BisnisNews

Abu Salam Sebut Potensi PAD Limbah B3 di Aceh Capai Rp 70 Miliar

Banda Aceh – PT. Garda Lestari Ekologi Hutama (GLEH) meresmikan pengoperasian mesin insinerator limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di TPA Blang Bintang, Kabupaten Aceh Besar. Peresmian berlangsung di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Kamis (7/5).

Direktur Utama PT GLEH, Teuku Emi Syamsyumi atau Abu Salam, mengatakan kehadiran fasilitas pengolahan limbah B3 tersebut diharapkan dapat menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Aceh sekaligus membuka lapangan kerja baru.

“Selama ini limbah medis selalu dibawa ke luar Aceh sehingga Aceh tidak menghasilkan PAD. Padahal potensi PAD-nya luar biasa,” kata Abu Salam di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Kamis (7/5).

Menurutnya, pengoperasian insinerator limbah B3 sebenarnya bukan hal baru di Aceh. Fasilitas tersebut disebut sudah dibangun sejak masa pemerintahan gubernur sebelumnya melalui kementerian, namun belum pernah beroperasi optimal.

“Insinerator limbah B3 ini sebenarnya bukan yang baru di Aceh. Sudah 4 atau 5 gubernur, itu sudah didirikan oleh kementerian. Namun mereka tidak mampu mengoperasikannya, saya juga tidak tahu apa persoalannya,” ujarnya.

Abu Salam menyebut selama ini limbah B3 dari Aceh dibawa keluar daerah untuk dikelola. Padahal, jumlah limbah yang dihasilkan mencapai ribuan ton setiap tahun.

“Yang saya tahu selama ini hampir 4 ribu ton atau 4 juta kilogram. Itu luar biasa angkanya. Untuk PAD bisa sampai Rp 50 miliar sampai Rp 70 miliar per tahun yang bisa didapatkan Aceh sendiri,” jelasnya.

Ia mengatakan pihaknya bersama komisaris perusahaan berupaya menghadirkan pengelolaan limbah B3 di Aceh agar potensi ekonomi tersebut tidak lagi keluar daerah.

“Makanya kita upayakan insinerator ini bisa terwujud. Alhamdulillah hari ini sudah terwujud dan mungkin akan mulai on minggu ini setelah grand opening,” katanya.

Selain menambah PAD, Abu Salam menyebut keberadaan fasilitas itu juga diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran di Aceh.

“Tujuan kita tidak lain untuk menambah PAD Aceh. Terus apa yang kita janjikan dulu, ingin mengurangi pengangguran. Kalau limbah B3 dikelola di luar Aceh selama ini, bagaimana pengangguran itu bisa kita turunkan,” ujarnya.

Menurut Abu Salam, ke depan PT GLEH juga ingin terlibat dalam pengelolaan seluruh jenis sampah di Aceh, baik organik, non-organik maupun limbah B3.

“Kita ingin semua sampah yang ada di Aceh ini, baik organik, non-organik, termasuk B3, bisa dikelola dengan baik,” ucap Abu Salam didampingi Komisaris PT GLEH, Sunnyl Iqbal.

Abu Salam mengaku pengalaman yang diperolehnya selama berada di Australia menjadi salah satu motivasi untuk menghadirkan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik di Aceh.

“Saya dari Australia, pulang ke Aceh. Dengan pengalaman yang ada di sana, kita ingin melestarikan Aceh supaya lebih bersih ke depannya dalam menangani sampah apapun itu,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button