
Banda Aceh – Sudah lebih dari 50 jam sebagian wilayah Aceh lumpuh tanpa aliran listrik. Pemadaman terjadi sejak Rabu (26/11), sekitar pukul 07.00 WIB. Hingga Jumat pukul 09.00, sebagian besar wilayah Aceh masih belum dialiri listrik.
Listrik padam hampir di seluruh kabupaten dan kota. Hanya sebagian kawasan Banda Aceh dan Aceh Besar yang mulai menyala meski terbatas. Gangguan ini membuat jaringan telekomunikasi ikut terputus. Banyak warga kesulitan menghubungi keluarga mereka, terutama yang tinggal di daerah banjir.
Seperti yang dialami Ikhsan, warga Kabupaten Bireuen yang kini bermukim di Banda Aceh. Ikhsan mengaku sudah dua hari tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya di Bireuen akibat jaringan terputus.
“Hingga saat ini, saya belum bisa berkomunikasi dengan keluarga di kampung, semoga mereka baik-baik saja. Kalau ditanya soal panik atau nggak, sebenarnya khawatir dengan kondisi mereka,” kata Ikhsan, Jumat (28/11).
Sebagai informasi, Bireuen termasuk wilayah yang paling parah diterjang banjir. Pada Kamis, jembatan Kutablang yang menjadi penghubung utama lintasan Medan-Banda Aceh putus setelah dihantam arus deras.
Sejumlah kecamatan di kabupaten itu juga dilaporkan terendam, memaksa warga mengungsi ke dataran lebih tinggi.
Hercules Angkut Material Tower Darurat
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, menyebut kerusakan pada jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) menjadi penyebab utama pemadaman berkepanjangan. Pada Kamis, 27 November, ia mengatakan jumlah tower yang rusak terus bertambah seiring cuaca ekstrem.
“Awalnya kami mendata lima tower roboh, namun akibat cuaca ekstrem yang terus berlanjut, jumlahnya bertambah menjadi total dua belas tower yang mengalami kerusakan,” ujarnya. Kerusakan itu terjadi pada beberapa jalur transmisi SUTT 150 kV: Bireuen–Arun, Brandan–Langsa, dan Peusangan–Bireuen.
Untuk mempercepat pemulihan, PLN menggandeng TNI Angkatan Udara dengan mengerahkan pesawat Hercules dari Lanud Halim Perdanakusuma. Pesawat pertama tiba di Lanud Iskandar Muda, Aceh Besar, Kamis pukul 11.45 WIB membawa material tower darurat yang langsung diteruskan ke lokasi terdampak.
“Siang ini, satu kloter material tower darurat telah mendarat dengan selamat di Aceh dan akan segera dibawa menuju titik kerusakan menggunakan helikopter untuk mempercepat proses pembangunan tower darurat,” kata Eddi.
Ia menambahkan, kecepatan mobilisasi menjadi faktor penentu dalam memulihkan jaringan transmisi yang tumbang diterjang banjir dan cuaca buruk.
“Kondisi ini membuat kami harus meningkatkan volume material dan percepatan distribusi ke lokasi,” ujarnya. []





