
Banda Aceh – Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah menegaskan pentingnya penguatan infrastruktur pertahanan di ujung barat Indonesia. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri peresmian pesawat untuk praktik manasik haji di Asrama Haji Aceh, Banda Aceh, Minggu (15/2).
Dalam sambutannya, Fadhlullah mengingatkan bahwa Aceh memiliki posisi yang sangat strategis dalam sistem pertahanan nasional. Menurutnya, ketika berbicara tentang pertahanan Indonesia, Aceh merupakan wilayah terdepan yang akan menjaga kedaulatan negara.
Ia menjelaskan, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, wacana penguatan pertahanan menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam konteks itu, Aceh sebagai wilayah paling barat Indonesia memegang peran penting.
“Kalau bicara pertahanan Indonesia, di ujung barat tentu kami yang pertama menjaga kedaulatan republik ini,” ujarnya.
Fadhlullah menyebutkan, Aceh saat ini memiliki 11 bandara yang tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sabang hingga kawasan tengah dan barat selatan, termasuk di Nagan Raya. Namun, ia menilai kesiapan infrastruktur tersebut masih perlu diperkuat, terutama untuk mendukung kebutuhan strategis pertahanan.
Secara khusus, ia menyoroti panjang landasan pacu (runway) di Bandara Cut Nyak Dhien (CND), Nagan Raya, yang saat ini mencapai 1.800 meter. Dengan ketersediaan lahan yang memadai, menurutnya runway tersebut sangat memungkinkan untuk diperpanjang hingga 2.500 meter.
Fadhlullah menilai, dalam situasi geopolitik yang dinamis dan potensi eskalasi ancaman yang sewaktu-waktu bisa terjadi, kesiapan bandara di Aceh harus lebih dari satu.
“Kita mengingat selalu perang di depan mata, seperti Pak Presiden menyampaikan kepada kita selalu, sewaktu-waktu bisa saja terjadi peperangan, tapi kesiapan bandara kita di Aceh cuma satu pak,” katanya.
Saat ini, jelasnya, hanya Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang yang memiliki kesiapan optimal untuk mendukung operasional pesawat berbadan besar maupun pesawat militer.
Jika runway di Nagan Raya dapat diperpanjang menjadi 2.500 meter, maka Aceh—khususnya di wilayah pantai barat—akan memiliki dua bandara strategis yang mampu mendukung operasi pertahanan.
Ia pun secara terbuka memohon dukungan Menteri Bappenas agar rencana perpanjangan runway tersebut dapat direalisasikan.
Langkah itu, menurutnya, bukan semata-mata untuk kepentingan transportasi sipil, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia di kawasan paling barat Sumatra.
“Di kesempatan ini, Pak Menteri Bappenas, saya memohon agar runway yang kami punya di Bandara Nagan Raya bisa diperpanjang menjadi 2500, itu bisa digunakan juga untuk menjaga kedaulatan republik ini,” pungkasnya.
Selain Wagub Aceh, peresmian pesawat manasik tersebut juga dihadiri oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy; Wamenhaj, Dahnil Anzar Simanjuntak; Dirut Garuda Indonesia, Glenny Kairupan dan sejumlah pejabat lainnya. []





