
Aceh Timur – Perjuangan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Peureulak Raya kembali memasuki babak baru. Bertepatan dengan momentum Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah dan haul Sultan Alauddin Sayyid Maulana Abdul Aziz Syah, deklarasi DOB Peureulak Raya yang diketuai Fattah Fikri (Bang Tata) resmi digelar di Monumen Islam Asia Tenggara (MONISA), Gampong Bandrong, Selasa (16/6).
Di tanah yang dahulu menjadi saksi lahirnya peradaban Islam di Nusantara juga Asia Tenggara, semangat untuk menata masa depan kembali dikumandangkan lewat Deklarasi tersebut.
Bagi Pemuda Peureulak, Radja Muhammad Husen, perjuangan DOB bukan sekadar upaya membentuk daerah administratif baru. Lebih dari itu, perjuangan ini merupakan ikhtiar untuk menjaga marwah sejarah dan melanjutkan jejak peradaban yang pernah ditorehkan oleh Kesultanan Peureulak.
“Peureulak bukan sekadar nama sebuah wilayah. Peureulak adalah identitas, sejarah, dan peradaban. Negeri ini pernah menjadi pelita yang menerangi Nusantara dan Asia Tenggara dengan cahaya Islam. Warisan besar itu harus terus hidup dalam denyut pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, sejarah telah menempatkan Peureulak pada posisi yang istimewa. Sebagai salah satu kerajaan Islam tertua di Asia Tenggara, Kesultanan Peureulak bukan hanya meninggalkan jejak kejayaan masa lalu, tetapi juga mewariskan nilai-nilai keilmuan, perdagangan, dan peradaban yang patut dijaga oleh generasi penerus.
Ia menilai, pembentukan DOB Kabupaten Peureulak Raya yang mencakup 10 kecamatan, yakni Birem Bayeun, Rantau Selamat, Sungai Raya, Peureulak Timur, Peureulak, Peureulak Barat, Rantau Peureulak, Peunaron, Serbajadi, dan Simpang Jernih, merupakan bagian dari ikhtiar besar untuk menghadirkan pemerataan pembangunan, mempercepat pelayanan publik, serta membuka jalan menuju kemajuan yang lebih merata bagi masyarakat.
“Jika leluhur dahulu membangun peradaban dengan ilmu dan akhlak, maka generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkannya melalui pembangunan yang adil dan berkelanjutan. DOB Peureulak Raya adalah salah satu jalan menuju cita-cita itu,” kata Radja Muhammad Husen.
Menurutnya, sebuah daerah yang besar bukan hanya diukur dari luas wilayahnya, tetapi dari kemampuannya menjaga sejarah dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyatnya. Karena itu, perjuangan DOB harus dipandang sebagai upaya menghadirkan masa depan yang lebih baik tanpa melupakan akar sejarah.
“Pemekaran ini bukan untuk memisahkan sejarah, tetapi justru untuk merawat dan membesarkannya. Agar nama besar Peureulak tidak hanya dikenang dalam lembaran sejarah, melainkan juga hadir dalam kemajuan zaman,” tegasnya.
Radja Muhammad Husen mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dan bersama-sama mengawal perjuangan DOB secara konstitusional demi terwujudnya Kabupaten Peureulak Raya.
Dari tanah Peureulak yang pernah menorehkan jejak peradaban Islam di Nusantara, harapan itu kembali tumbuh. Sebab sejarah tidak pernah meminta untuk dipuja, tetapi untuk dilanjutkan. Jika dahulu Peureulak dikenal karena kejayaan peradabannya, maka hari ini kita ingin Peureulak kembali dikenal karena kemajuan, kesejahteraan, dan martabat masyarakatnya melalui cita-cita besar bernama Kabupaten Peureulak Raya.
“Semoga perjuangan ini menjadi warisan terbaik bagi generasi penerus sepanjang masa,” pungkasnya. []





