NewsOpini

In Memoriam 20 Tahun Tsunami Aceh: Perginya Sang Guru

Catatan Muhammad Nasril **

SUBUH itu masih melekat dalam ingatan kami. Ia mengimami shalat berjamaah seperti biasa, suaranya lembut dan penuh penghayatan. Namun, ketika sampai pada ayat 34-36 Surat Al-Qiyamah, suaranya terisak, berhenti sejenak, sebelum melanjutkan: “Celakalah kamu! Maka celakalah! Apakah manusia mengira dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban?”

Doa-doanya selepas shalat pun terasa berbeda. Ia memanjatkan permohonan untuk kesuksesan kami, para santrinya, yang esok hari akan menghadapi ujian. Seolah-olah, itu adalah doa terakhir yang akan ia panjatkan untuk kami.

Seperti rutinitasnya, usai subuh ia bersiap-siap ke pasar Lampulo Banda Aceh (Red. merupakan gampong yang berada pada pinggiran derusan Krueng Aceh yang terhubung hingga ke laut), untuk belanja ikan dan kelengkapan lauk makan lainnya bagi ratusan santri. Biasanya, ia selalu mengajak satu atau dua santri untuk menemani, sekaligus memberi pelajaran tentang muamalah yang benar. Dengan tegas, ia tak segan menegur pedagang yang curang atau pembeli yang tak menghormati aturan jual-beli.

Namun pagi itu, saat saya bersama seorang teman menghampirinya dengan harapan bisa ikut, ia hanya berkata dalam bahasa Arab, “Kamu belajar saja, besok ujian.” Kalimat itu menjadi kenangan yang tak pernah hilang dari ingatan saya.

Lalu, ia berangkat bersama Ustaz Marzuki (guru tahfid kami) saat langit masih gelap, membawa amanah besar untuk memenuhi kebutuhan seluruh santri.

Sekitar Pukul 08.15, bumi Aceh terguncang gempa dasyat. Kami, ratusan santri, berhamburan ke halaman depan gedung sekolah dengan wajah diliputi ketakutan. Sebagian bangunan runtuh di depan mata, menghadirkan ketakutan yang tak pernah kami rasakan sebelumnya.

Saat gempa reda, kami kembali ke asrama, berbagi cerita dengan kawan kamar tentang goncangan dasyat tadi, dan melanjutkan aktivitas belajar masing-masing.

Belum sempat menenangkan diri, terdengar teriakan dari kejauhan: “Ie ka di ek… ie ka di ek…!” (Air! Air laut naik!). Kami terpaku. Bagaimana mungkin air laut bisa mencapai dataran tinggi seperti gampong Gue Gajah (Red.lereng Gunung Mata Ie) , tempat kami berada?

Namun, kenyataan segera menampar kami. Suara jeritan dan tangisan menggema di mana-mana. Pikiran kami tertuju pada keluarga di pesisir, juga pada sosok guru kami yang pergi ke Lampulo pagi itu.

Hari menjelang sore tanpa kabar tentangnya. Namun, Alhamdulillah Ustaz Marzuki yang mendampinginya tadi berhasil kembali ke dayah setelah dijemput seorang ustaz lain. Kedatangannya disambut haru oleh kami semua. Tapi, ia membawa kabar yang memilukan. Dengan linangan air mata, ia berkata bahwa sang guru terpisah dengannya, bahwa saat air mulai naik, ia telah mengajak almarhum lari. Namun, sang guru hanya menjawab, “Tidak apa-apa, saya di sini saja.”

Kala itu saya hanya duduk tertunduk, terasa berat untuk bangun, dan ustaz Marzuki menghampiri seraya memeluk saya, sambil berbisik kata-kata yang membuat saya terisak. “Ustaz meupisah ngon lon…,(ust terpisah dengan saya), do’akan beliau,” ucap Ustaz Marzuki, mengabarkan kalau sosok itu belum diketahui.

Subuh Terakhir Bersamanya

Hari-hari berlalu dalam pencarian yang penuh harap. Sebulan setelah bencana itu, jasad almarhum ditemukan di dekat mobil yang ia gunakan, kondisi masih utuh dengan pakaian yang ia kenakan saat pergi. Subuh itu, 26 Desember 2004, menjadi perpisahan terakhir kami dengannya.

Sosok itu ialah, Al Mukarram Ustaz Rusydi Rasyid, bukan hanya guru. Ia adalah pembina, inspirasi, dan pelita bagi kami, para santrinya. Kehadirannya menemani Ustaz Muzakkir dan Asatidz lainnya telah membawa perubahan besar di dayah kami, mulai dari disiplin hingga kemandirian.

Wajahnya yang khas, senyum lebarnya yang ramah, masih tergambar jelas dalam ingatan kami. Alumni Gontor yang tegas sekaligus penuh perhatian itu menjadi tempat kami belajar tentang agama, akhlak, dan kehidupan.

Saya masih ingat betul ketika suatu sore ia mengajak saya berjalan-jalan. Dalam perbincangan itu, ia menyarankan saya melanjutkan studi ke Al-Azhar, Kairo. Ia tak hanya memberikan arahan, tetapi juga mengajak saya berdiskusi tentang kelebihan dan kekurangan pilihan itu.

Meski awalnya ragu, kata-kata bijaknya menggerakkan hati saya. Kini, saya bersyukur dan merasakan manfaat besar dari saran-saran itu, dan sebuah hikmah yang tak ternilai.

Terima Kasih, Guru

Kenangan tentang beliau tetap hidup di hati kami. Sosok pria sederhana itu adalah pelita yang tak pernah padam. Subuh terakhir itu menjadi saksi pengabdian terakhirnya bagi kami, sebelum ia pergi dengan membawa segenap kebaikannya.

Terima kasih atas segalanya, cita cita anak anak didikmu kini telah terwujud, mewarnai berbagai instansi dan juga menjadi tokoh masyarakat. Guru. Engkau akan selalu hidup dalam doa kami.

Dua puluh tahun sudah berlalu…
Saat yang lain pergi hanya meninggalkan pilu..
Kau pergi meninggalkan banyak hal yang tak lekang dimakan waktu..
Pada kami yang kau bekali secercah ilmu..
Pada kami yang tak bisa agar mampu..
Tinggallah kami yang kini meraba hikmah dari apa telah kami lewati bersamamu..
Engkau guru…
Yang hebat..
Yang pergi begitu cepat..

“Allahummaghfirlahu warhamhu, Allahummaj‘al qabrahu raudhatam min riyadhil jannah. Semoga kelak kita semua disatukan kembali dalam SyurgaNya. Amin.”[]

**Penulis merupakan Humas Dayah Insan Qurani, Aceh Besar dan Alumni Ruhul Islam Anak Bangsa (RIAB), Aceh Besar

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button