
Banda Aceh – Tim relawan dari Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (PD IAI) Aceh menyalurkan bantuan logistik dan layanan kesehatan gratis ke wilayah terdampak banjir di Kabupaten Aceh Timur dan Aceh Tamiang pada Selasa (20/1).
Aksi kemanusiaan ini dilakukan dengan menembus medan berat dan jalur sungai yang masih terendam banjir.
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara PD IAI Aceh, Apoteker Tanggap Bencana PP IAI, Rumah Amal Masjid Jamik Universitas Syiah Kuala, serta Ikatan Alumni Kedokteran Universitas Malikussaleh.
Tim menyasar empat desa terdampak, yakni Desa Sekumur dan Pematang Durian di Kecamatan Sekerak, Aceh Tamiang, serta Desa Batu Sumbang dan Desa Rantau Panjang di Kecamatan Simpang Jernih, Aceh Timur.
Akses menuju lokasi menjadi tantangan utama. Untuk mencapai Desa Sekumur, tim harus menyeberangi sungai dengan debit air yang masih tinggi.

Sementara perjalanan menuju Desa Rantau Panjang ditempuh melalui jalur sungai selama sekitar dua jam. Setibanya di lokasi, warga setempat turut membantu menurunkan bantuan dari perahu.
Bantuan yang disalurkan meliputi sembako, makanan instan, pakaian layak pakai, serta perlengkapan sekolah guna mendukung keberlanjutan pendidikan anak-anak pascabanjir.
Selain itu, tim juga memberikan pelayanan kesehatan gratis, terutama untuk menangani penyakit yang umum muncul setelah banjir, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, tifoid, infeksi kulit, demam berdarah dengue (DBD), serta keluhan kesehatan yang dipicu stres dan keterbatasan akses obat.
Selain aspek fisik, tim juga memberi perhatian pada pemulihan psikologis anak-anak. Dipimpin oleh Apoteker Tati Rahmawati, relawan menggelar kegiatan trauma healing melalui permainan edukatif, bernyanyi, menggambar, dan aktivitas kelompok.
Kegiatan ini ditujukan untuk membantu anak-anak mengurangi kecemasan dan memulihkan kondisi emosional pascabencana.
Ia mengayakan, bencana tidak hanya merusak rumah, tetapi juga meninggalkan luka di hati anak-anak. Menurutnya, trauma healing menjadi ruang aman bagi mereka untuk kembali tertawa, merasa dicintai, dan percaya bahwa mereka tidak sendiri.
“Melalui sentuhan empati, permainan, dan kebersamaan, kita membantu anak-anak menyembuhkan ketakutan mereka dan menumbuhkan kembali harapan di tengah puing-puing bencana,” ujar Tati Rahmawati.
Ketua PD IAI Aceh, apoteker Tedy Kurniawan Bakri, M. Farm, mengatakan aksi ini merupakan bentuk kehadiran profesi apoteker di tengah situasi krisis.
“Aksi kemanusiaan ini merupakan wujud nyata kehadiran profesi apoteker di tengah krisis, meski saya tidak dapat hadir langsung di lokasi, laporan dari tim yang menembus medan berat dan akses sungai yang sulit memberikan rasa bangga dan haru tersendiri,” kata dia.
“Antusiasme warga serta senyum anak-anak yang kembali muncul menjadi penguat bagi kami bahwa upaya kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberi dampak besar. Kami berharap bantuan ini tidak hanya meringankan beban sesaat, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemulihan kesehatan, martabat, dan harapan masyarakat pascabanjir,” tambah Tedy.
Koordinator lapangan, Apoteker Annas, menyebut medan sulit terbayar oleh respons warga.
“Perjalanannya sangat melelahkan, tetapi semua terbayar saat melihat senyum dan harapan di wajah warga, terutama anak-anak. Di Desa Sekumur dan Rantau Panjang yang kami tempuh melalui jalur sungai, warga langsung membantu kami menurunkan bantuan dari perahu.”
“Respon mereka terhadap kegiatan trauma healing sangat luar biasa. Anak-anak yang awalnya malu-malu dan murung, perlahan mulai bermain dan tertawa. Ini menunjukkan bahwa pemulihan jiwa sama pentingnya dengan pemulihan fisik,” ujarnya.
Kepala Desa Rantau Panjang, Said Ridwan, menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diterima warganya.
“Kami mewakili seluruh warga Rantau Panjang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada tim yang turun hari ini (Minggu, 19 Januari 2026). Bantuan ini sangat tepat sasaran dan sangat kami butuhkan. Akses kami yang terbatas membuat bantuan dari luar sulit masuk. Kehadiran tim yang rela menempuh perjalanan dua jam lewat sungai benar-benar mengobati kepedihan kami. Semoga kerja sama seperti ini terus berlanjut,” katanya.
Aksi kolaborasi ini diharapkan dapat membantu pemulihan fisik, psikologis, dan sosial masyarakat terdampak, sekaligus memastikan bahwa warga di daerah terisolasi tidak menghadapi bencana ini sendirian. []





