
Abu Dhabi – Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) mulai menjajaki peluang investasi minyak dan gas bumi (migas) yang lebih besar dari Uni Emirat Arab (UEA). Pengembangan potensi migas di kawasan Andaman menjadi salah satu pintu masuk untuk menarik investasi jangka panjang ke Aceh.
Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan Kepala BPMA Mawardi Nur dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk UEA, Judha Nugraha, di Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Abu Dhabi, Senin (2/11).
Pertemuan yang berlangsung di Abu Dhabi pada 2 November 2026 itu membahas penguatan kerja sama investasi sektor energi antara Indonesia dan UEA, khususnya pengembangan sektor hulu migas di Aceh. Kedua pihak juga membicarakan strategi membangun kepercayaan investor internasional serta membuka peluang kemitraan jangka panjang yang memberikan manfaat bagi daerah.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah peluang investasi UEA di wilayah kerja migas Aceh, termasuk keterlibatan Mubadala Energy dalam pengembangan potensi migas di kawasan Andaman.
Pengembangan investasi pada tahap awal diharapkan menjadi pijakan untuk menarik lebih banyak investor dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas pada masa mendatang.
Dalam pertemuan tersebut, Judha Nugraha menyarankan BPMA bersama pemerintah menyiapkan proposal bisnis yang komprehensif terkait rencana pengembangan hulu migas dan hilirisasi di Aceh.
Proposal itu dinilai penting agar peluang investasi dapat ditawarkan secara lebih konkret kepada calon mitra usaha di UEA. Sejumlah aspek yang perlu diperhatikan antara lain kelayakan ekonomi, kebutuhan infrastruktur, skema bisnis, hingga potensi pasar.
Menurut Judha, rencana pengembangan lapangan gas di Wilayah Kerja (WK) South Andaman dapat menjadi momentum untuk mempersiapkan ekosistem industri hilir migas di Aceh.
Potensi sumber daya gas tersebut, kata dia, perlu dihubungkan dengan rencana pembangunan industri pengolahan, infrastruktur pendukung, serta peluang investasi jangka panjang.
Judha memandang kerja sama investasi antara UEA dan Indonesia sebagai peluang besar yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh sebagai bagian dari Indonesia dinilai memiliki kesempatan untuk mengambil peran lebih besar dalam kemitraan tersebut.
“Kerja sama investasi UEA dengan Indonesia sebagai peluang jangka panjang yang perlu dipersiapkan secara serius. Aceh sebagai bagian dari Indonesia memiliki potensi untuk mengambil peran lebih besar dalam kerja sama tersebut,” ujar Judha dalam keterangannya, Sabtu (7/11).
Dia juga menilai keberhasilan sebuah perusahaan dalam mengembangkan investasi di suatu wilayah dapat menjadi daya tarik bagi investor lain dari berbagai negara.
“Ketika satu perusahaan berhasil mengembangkan investasinya di suatu wilayah, hal itu dapat menarik perhatian perusahaan lain dari berbagai negara. Keberhasilan tersebut menjadi referensi bahwa wilayah tersebut memiliki prospek dan lingkungan investasi yang menjanjikan,” jelasnya.
Judha mencontohkan, keterlibatan perusahaan UEA dalam proyek investasi yang berhasil dapat menjadi pintu masuk bagi perusahaan internasional lainnya untuk melihat peluang di wilayah yang sama.
Dalam konteks Aceh, keberhasilan Mubadala Energy mengembangkan potensi migas di kawasan Andaman berpeluang meningkatkan kepercayaan investor lain untuk ikut menanamkan modal.
Menurutnya, UEA memiliki banyak pengalaman dalam membangun posisi strategis di sektor energi dan investasi internasional. Negara tersebut kini berkembang menjadi salah satu hub energi internasional melalui visi besar, keberanian mengambil peluang, serta konsistensi membangun kemitraan.
Selain memiliki kapasitas finansial yang kuat, UEA juga didukung jaringan internasional yang luas. Dalam menjalankan investasi, aspek keamanan, kenyamanan, dan kepastian berusaha menjadi perhatian penting bagi para investor.
Sementara itu, Kepala BPMA Mawardi Nur menilai keberhasilan investasi migas tidak hanya diukur dari kegiatan eksplorasi dan produksi. Lebih dari itu, diperlukan kemampuan membangun kepercayaan serta menciptakan ekosistem investasi yang berkelanjutan.
“Iktiar dan langkah yang kita lakukan hari ini akan memberikan dampak bagi masa depan. Namun, perubahan besar tidak dapat diwujudkan dalam ruang dan waktu yang terbatas. Dibutuhkan proses, konsistensi, kerja keras, serta kesabaran untuk menjawab setiap tantangan yang ada,” ujar Mawardi.
Dia juga menilai kedekatan hubungan budaya antara Indonesia dan UEA menjadi modal positif dalam membangun kemitraan. Aceh yang memiliki karakter budaya ketimuran dinilai dapat memanfaatkan kedekatan tersebut untuk memperluas peluang kerja sama.
Meski demikian, Mawardi menegaskan pengembangan investasi di Aceh tetap perlu memperhatikan kondisi daerah, karakteristik sosial budaya, serta kearifan lokal.
Dalam pertemuan tersebut, Judha Nugraha didampingi Deputi Direktur BKPM Indonesia untuk Abu Dhabi, Oki R. Tiba.
Sementara itu, Kepala BPMA Mawardi Nur hadir bersama Direktur Utama PT Pema Global Energi (PGE) Firdaus Noezula, Deputi Perencanaan BPMA Afrul Wahyuni, serta Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal BPMA Radhi Darmansyah. []





