
Banda Aceh – Suasana Krueng Lampaseh, Banda Aceh, mendadak riuh dan ramai pada Senin (17/8) pagi. Selepas upacara peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, warga berbondong-bondong mendatangi kawasan sungai yang memisahkan Gampong Lampaseh Aceh dan Lampaseh Kota tersebut.
Sekitar pukul 10.00 WIB, bantaran sungai mulai dipenuhi warga. Anak-anak, remaja, kaum ibu hingga orang tua berdiri berdesakan menyaksikan puncak “Semarak Kemerdekaan Bersama Daniel A. Wahab”.
Dua perlombaan menjadi magnet utama: tangkap bebek dan pukul bantal.
Pembukaan kegiatan dilakukan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, di hadapan warga yang memadati bantaran sungai. Illiza hadir bersama Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah Muklis, Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah, Wakil Ketua I DPRK Banda Aceh Daniel Abdul Wahab, selaku inisiator kegiatan serta Wakil Ketua II DPRK Banda Aceh Musriadi Aswad.
Pimpinan eksekutif dan legislatif membuka perlombaan, dengan melepas bebek-bebek ke sungai.
Saat bebek-bebek dilepas ke sungai, suasana seketika berubah. Warga yang sejak tadi menunggu langsung bergerak. Dalam hitungan detik, peserta meloncat ke sungai, berenang dan mencipratkan air.
Bebek-bebek berlarian kocar-kacir di permukaan sungai. Para peserta mengejar, mengepung, lalu berusaha menangkapnya.
Sebagian peserta berhasil dalam waktu singkat. Namun, sebagian lainnya harus berenang cukup jauh hingga ngos-ngosan sebelum akhirnya mendapatkan bebek yang menjadi incaran.
Dari pinggir sungai, sorakan warga tak berhenti. Teriakan dukungan terdengar setiap kali peserta semakin dekat dengan buruannya.
Lomba tangkap bebek bukan sekadar perlombaan untuk mendapatkan hadiah. Bagi warga Krueng Lampaseh, kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari semarak perayaan kemerdekaan yang rutin dua tahun terakhir.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya peserta yang turun langsung ke sungai. Tak hanya orang dewasa, sejumlah perempuan muda, remaja, hingga anak-anak juga ikut menceburkan diri.
Menariknya, peserta bisa membawa pulang dua hadiah sekaligus. Selain mendapatkan bebek hasil tangkapan, peserta juga berpeluang memperoleh hadiah doorprize.
“Di setiap bebek yang dilepas ke sungai, di kakinya ada kupon yang kita ikat, bertuliskan jenis-jenis hadiah. Jadi selain apat bebek, mereka juga bisa dapat hadiah langsung, Jadi, dari satu perlombaan, peserta bisa pulang membawa bebek sekaligus hadiah tambahan,”ujar Daniel, politisi muda Nasdem ini.
Kemeriahan berlanjut pada lomba pukul bantal. Dua peserta duduk saling berhadapan di atas sebatang pohon pinang yang dibentangkan di atas air. Mereka kemudian saling memukul menggunakan bantal.
Warga yang menonton tak kalah antusias. Sorak-sorai kembali memenuhi bantaran sungai setiap kali salah satu peserta berhasil membuat lawannya kehilangan keseimbangan.
Namun, keseruan tetap memiliki batas. Beberapa peserta didiskualifikasi juri karena melakukan pukulan ke arah kepala yang dianggap sebagai pelanggaran. Meski tujuannya mencari pemenang dan mendapatkan hadiah, sportivitas tetap dijunjung tinggi.
Rangkaian perlombaan kegembiraan rakyat ini merupakan tahun kedua yang diinisiasi Daniel Abdul Wahab selaku Wakil Ketua I DPRK Banda Aceh dan perwakilan rakyat dari kawasan tersebut.
Sehari sebelumnya, kegiatan juga diisi lomba busur atau ketapel. Para peserta menguji ketangkasan dengan membidik target yang dipasang beberapa meter dari titik penembakan.
Tak hanya perlombaan, rangkaian kegiatan “Semarak Kemerdekaan Bersama Daniel A. Wahab” juga diisi dengan donor darah.
Daniel mengatakan kegiatan tersebut memang sederhana. Namun, menurut dia, ada pesan yang lebih besar di balik berbagai perlombaan yang digelar.
“Tetapi di balik kesederhanaan itu ada pesan yang jauh lebih besar, yaitu membangun kebersamaan dan kebahagiaan warga Kota Banda Aceh,” ujar Daniel.
Menurut dia, kemerdekaan bukan hanya tentang upacara dan pengibaran bendera. Kemerdekaan juga harus diisi dengan berkumpul, bergembira, saling mengenal, saling membantu dan menjaga hubungan baik antarsesama warga.
Karena itu, Daniel mengajak masyarakat Banda Aceh, terutama generasi muda, untuk menjaga perdamaian dan keamanan kota.
“Perbedaan pilihan politik, perbedaan pandangan, perbedaan latar belakang dan perbedaan kepentingan jangan sampai membuat kita terpecah,” katanya.
Ia menilai perdamaian merupakan modal utama pembangunan. Sementara keamanan adalah tanggung jawab bersama dan kebahagiaan masyarakat menjadi salah satu tujuan pembangunan.
Daniel juga mengajak masyarakat tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi ikut terlibat dalam menjaga lingkungan dan menghidupkan ruang-ruang interaksi masyarakat.
“Kita ingin anak-anak kita tumbuh dalam suasana yang damai. Kita ingin para pemuda memiliki ruang untuk berkreasi, berolahraga dan berkegiatan secara positif,” ujarnya.
Menurut Daniel, pembangunan tidak hanya dapat diukur dari jalan yang dibangun, gedung yang berdiri atau fasilitas publik yang tersedia.
“Pembangunan juga harus diukur dari seberapa bahagia masyarakatnya, seberapa aman kotanya dan seberapa kuat hubungan sosial warganya,” kata dia.
Karena itu, ia meminta kegiatan seperti perlombaan kemerdekaan tidak hanya dipandang sebagai ajang memperebutkan hadiah.
“Mari kita lihat sebagai ruang untuk bertemu. Anak-anak bertemu dengan anak-anak. Pemuda bertemu dengan pemuda. Orang tua berkumpul dengan masyarakat. Kita tertawa bersama, bergembira bersama dan membangun kembali rasa memiliki terhadap kota kita,” ujarnya.
Daniel juga mengapresiasi warga yang ikut dalam kegiatan donor darah. Menurut dia, setetes darah yang diberikan mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat berarti bagi orang lain yang membutuhkan.
Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal terlihat menyemangati dan menyapa peserta yang sedang bertanding. Ia juga ikut melepas bebek dalam perlombaan tangkap bebek.
Illiza berharap permainan kreatif tersebut dapat menghadirkan gelak tawa, mempererat kebersamaan antarwarga, sekaligus membangkitkan semangat masyarakat dalam menyambut hari kemerdekaan.
Kemeriahan di Krung Lampaseh, kata Illiza, sekaligus menunjukkan bahwa Banda Aceh merupakan kota yang aman dan damai.
“Banda Aceh aman, damai dan jangan pernah takut datang ke Banda Aceh karena kotanya bersih, nyaman, indah. Pokoknya semua yang datang ke Kota Banda Aceh kita layani dengan baik,” kata Illiza.
Menjelang sore, seluruh perlombaan berakhir. Hadiah kemudian dibagikan kepada para peserta.
Menang atau kalah, wajah-wajah peserta tetap terlihat ceria.
Di Krueng Lampaseh, kemerdekaan hari itu dirayakan bukan dengan kemeriahan yang mewah, melainkan dengan cara yang sederhana: mencebur ke sungai, saling bersorak, tertawa bersama, dan bertemu dalam suasana penuh kegembiraan. []





