News

BI Aceh Panen Bawang Merah di Lahan Bekas Lumpur Banjir Pidie Jaya

Pidie Jaya – Lahan persawahan yang sempat tertimbun pasir dan lumpur akibat banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya kini kembali produktif. Di lahan tersebut, petani berhasil melakukan panen perdana bawang merah melalui program percontohan yang diinisiasi Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh bersama Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dan Universitas Syiah Kuala (USK).

Panen perdana berlangsung di Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Meurah Dua, Selasa (7/7). Kegiatan itu dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sarana dan prasarana bagi kelompok tani dan kelompok garam yang terdampak bencana di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya.

Dalam kesempatan yang sama, BI Aceh, Pemkab Pidie Jaya, USK, dan Satuan Tugas Rekonstruksi juga menandatangani komitmen penguatan klaster pertanian untuk mendukung pengendalian inflasi sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi pascabencana hidrometeorologi.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya BI mendorong pemulihan ekonomi daerah melalui penguatan sektor riil, khususnya pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

“Melalui pendampingan dan praktik Good Agricultural Practices (GAP) yang berkelanjutan, lahan bekas banjir diharapkan tidak hanya sekadar memanen bawang, tetapi juga membangun model pemulihan ekonomi masyarakat berbasis pertanian,” kata Agus.

Menurutnya, program percontohan itu merupakan hasil kolaborasi BI Aceh, Pemkab Pidie Jaya, USK, dan kelompok tani setempat. Pendampingan dilakukan mulai dari pemetaan lahan hingga penerapan praktik budidaya yang baik, seperti penggunaan benih unggul, mulsa, dan dekomposer organik sehingga dapat direplikasi di wilayah lain.

Pengembangan demplot bawang merah dilakukan di lahan seluas lima hektare yang tersebar di sejumlah lokasi dengan tingkat kerusakan akibat banjir yang berbeda, mulai dari ringan hingga berat.

Selain bawang merah, BI Aceh juga mengembangkan komoditas cabai dan jagung untuk mengidentifikasi tanaman yang paling sesuai dibudidayakan di lahan bekas banjir. Bawang merah dinilai memiliki prospek ekonomi lebih baik dibandingkan menunggu proses rehabilitasi lahan sawah untuk kembali ditanami padi.

Komoditas tersebut juga diharapkan membantu menjaga stabilitas harga di Aceh karena bawang merah merupakan salah satu penyumbang inflasi dari kelompok volatile food.

BI Aceh memastikan pendampingan tidak berhenti pada masa tanam. Petani juga akan mendapatkan pendampingan pascapanen, pelatihan pengolahan hasil pertanian, hingga akses pemasaran melalui agregator agar hasil panen memiliki nilai tambah.

Keberhasilan panen perdana itu juga didukung pendampingan teknis dari tim Fakultas Pertanian USK sejak tahap awal. Guru Besar Fakultas Pertanian USK, Prof. Rina Sriwati, mengatakan tim melakukan survei kondisi lahan dan analisis unsur hara tanah yang tertimbun material banjir sebagai dasar penyusunan rekomendasi pemupukan, penyediaan nutrisi tanaman, sistem penyiraman menggunakan sprinkler, hingga pengendalian hama dan penyakit.

“Hasil produksi panen akan terus dievaluasi sebagai dasar pengembangan program lanjutan,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie Jaya, Muhammad Nur, menyebut panen perdana tersebut menjadi momentum kebangkitan sektor pertanian pascabanjir. Ia berharap program serupa terus berlanjut karena bawang merah dan cabai merupakan komoditas strategis yang berkontribusi terhadap pengendalian inflasi daerah.

Saat ini, Pemkab Pidie Jaya bersama Pemerintah Aceh juga sedang menyiapkan rehabilitasi gratis bagi lahan sawah yang mengalami kerusakan berat agar petani dapat kembali bercocok tanam.

Sementara itu, Bupati Pidie Jaya yang diwakili Sekretaris Daerah Munawar Ibrahim mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan BI Aceh mendukung ketahanan pangan sekaligus pengendalian inflasi melalui pengembangan komoditas strategis di lahan sawah masyarakat yang terdampak banjir.

Optimisme juga datang dari petani penerima manfaat. Muhammad Nurdin, anggota Kelompok Tani Jaya Desa Meunasah Teungoh, mengaku sempat kehilangan harapan ketika sawahnya tertutup pasir dan lumpur. Namun berkat pendampingan dan bantuan berbagai pihak, lahannya kini kembali menghasilkan bawang merah.

Pada masa tanggap darurat bencana, BI Aceh bersama Ikatan Pegawai Bank Indonesia (IPEBI) juga menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa sembako, beras, obat-obatan, dan kebutuhan dasar lainnya ke wilayah terdampak di Pidie Jaya, Aceh Utara, dan Aceh Tengah. Selain itu, BI memastikan layanan perbankan tetap berjalan dan ketersediaan uang rupiah bagi masyarakat tetap terjaga.

BI Aceh juga menyalurkan bantuan sarana dan prasarana kepada tujuh kelompok sektor pertanian hortikultura dan garam, serta bantuan pendidikan melalui program Edukasi Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan (EPML) kepada dua lembaga pendidikan dayah di Pidie dan Pidie Jaya.

Ke depan, BI Aceh bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh berharap program percontohan pertanian pascabencana di Pidie Jaya dapat menjadi model yang diterapkan di daerah lain untuk mempercepat pemulihan ekonomi petani, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus menjaga stabilitas harga komoditas strategis di Aceh.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan Wilayah Aceh Safuadi, Sekretaris Daerah Pidie Jaya Munawar Ibrahim, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Aceh Chairil Anwar, Direktur Bisnis USK Afdal, jajaran Forkopimda Pidie Jaya, para penyuluh pertanian, serta kelompok tani binaan BI Aceh. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button