
Aceh Tamiang – Lebih dari sebulan setelah banjir besar melanda sejumlah wilayah di Aceh, dampaknya masih terasa kuat di Kabupaten Aceh Tamiang.
Rumah-rumah warga belum sepenuhnya pulih, lumpur masih menempel di dinding dan lantai, sementara sebagian keluarga bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Di tengah situasi itu, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Aceh menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui program “IAI Peduli Banjir Sumatera” yang berlangsung selama tiga hari, 1-3 Januari 2026.
Aksi ini menjangkau sekitar 450 warga terdampak serta 20 keluarga apoteker yang turut menjadi korban banjir.
Tim peninjau IAI Aceh mendapati banyak rumah warga—termasuk milik sejawat apoteker—mengalami kerusakan berat dan masih tertimbun lumpur. Kondisi tersebut jauh dari kata layak huni.
Di salah satu lokasi, seorang apoteker tampak membersihkan sisa lumpur di rumahnya. Matanya sembap, namun ia tersenyum saat menerima bantuan dari rekan seprofesi.
“Ini lebih dari sekadar bantuan materi. Ini pengingat bahwa kami tidak sendirian,” ucap salah satu apoteker penerima, suaranya lirih penuh syukur.
Koordinator Lapangan kegiatan, Tedy Kurniawan Bakri mengatakan bahwa aksi ini merupakan wujud nyata solidaritas dan tanggung jawab moral profesi apoteker terhadap masyarakat dan sesama sejawat.
“Pemulihan belum optimal. Dukungan logistik, kesehatan, dan pendampingan psikososial masih sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat mereka,” kata Tedy.
Bantuan disalurkan secara langsung oleh Pengurus Daerah IAI Aceh bersama Pengurus Cabang IAI Aceh Tamiang serta relawan apoteker.
Paket bantuan mencakup tenda, tempat tidur lipat, beras, minyak goreng, susu, biskuit, kurma, air mineral, perlengkapan mandi, pakaian layak pakai, sarden, telur, pembalut wanita, serta berbagai kebutuhan pokok lainnya.
Selain itu, bantuan dana tunai juga diberikan untuk membantu proses pembersihan dan perbaikan rumah.
Meski distribusi berjalan tertib dan lancar, IAI Aceh mencatat sejumlah persoalan mendesak yang masih dihadapi korban banjir, mulai dari keterbatasan air bersih, lumpuhnya fasilitas pendidikan, kerugian harta benda, hingga trauma psikologis yang belum tertangani.
Menanggapi kondisi tersebut, IAI Aceh merekomendasikan tindak lanjut berupa penyaluran bantuan tambahan, layanan kesehatan bergerak, serta intervensi psikososial, terutama bagi anak-anak dan korban yang mengalami trauma.
“Melalui semangat kepedulian ini, kami berharap beban saudara-saudara kami sedikit terangkat dan pemulihan di Aceh Tamiang dapat berjalan lebih cepat,” tutup Tedy.
Aksi solidaritas ini tak sekadar menjadi distribusi logistik, melainkan juga penguat ikatan kemanusiaan—sebuah pengingat bahwa di tengah bencana, harapan dapat tumbuh dari tangan-tangan yang saling menguatkan. []






