NewsPendidikan

Menteri Agama Era Megawati Ingatkan Lulusan UIN Ar-Raniry Terus Belajar

Banda Aceh – Prof KH Said Agil Husin Al Munawar mengingatkan para lulusan perguruan tinggi bahwa gelar sarjana bukanlah akhir dari proses menuntut ilmu, melainkan awal perjalanan untuk terus belajar dan mengembangkan pengetahuan.

Pesan tersebut disampaikan dalam orasi ilmiah pada hari ketiga Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Gelombang I dan II Tahun 2026 UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Rabu (24/6), yang diikuti 595 wisudawan dan wisudawati Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.

Menteri Agama periode 2001-2004 dalam Kabinet Gotong Royong Presiden Megawati Soekarnoputri itu menjelaskan bahwa Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir memuat konsep-konsep pendidikan yang terus berkembang melalui kajian tafsir tarbawi dan hadis tarbawi.

Rasulullah SAW, menurutnya, diutus tidak hanya sebagai pembawa risalah, tetapi juga sebagai pendidik (Ar-Rasul al-Mu’allim) yang membawa manusia dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan.

Ia menegaskan bahwa orang berilmu memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam sehingga lulusan perguruan tinggi tidak boleh berhenti belajar setelah memperoleh gelar akademik.

“Wisuda bukan akhir perjalanan menuntut ilmu, tetapi awal perjalanan untuk menatap masa depan dengan bekal keilmuan yang dimiliki,” ujarnya.

Said Agil menilai anggapan bahwa lulusan strata satu telah menguasai seluruh disiplin ilmu merupakan pandangan yang keliru. Menurutnya, pendidikan magister dan doktor merupakan tahapan pendalaman ilmu, sedangkan profesor adalah fase menghasilkan karya dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Ia juga mengingatkan bahwa ilmuwan sejati adalah mereka yang terus merasa membutuhkan ilmu. Sebaliknya, ketika seseorang merasa telah cukup dengan pengetahuan yang dimiliki, semangat keilmuannya mulai memudar.

Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Mujiburrahman menilai perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkaya proses pembelajaran, bukan dipandang sebagai ancaman bagi profesi pendidik.

“Peran seorang pendidik tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin maupun kecerdasan buatan. Guru adalah role model, pembentuk karakter, penanam moral, dan inspirator bagi generasi penerus bangsa,” kata Mujiburrahman.

Ia mengatakan dunia membutuhkan ilmuwan muslim yang memiliki kapasitas intelektual, integritas, akhlak mulia, serta kecerdasan emosional dan sosial yang tinggi. Karena itu, lulusan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan diharapkan mampu beradaptasi dengan transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Menurutnya, tantangan pendidikan di era digital semakin kompleks sehingga calon pendidik tidak hanya dituntut menguasai metode pembelajaran modern, tetapi juga menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Mujiburrahman juga menyampaikan apresiasi kepada orang tua dan wali mahasiswa yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada UIN Ar-Raniry. Ia menegaskan bahwa universitas akan terus meningkatkan kualitas layanan akademik dan administrasi guna mendukung lahirnya sumber daya manusia yang unggul.

Prosesi wisuda hari ketiga itu merupakan bagian dari Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana Gelombang I dan II Tahun 2026 UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang berlangsung pada 23–24 Juni 2026. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button