NewsOpini

Literasi Keuangan di Tengah Ketidakpastian Global

*Oleh: Dandi Ramadhan, S.E., M.M.

KETEGANGAN geopolitik global kembali meningkat. Konflik di Timur Tengah, termasuk potensi eskalasi antara Iran dan Amerika Serikat, menambah ketidakpastian ekonomi dunia. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara besar, tetapi juga menjalar hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kenaikan harga energi, tekanan inflasi, serta volatilitas pasar keuangan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Dalam situasi seperti ini, kemampuan mengelola keuangan menjadi semakin penting. Namun, pertanyaannya, apakah literasi keuangan yang dimiliki masyarakat saat ini sudah cukup untuk menghadapi kondisi tersebut?

Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia pada 2024 telah mencapai 65,43 persen, dengan tingkat inklusi keuangan sebesar 75,02 persen. Angka ini meningkat pada 2025 menjadi sekitar 66,46 persen untuk literasi dan 80,51 persen untuk inklusi keuangan. Sekilas, capaian ini menunjukkan kemajuan. Namun, di balik angka tersebut, terdapat kesenjangan yang tidak bisa diabaikan.

Banyak masyarakat yang telah menggunakan produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami manfaat dan risikonya. Inklusi tumbuh lebih cepat dibandingkan literasi yang substantif. Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, kesenjangan ini justru dapat menjadi sumber risiko baru.

Sebagai praktisi yang telah lama berkecimpung dalam pengelolaan wealth, saya melihat bahwa literasi keuangan di Indonesia memang berkembang. Namun dalam praktiknya, literasi tersebut masih sering berhenti pada tahap pengetahuan, belum sepenuhnya diwujudkan dalam tindakan nyata. Padahal, dalam kondisi ekonomi yang dinamis, pemahaman saja tidak cukup.

Sejumlah lembaga global telah memberikan peringatan. CEO Jamie Dimon dari JPMorgan Chase menyoroti potensi guncangan harga energi yang dapat mendorong inflasi lebih tinggi dan memperpanjang era suku bunga tinggi. Di sisi lain, Federal Reserve dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas harga dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini memperjelas bahwa risiko global kini telah menjadi risiko personal.

Dalam konteks ini, literasi keuangan perlu dimaknai lebih luas. Tidak hanya sebatas kemampuan mengatur pengeluaran atau menabung, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan finansial yang strategis, terutama dalam hal investasi dan perlindungan.

Inflasi yang meningkat secara bertahap akan menggerus nilai uang. Menyimpan dana tanpa strategi yang tepat justru berpotensi menurunkan daya beli dalam jangka panjang. Oleh karena itu, investasi menjadi instrumen penting dalam menjaga dan menumbuhkan nilai aset.

Lembaga global seperti J.P. Morgan menekankan pentingnya disiplin investasi jangka panjang serta diversifikasi portofolio dalam menghadapi volatilitas pasar. Pendekatan ini relevan bagi siapa pun yang ingin menjaga stabilitas keuangan.

Namun, membangun aset saja tidak cukup. Risiko kehidupan seperti sakit, kecelakaan, atau kehilangan penghasilan dapat terjadi kapan saja. Tanpa perlindungan yang memadai, aset yang telah dibangun dapat terkuras dalam waktu singkat. Dalam hal ini, asuransi menjadi bagian penting dari strategi keuangan.

Sayangnya, kesadaran terhadap pentingnya perlindungan masih relatif rendah. Banyak yang memandang asuransi sebagai beban biaya, bukan sebagai alat pengelolaan risiko. Padahal, dalam praktik pengelolaan keuangan yang sehat, investasi dan asuransi merupakan dua sisi yang tidak terpisahkan.

Ketidakpastian global seharusnya menjadi momentum untuk menata ulang cara pandang terhadap keuangan. Mengandalkan satu sumber penghasilan tidak lagi memadai. Menabung saja tidak cukup untuk melawan inflasi. Dan mengabaikan risiko bukanlah pilihan yang bijak.

Dibutuhkan langkah yang lebih terarah: menyusun perencanaan keuangan, berinvestasi secara disiplin, serta memiliki perlindungan yang sesuai kebutuhan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki peluang untuk tetap bertumbuh.

Pada akhirnya, literasi keuangan bukan sekadar tentang mengetahui, tetapi tentang kesiapan untuk bertindak. Di tengah dunia yang terus berubah, mereka yang mampu menyeimbangkan antara pertumbuhan aset dan perlindungan risiko akan memiliki ketahanan yang lebih kuat.

Literasi keuangan adalah fondasi. Investasi adalah sarana untuk bertumbuh. Dan asuransi adalah perlindungan untuk menjaga keberlanjutan. Ketiganya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan di era ketidakpastian.

*Dandi Ramadhan, S.E., M.M. merupakan Praktisi Wealth Management

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button