Kep-00160/BEI/11-2026 tentang Perubahan Ketentuan Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham (SK LBRE).
Melalui ketentuan terbaru tersebut, informasi kepemilikan saham di atas 1% akan dilengkapi dengan status pemegang saham sebagai Pengendali maupun Afiliasi Pengendali.
Informasi tersebut selanjutnya dipublikasikan setiap bulan melalui situs web BEI.
Penyempurnaan ini diharapkan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai struktur dan konsentrasi kepemilikan saham perusahaan tercatat. Informasi tersebut juga dapat menjadi referensi bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.
Di sisi lain, kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi dan pengawasan pasar modal Indonesia.
CEO Networking 2026 Bahas Transparansi dan Kepercayaan Investor
Upaya memperkuat tata kelola perusahaan juga menjadi perhatian BEI dalam penyelenggaraan CEO Networking 2026 pada Selasa (3/11).
Kegiatan yang berlangsung di Raffles Hotel Jakarta tersebut diselenggarakan BEI bersama SRO lainnya dengan dukungan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Mengusung tema “Transforming Challenges into Value: Driving Growth and Increasing Trust through Transparency”, kegiatan ini dihadiri sekitar 400 peserta dari kalangan pimpinan perusahaan tercatat dan pemangku kepentingan pasar modal.
CEO Networking 2026 menjadi wadah pertukaran perspektif sekaligus memperkuat kolaborasi dalam menghadapi dinamika dunia usaha dan pasar modal.
Melalui diskusi panel dan sesi berbagi wawasan, kegiatan tersebut menekankan pentingnya transparansi, tata kelola perusahaan yang baik, integritas, serta kualitas keterbukaan informasi.
Aspek-aspek tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk membangun kepercayaan investor, meningkatkan daya saing, serta mendorong penciptaan nilai dan pertumbuhan perusahaan secara berkelanjutan.
CMSE 2026 Hadirkan 88 Booth dan 100 Tenant
Sementara itu, untuk meningkatkan literasi dan partisipasi masyarakat di pasar modal, BEI bersama OJK dan SRO lainnya menggelar Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026 pada 5-7 November 2026.
Bertempat di Main Hall BEI, kegiatan ini mengusung tema “Satu Langkah Investasi, Berjuta Peluang Masa Depan”.
CMSE 2026 menghadirkan berbagai seminar, talk show, serta pameran yang melibatkan 88 booth dan lebih dari 100 tenant dari berbagai pelaku industri pasar modal.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk mulai berinvestasi dengan bekal pengetahuan, perencanaan yang matang, serta pemahaman terhadap risiko investasi.
Penyelenggaraan CMSE 2026 juga berlangsung di tengah pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia. Hingga 15 Oktober 2026, jumlah investor telah mencapai 32.723.392 Single Investor Identification (SID).
Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.301.974 SID merupakan investor saham.
IHSG Turun 0,13% pada Pekan Pertama November
Di tengah berbagai inisiatif penguatan pasar modal tersebut, perdagangan saham di BEI sepanjang periode 2-6 November 2026 masih mencatatkan sejumlah tekanan.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,13% ke level 5.050,429 pada akhir perdagangan Jumat (6/11). Pada pekan sebelumnya, IHSG berada di posisi 5.057,050.
Kapitalisasi pasar BEI juga mengalami penurunan sebesar 1,34% menjadi Rp8.744 triliun dari sebelumnya Rp8.862 triliun.
Penurunan turut terjadi pada sejumlah indikator perdagangan. Rata-rata volume transaksi harian turun 3,50% menjadi 31,29 miliar saham, dibandingkan pekan sebelumnya sebanyak 32,43 miliar saham.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga berkurang 16,44% menjadi 1,29 juta kali transaksi dari sebelumnya 1,54 juta kali transaksi.
Sementara itu, rata-rata nilai transaksi harian mengalami penurunan paling besar, yakni 23% menjadi Rp11,04 triliun. Pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian tercatat Rp14,34 triliun.
Dari sisi aktivitas investor asing, pada perdagangan Jumat (6/11), tercatat nilai beli bersih atau net buy sebesar Rp328,20 miliar.
Meski demikian, secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing masih membukukan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp98,08 triliun.
Berbagai langkah yang dilakukan BEI pada awal November ini menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi pasar modal, mulai dari meningkatkan jumlah perusahaan yang memanfaatkan pendanaan melalui bursa, memperbaiki tata kelola dan transparansi, hingga memperluas basis investor domestik. []





