
*Oleh: Dandi Ramadhan, S.E., M.M.
GENERASI Z kini menjadi pusat perhatian dalam perkembangan ekonomi dan sosial Indonesia. Mereka tumbuh sebagai generasi yang sangat akrab dengan dunia digital, teknologi, dan informasi yang serba cepat. Namun di balik keunggulan tersebut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa Gen Z menghadapi tantangan serius dalam hal pengelolaan keuangan.
Penelitian Maryani & Dwijayanti (2019) mengungkapkan bahwa generasi ini lebih banyak menghabiskan pendapatan pada sektor gaya hidup seperti fesyen, hiburan, dan leisure daripada menabung untuk kebutuhan jangka panjang. Kuatnya pengaruh media sosial juga menjadi faktor pendorong utama. Aktivitas di platform digital sering memunculkan dorongan impulsive buying atau membeli barang secara spontan demi mengikuti tren dan menjaga eksistensi, sebagaimana dijelaskan dalam riset Zafar et al. (2020).
Selain kebiasaan konsumsi tinggi, tantangan lain yang dihadapi Gen Z adalah kecenderungan mencari kepuasan instan atau instant gratification. Menurut Sharma & Lal (2021), kebiasaan ini membuat banyak anak muda kesulitan menunda keinginan untuk memenuhi kebutuhan yang lebih penting di masa depan, seperti dana darurat atau investasi.
Keterbatasan literasi keuangan semakin memperburuk keadaan. Lusardi & Mitchell (2014) menemukan bahwa mayoritas anak muda belum memahami konsep dasar finansial seperti bunga majemuk, risiko, dan perencanaan utang. Hal itu berdampak pada meningkatnya penggunaan layanan keuangan yang tidak sehat, termasuk paylater, yang jika tidak dikelola dengan bijak dapat memicu utang konsumtif, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian Setiawan et al. (2022).
Meski begitu, peluang perbaikan terbuka lebar. Teknologi yang selama ini menjadi pemicu konsumtif justru dapat dimanfaatkan sebagai solusi. Platform keuangan digital, aplikasi pencatatan pengeluaran, hingga investasi online terbukti mampu meningkatkan disiplin finansial Gen Z apabila digunakan dengan motivasi dan pengetahuan yang tepat, menurut riset Fife & Thompson (2021).
Upaya awal yang paling efektif adalah menyusun anggaran keuangan pribadi. Penelitian Hershfield & Roese (2020) menunjukkan bahwa metode budgeting sederhana seperti 50/30/20 membantu mengontrol pengeluaran sekaligus mengurangi stres finansial. Selain itu, membangun dana darurat minimal 3–6 kali pengeluaran bulanan sebagaimana direkomendasikan Xiao & Porto (2017), menjadi perisai utama dari risiko ekonomi yang tak terduga.
Tidak kalah penting, Gen Z perlu mulai menyadari manfaat investasi sejak dini. Efek compounding yang dijabarkan Samuelson (1989) membuktikan bahwa waktu adalah kunci terbesar dalam membangun dan melipatgandakan kekayaan jangka panjang, meski dimulai dengan jumlah kecil.
Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi, akses informasi melimpah, serta dukungan teknologi, Generasi Z sesungguhnya memiliki modal lengkap untuk menjadi generasi dengan masa depan finansial paling cerah di Indonesia. Kuncinya ada pada pilihan mereka hari ini: apakah tetap terjebak dalam arus konsumsi, atau mulai melangkah menuju kebebasan finansial sejak muda.
Satu hal yang perlu diingat, stabilitas keuangan tidak dibangun dalam semalam, tetapi dimulai dari keputusan kecil yang konsisten. []
*Dandi Ramadhan, S.E., M.M merupakan Financial Advisor and People Development.





