
Bireuen – Hingga hari ini, Desa Pantee Lhong di Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, masih menjadi salah satu wilayah terdampak banjir paling parah yang belum memperoleh bantuan memadai.
Warga terpaksa bertahan di lokasi pengungsian karena rumah mereka masih dipenuhi lumpur tebal sisa banjir.
Sejumlah warga mengaku tidak dapat kembali membersihkan rumah karena belum ada alat berat yang masuk ke desa untuk mengeruk material lumpur dan tumpukan sampah pascabanjir. Kondisi akses jalan yang rusak juga membuat proses evakuasi dan penyaluran logistik terhambat.
Keuchik Pantee Lhong, Murizal Haryanto, menyebutkan jumlah korban mencapai 343 KK, dengan total 1.359 jiwa, 321 rumah terdampak, dan dua orang meninggal dunia.
“Yang kami butuhkan sekarang bukan hanya makanan, tapi alat berat untuk membersihkan desa kami. Kami tidak bisa mulai membangun kalau lumpurnya masih setinggi ini,” ujar Murizal dalam keterangannya, Senin (1/12).
Hingga hari kelima pascabanjir, warga mulai merasa terabaikan karena belum ada kepastian kapan bantuan akan tiba. Anak-anak, lansia, dan ibu-ibu masih bertahan di tenda darurat dengan fasilitas seadanya, sementara rumah mereka belum bisa ditempati.
Warga berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera mengirimkan bantuan nyata, bukan sekadar melakukan pendataan.
Mereka menegaskan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat berat, tenaga relawan, air bersih, serta tempat tinggal sementara yang lebih layak.
Selain itu, warga meminta adanya posko kesehatan karena mulai muncul keluhan penyakit kulit dan demam pada anak-anak sejak banjir surut.
“Kami tidak ingin hanya didata, kami ingin dibantu. Rumah kami tertimbun lumpur, anak-anak mulai sakit, dan kami tidak tahu kapan bisa kembali ke kehidupan normal,” kata seorang ibu pengungsi yang kini tidur di tenda darurat.
Menurut warga, keterlambatan penanganan hanya akan memperpanjang penderitaan dan meningkatkan risiko kesehatan bagi para pengungsi. []





