
Jakarta – Universitas Pertamina menggandeng pakar global dan pelaku industri untuk membahas solusi kota hijau dan rendah emisi di tengah tingginya jejak karbon sektor transportasi nasional.
Dalam forum Studium Generale Sustainability bertema Global Insights for Local Action: Bridging Academia and Industry in Energy Transition pada Kamis (21/5), sekitar 200 peserta lintas sektor hadir membahas percepatan transisi menuju kota rendah karbon.
Berdasarkan data Katadata 2024, sektor transportasi menyumbang 150 juta ton emisi CO₂ nasional. Sebanyak 73 persen di antaranya berasal dari 166 juta unit kendaraan bermotor.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, mengatakan transisi energi tidak hanya soal mengganti bahan bakar, tetapi juga mengubah pola mobilitas masyarakat.
“Untuk mewujudkan NZE 2060, Pertamina proaktif membangun ekosistem kota cerdas melalui diversifikasi energi hijau dan transportasi terintegrasi, seperti pengembangan biodiesel B50 hingga infrastruktur kendaraan listrik,” jelas Agung dalam forum tersebut.
Ia menambahkan, komitmen tersebut diperkuat langkah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mengejar kedaulatan energi.
Sementara itu, Profesor dari USC Sol Price School of Public Policy sekaligus Direktur METRANS Transportation Consortium, Marlon Boarnet, menilai desain kota menjadi faktor penting untuk menekan emisi.
“Kota hijau berawal dari tata ruang yang memprioritaskan integrasi transportasi publik. Riset saya menunjukkan masyarakat di radius seperempat mil dari stasiun kereta menggunakan kendaraan pribadi sekitar 35 persen lebih sedikit,” paparnya.
Dari sisi industri, Direktur Transformation, Digitalization, dan Sustainability PT Pertamina Patra Niaga, Tenny Elfrida, menyebut transformasi bisnis Pertamina kini telah terintegrasi dengan konsep keberlanjutan di sektor transportasi.
“Pertamina turut berkontribusi membangun infrastruktur kendaraan listrik nasional dengan mencatatkan porsi 24 persen dari total transaksi energi SPKLU melalui 68 stasiun pengecasan, 98 roaming charging station, dan 101 stasiun penukaran baterai, serta menghadirkan Biosolar B35, Pertamax Green 95 (5% bioetanol), dan membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi untuk keberlanjutan bahan baku,” urai Tenny.
Ia menambahkan, ekspansi transisi energi juga menyasar sektor laut melalui pemanfaatan dual fuel, green ammonia, dan panel surya dek kapal, serta sektor udara lewat Sustainable Aviation Fuel (SAF) J2.4 berbasis minyak jelantah atau *used cooking oil*. Seluruh ekosistem tersebut disebut telah terintegrasi dalam aplikasi smartphone.
Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Djoko Triyono, mengatakan forum tersebut menjadi ruang kolaborasi untuk mewujudkan lingkungan berkelanjutan.
“Selain mencetak lulusan berkemampuan hijau (green skills) lewat program pascasarjana baru, UPER berkomitmen pada riset lokal. Melalui Sustainability Center, peneliti kami aktif dalam studi dan advokasi kebijakan seperti biodiesel B50 serta dekarbonisasi industri demi memberikan solusi nyata di lapangan,” ujar Prof. Djoko.
Forum itu ditutup oleh Kepala Otorita IKN periode 2022-2024, Bambang Susantono. Ia menekankan pentingnya sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah dalam membangun transportasi urban rendah emisi.
“Ini hanya bisa terwujud melalui sinergi antara akademisi sebagai penghasil talenta hijau, industri sebagai pembangun teknologi, serta pemerintah sebagai pemegang kebijakan,” pungkas Dr. Bambang. []






