
Banda Aceh – Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Prof Aliasuddin, menegaskan data Sensus Ekonomi 2026 tidak boleh berhenti sebagai kumpulan angka statistik.
Data tersebut harus diolah menjadi informasi dan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, riset, hingga keputusan investasi.
Hal itu disampaikan Aliasuddin dalam Workshop Wartawan bertajuk “Tantangan Besar Sensus Ekonomi 2026” yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh di BSI UMKM Center Aceh, Banda Aceh, Selasa (21/7).
Menurutnya, Sensus Ekonomi merupakan satu-satunya pendataan menyeluruh terhadap seluruh aktivitas usaha di luar sektor pertanian. Karena itu, hasil sensus memiliki peran strategis untuk memotret struktur ekonomi, mengukur daya saing daerah, hingga membaca peluang investasi.
“Data yang dihasilkan Sensus Ekonomi bukan sekadar angka. Data harus diolah menjadi informasi, kemudian menjadi insight yang dapat digunakan dalam pengambilan keputusan,” kata Aliasuddin.
Ia menjelaskan, pemanfaatan data Sensus Ekonomi sangat luas. Mulai dari menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah, penelitian akademik, penyusunan strategi bisnis, hingga evaluasi pembangunan ekonomi daerah.
Bagi kalangan akademisi, data tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan penelitian yang lebih akurat karena menyediakan informasi mengenai struktur usaha, karakteristik pelaku usaha, distribusi sektor ekonomi, hingga perkembangan ekonomi digital.
Sementara bagi pemerintah, data Sensus Ekonomi penting untuk menyusun program yang lebih tepat sasaran, termasuk menentukan sektor prioritas, pemerataan pembangunan, hingga penyusunan kebijakan fiskal dan investasi.
“Bagi dunia usaha, data ini dapat digunakan untuk membaca peluang pasar, mengenali tingkat persaingan, menentukan lokasi investasi, serta memahami karakteristik konsumen maupun pelaku usaha,” ujarnya.
Membaca Data Tak Cukup Melihat Angka
Aliasuddin mengingatkan, membaca data statistik tidak cukup hanya melihat besaran angka. Seorang analis harus memahami konsep, definisi, metodologi, cakupan wilayah, hingga konteks sosial ekonomi yang melatarbelakanginya.
Ia mengatakan, kesalahan dalam memahami data sering terjadi karena hanya berfokus pada angka tanpa memperhatikan sumber maupun metode pengumpulannya.
Dalam mengolah data, kata dia, terdapat tahapan yang harus dilakukan, mulai dari mengumpulkan data, membersihkan data (cleaning), mengolah, menganalisis, memvisualisasikan, hingga menyusun rekomendasi kebijakan.
“Tujuan akhirnya adalah menghasilkan insight, bukan sekadar menyajikan tabel atau grafik,” jelasnya.
Dalam paparannya, Aliasuddin juga mencontohkan pemanfaatan data statistik untuk mengkaji struktur ekonomi Aceh. Melalui analisis data, dapat diketahui sektor ekonomi yang menjadi unggulan, kontribusi masing-masing sektor terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), produktivitas tenaga kerja, hingga pemerataan aktivitas ekonomi antardaerah.
Analisis tersebut, lanjutnya, menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan sektor prioritas pembangunan dan menarik investasi yang sesuai dengan potensi daerah.
Selain itu, data Sensus Ekonomi juga dinilai penting untuk memetakan perkembangan ekonomi digital, ekonomi hijau, serta transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di tengah perubahan ekonomi global.
Wartawan Punya Peran Strategis
Aliasuddin juga menyoroti pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi statistik kepada masyarakat. Menurutnya, wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan angka, tetapi juga menjelaskan makna di balik data sehingga mudah dipahami publik.
Ia mengingatkan agar jurnalis selalu memverifikasi sumber data, memahami konteks, menggunakan visualisasi yang tepat, serta menghindari penyajian statistik yang dapat menyesatkan.
“Media berperan membangun kepercayaan publik terhadap data statistik. Penyampaian informasi yang akurat dan mudah dipahami akan membantu masyarakat maupun pengambil kebijakan dalam mengambil keputusan,” katanya.
Di akhir paparannya, Aliasuddin berharap hasil Sensus Ekonomi 2026 dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah, akademisi, pelaku usaha, maupun media.
Menurutnya, data yang berkualitas akan menghasilkan kebijakan yang tepat, mendorong investasi, memperkuat daya saing daerah, serta mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. []





