News

Prof Syamsul Rijal: Perlu Inovasi dalam Distribusi Daging Kurban Agar Merata

Banda Aceh – Menjelang Iduladha, ibadah berkurban kembali menjadi perhatian utama umat Muslim, khususnya dalam konteks agama, sosial dan ekonomi.

Guru Besar Filsafat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Syamsul Rijal menilai bahwa semangat berkurban masyarakat terus meningkat setiap tahunnya. Namun, ia menyoroti pentingnya distribusi daging kurban yang lebih adil dan merata.

“Soal distribusi daging kurban ini perlu penanganan secara sosial, secara ekonomi yang berbasis syar’i, artinya apa? dipastikan daging daging itu dibagikan kepada para fakir dan miskin serta mereka yang berhak menerimanya, tetapi juga tidak menumpuk pada satu tempat,” kata Syamsul kepada sudutberita.id, Kamis (5/6/2025).

Ketua Prodi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry itu mencontohkan fenomena di sejumlah desa yang mengalami lonjakan jumlah hewan kurban setiap tahunnya.

“Di Desa A, misalnya, tahun lalu ada 10 ekor sapi dan 3 ekor kambing. Tahun ini naik menjadi 15 sapi dan 10 kambing. Ini menunjukkan kesadaran kolektif yang baik,” katanya.

Namun demikian, menurut Prof Syamsul, distribusi hasil kurban belum dikelola dengan maksimal. Ia menyebut, kemungkinan besar ada desa-desa di suatu daerah yang tidak melakukan penyembelihan hewan kurban sama sekali karena keterbatasan ekonomi atau faktor budaya.

“Bayangkan, kalau memang di suatu daerah ada 99 desa, apakah semua desa itu melakukan kurban? Saya kira tidak karena faktor ekonomi, budaya dan sebagainya. Dan ini tantangan besar. Harus ada campur tangan negara dalam hal ini pemerintah kota untuk menjembatani ketimpangan itu,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah daerah, terutama di Kota Banda Aceh agar membangun database kurban secara sistematis.

“Mulai dari jumlah desa, jumlah hewan kurban, hingga siapa saja yang berhak menerima. Jangan sampai daging kurban hanya dibagikan kepada yang itu-itu saja, sementara fakir miskin lainnya tak tersentuh,” lanjutnya.

Prof Syamsul juga mengajak agar umat Islam memandang kurban tidak semata dari sisi fiqih, tapi juga dari aspek sosiologis.

“Kurban bukan hanya soal menyembelih dan niat, tapi soal menyentuh hati dan kebutuhan orang-orang yang selama ini mungkin terpinggirkan,” pungkasnya. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button