
Banda Aceh – SLB TNCC kembali menggelar In House Training (IHT) Ketunaan sebagai program tahunan peningkatan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan sekolah. Pelatihan bertema “Mengenal Gangguan Perkembangan Saraf pada Anak” itu berlangsung selama tujuh hari, mulai 28 Juli hingga 5 Agustus 2026.
Sebanyak 40 peserta yang terdiri atas guru dan tenaga kependidikan mengikuti pelatihan tersebut. Kegiatan dipandu langsung oleh Kepala SLB TNCC, Nanny DM. Ria Hidayati, S.Psi., M.Ed., Gr.
IHT ini difokuskan untuk memperkuat kompetensi guru dan tenaga kependidikan, khususnya mereka yang berasal dari latar belakang non-Pendidikan Luar Biasa (non-PLB). Melalui pelatihan tersebut, peserta dibekali pemahaman yang lebih komprehensif mengenai karakteristik, kebutuhan, hingga strategi layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Materi pelatihan disusun secara bertahap. Kegiatan diawali dengan pengantar mengenai ABK, kemudian dilanjutkan dengan review film My Lovely Angel sebagai media refleksi sekaligus pembelajaran.
Selanjutnya, peserta mempelajari berbagai gangguan perkembangan saraf pada anak, termasuk autisme dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Pemahaman peserta kemudian diperdalam melalui review film Big World yang diikuti presentasi hasil kajian mengenai berbagai isu yang diangkat dalam film tersebut.
Pada sesi berikutnya, peserta mendapatkan materi mengenai tunagrahita dan gangguan komunikasi. Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan berbagai kondisi lainnya seperti kesulitan belajar spesifik, gifted, tunanetra, tunarungu, hingga tunadaksa.
Untuk memperkuat kemampuan praktis, peserta mengikuti pelatihan bahasa isyarat dan orientasi mobilitas. Mereka juga dikenalkan dengan pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA) yang banyak digunakan dalam intervensi perilaku pada anak berkebutuhan khusus.
Tak hanya itu, pelatihan turut menghadirkan praktik berbagai program terapeutik, seperti oral massage, body massage, dan sensory integration (SI) yang dapat mendukung proses stimulasi serta pembelajaran anak berkebutuhan khusus.
Sebagai bagian dari pembentukan budaya sekolah yang positif, peserta juga mempraktikkan 19 pembiasaan harian. Kegiatan tersebut meliputi brain gym, senam bahagia, bacaan salat, zikir, hingga penguatan nilai-nilai tauhid. Pembiasaan itu diharapkan dapat diterapkan secara konsisten dalam proses pembelajaran maupun aktivitas sehari-hari peserta didik.
Kepala SLB TNCC, Nanny DM. Ria Hidayati, S.Psi., M.Ed., Gr., mengatakan IHT Ketunaan merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus melalui penguatan kompetensi guru dan tenaga kependidikan.
“Risiko kami menerima guru dengan latar belakang non-PLB memang ada karena keterbatasan sumber daya manusia di Aceh. Karena itu, IHT Ketunaan menjadi solusi praktis untuk membekali guru dengan pengetahuan yang dipadukan dengan pengalaman menangani langsung anak berkebutuhan khusus di kelas,” ujar Nanny.
Melalui pelatihan ini, SLB TNCC berharap seluruh guru dan tenaga kependidikan mampu mengimplementasikan pengetahuan serta keterampilan yang diperoleh dalam proses pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus diharapkan semakin berkualitas, tepat sasaran, dan berorientasi pada kebutuhan setiap peserta didik, baik di dalam maupun di luar kelas. []





