News

Belajar dari UEA, BPMA Dorong Aceh Maksimalkan Potensi Migas

Banda Aceh – Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Mawardi Nur, mendorong Aceh memaksimalkan potensi minyak dan gas bumi (migas) melalui penguatan investasi dan kemitraan jangka panjang. Menurutnya, pengalaman Uni Emirat Arab (UEA) dalam mengembangkan sektor energi dapat menjadi pelajaran bagi Aceh.

Hal tersebut disampaikan Mawardi saat menjadi pembicara dalam Economic, Energy and Sustainability Forum 2026 bertema “From Resources to Prosperity” dengan subtema “Energi, Investasi dan Keuangan Syariah untuk Masa Depan Ekonomi Aceh”.

Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) dan seminar itu diselenggarakan Pengurus Besar Organisasi Alumni dan Ex-Santri Madrasah Ulumul Qur’an (PB ORALEXISMUQ) di Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Jumat (6/11).

Dalam forum tersebut, Mawardi memaparkan berbagai aspek pengelolaan hulu migas Aceh. Mulai dari landasan hukum kewenangan pengelolaan, peran strategis BPMA, perkembangan wilayah kerja migas, hingga potensi dan rencana pengembangan sektor hulu migas ke depan.

Dia menjelaskan, pengelolaan migas di Aceh memiliki kekhususan yang diatur dalam MoU Helsinki, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), serta Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2015.

Melalui regulasi tersebut, Pemerintah Aceh memiliki kewenangan khusus dalam pengelolaan bersama sumber daya migas sektor hulu melalui BPMA.

Mawardi juga menguraikan perkembangan kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di sejumlah wilayah kerja di Aceh. Berbagai upaya terus dilakukan, di antaranya peningkatan produksi, survei seismik, pengeboran sumur eksplorasi, serta pengembangan potensi sumber daya migas.

Menurutnya, berbagai langkah tersebut diharapkan mampu mendukung ketahanan energi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh.

Belajar dari Pengalaman UEA

Dalam pemaparannya, Mawardi turut menyoroti pengalaman Uni Emirat Arab (UEA) yang berhasil membangun kekuatan ekonomi dengan menjadikan sektor energi sebagai salah satu bagian penting dari strategi pembangunan jangka panjang.

Dia menilai keberhasilan UEA memberikan pelajaran tentang pentingnya visi pembangunan, keberanian mengambil peluang, serta konsistensi dalam mengembangkan sektor energi dan investasi.

“Uni Emirat Arab (UEA) memberikan banyak pelajaran tentang bagaimana sebuah negara mampu membangun masa depan melalui visi besar, keberanian mengambil peluang, dan konsistensi dalam mengembangkan sektor energi serta investasi,” ungkap Mawardi.

Menurutnya, kemajuan suatu negara maupun daerah tidak bisa dibangun dalam waktu singkat. Diperlukan keberanian untuk membuka diri terhadap investasi, membangun kepercayaan, menciptakan iklim usaha yang kondusif, serta mengembangkan kemitraan jangka panjang.

Mawardi menilai Aceh memiliki potensi dan peluang besar untuk dikembangkan, terutama di sektor energi dan sumber daya alam. Namun, potensi tersebut harus didukung perubahan pola pikir, keterbukaan terhadap investasi, serta kemampuan melihat pembangunan dalam perspektif jangka panjang.

Dia juga mencontohkan bagaimana UEA berkembang menjadi salah satu hub energi internasional. Keberhasilan menghadirkan investasi, kata dia, tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan yang terlibat, tetapi juga membuka peluang bagi masuknya investor dan pelaku usaha dari berbagai negara.

“Ketika sebuah negara berhasil menghadirkan investasi dan menciptakan keberhasilan bagi satu perusahaan, kepercayaan akan tumbuh. Kemudian, peluang investasi lainnya akan ikut berdatangan, bahkan dari negara-negara yang berbeda. Inilah pentingnya membangun ekosistem investasi dan kemitraan jangka panjang,” jelasnya.

Migas Aceh Diharapkan Beri Efek Berganda

Mawardi berharap pengalaman UEA dapat menjadi pembelajaran bagi Aceh dalam mengoptimalkan sumber daya alam, khususnya migas, agar memberikan nilai tambah yang lebih luas bagi perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Dia menegaskan, pengembangan sektor migas Aceh semestinya tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi. Lebih dari itu, sektor ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian daerah.

Dampak tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja lokal, penguatan industri pendukung, hingga kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Aceh secara berkelanjutan.

Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara lainnya, yakni Direktur Utama PT PEMA Global Energi (PGE) Firdaus Noezula, Guru Besar Ekonomi Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof. Dr. Hafas Furqani, M.Ec., serta Anggota Komisi III DPRA Bidang Perencanaan, Keuangan, Aset dan Investasi Muhammad Rizky, S.E. []

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button