NewsPendidikan

Mahasiswa KKN USK Ajak Warga Lut Kucak Olah Ampas Kopi Jadi Sabun Cuci Piring

Bener Meriah – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Literasi Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar pelatihan pembuatan sabun cuci piring dari ampas kopi di GOR Kampung Lut Kucak, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Minggu (20/7/2025).

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB dan mendapat sambutan antusias dari warga, khususnya para ibu rumah tangga.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN Tematik Literasi 2025 yang tengah bertugas di kampung tersebut.

Mahasiswa Informatika USK, M. Syahidal Akbar Zas, selaku ketua kelompok KKN, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan mengajak warga memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis.

“Kami melihat ampas kopi sebagai potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, kopi adalah komoditas unggulan di Bener Meriah. Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka wawasan warga bahwa limbah seperti ampas kopi bisa diolah menjadi sabun cuci piring yang ramah lingkungan dan efektif,” ujar Syahidal dalam keterangannya, Selasa (22/7/2025).

Mahasiswa KKN Tematik Literasi USK menggelar pelatihan pembuatan sabun cuci piring dari ampas kopi di GOR Kampung Lut Kucak, Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Minggu (20/7/2025). Foto: dok. Cut Putri

Dalam pelatihan tersebut, warga diajarkan cara mengolah ampas kopi menjadi sabun cuci piring melalui proses sederhana, mulai dari pencampuran bahan, pencetakan, hingga pengemasan. Tak hanya ibu-ibu, sejumlah pemuda-pemudi kampung juga turut serta, menambah semangat kolaboratif dalam kegiatan tersebut.

Syahidal menjelaskan bahwa ampas kopi memiliki sifat abrasif alami yang dapat membantu mengangkat lemak dan kerak pada peralatan makan. Selain itu, sabun berbahan dasar limbah ini dinilai lebih ramah lingkungan dan murah dibandingkan produk sabun konvensional.

“Kami juga menyiapkan desain kemasan dan label produk, sehingga warga bisa langsung memanfaatkan hasil sabun untuk keperluan sendiri ataupun dijual. Harapannya, ini bisa jadi cikal bakal usaha kecil atau UMKM berbasis rumah tangga,” tambahnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari warga. Salah satu peserta, ibu rumah tangga bernama Nurhayati, menyampaikan apresiasi atas ilmu praktis yang diberikan oleh mahasiswa KKN.

“Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa. Kami jadi tahu kalau limbah ampas kopi bisa berguna. Ini sangat bermanfaat,” ujarnya.

Melihat antusiasme warga dan hasil sabun yang cukup banyak, kegiatan dilanjutkan ke tahap pengemasan lanjutan pada hari Senin, 21 Juli 2025.

Syahidal berharap kegiatan ini tidak berhenti sampai masa KKN berakhir. Ia mendorong warga untuk melanjutkan produksi sabun secara mandiri dan menjadikannya bagian dari upaya kemandirian ekonomi desa.

“Kami percaya dengan dukungan warga dan mitra lokal, kegiatan ini bisa berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan dan memberi dampak nyata bagi perekonomian Kampung Lut Kucak,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button