
Jakarta – Indonesia memiliki peluang besar mengembangkan biohidrokarbon berbasis karet alam sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi. Sebagai produsen karet alam terbesar kedua di dunia dengan produksi sekitar 2,6 juta ton per tahun, pemanfaatan komoditas ini dinilai dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus mendukung ketahanan energi nasional.
Namun, pengembangan teknologi konversi karet alam menjadi biohidrokarbon selama ini masih menghadapi tantangan karena membutuhkan banyak proses uji coba untuk menemukan kondisi produksi yang paling optimal.
Menjawab tantangan tersebut, Pakar Bioenergi sekaligus Dosen Program Studi Teknik Kimia Universitas Pertamina (UPER), Dr. Ir. Laksmi Dewi Kasmiarno, bersama tim peneliti dari sejumlah institusi mengembangkan model volatile-state kinetics yang mampu memprediksi hasil konversi karet alam menjadi biohidrokarbon.
Menurut Dr. Laksmi, model tersebut memungkinkan peneliti memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan pengujian di laboratorium.
“Model ini memungkinkan kami memperkirakan jenis dan jumlah biohidrokarbon yang akan dihasilkan pada berbagai kondisi pirolisis sebelum melakukan banyak pengujian di laboratorium. Dengan tingkat kesesuaian yang sangat tinggi terhadap hasil eksperimen, pendekatan ini dapat membantu mengurangi proses trial and error sehingga pengembangan teknologi menjadi lebih efisien,” ujar Dr. Laksmi, Selasa (28/7).
Biohidrokarbon merupakan bahan bakar yang berasal dari bahan hayati, seperti tanaman, sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kimia. Dalam penelitian tersebut, tim menggunakan metode pirolisis untuk mengubah karet alam menjadi biohidrokarbon.
Dr. Laksmi menjelaskan, pada proses pirolisis, karet alam dipanaskan pada suhu 300-600 derajat Celsius dalam kondisi minim oksigen selama sekitar 30 menit. Proses pemanasan itu memecah rantai panjang penyusun karet menjadi senyawa yang lebih sederhana.
“Senyawa yang menguap kemudian didinginkan hingga menjadi minyak biohidrokarbon, sedangkan sisanya menjadi gas yang juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi. Dengan mengatur suhu dan waktu proses secara tepat, kami dapat mengoptimalkan pembentukan produk bernilai tinggi sekaligus meminimalkan limbah yang dihasilkan,” katanya.
Hasil penelitian menunjukkan biohidrokarbon yang dihasilkan memiliki karakteristik yang mendekati bahan bakar diesel komersial. Nilai kalornya mencapai 43,8-45,3 MJ/kg.
Pada kondisi optimum, sekitar 84,5 persen hasil pirolisis berupa produk cair yang juga mengandung senyawa bernilai ekonomi, seperti limonene, toluena, dan xilena.
“Biohidrokarbon yang kami hasilkan memiliki nilai kalor 43,8-45,3 MJ/kg, mendekati bahan bakar diesel komersial. Temuan ini menunjukkan bahwa karet alam tidak hanya berpotensi menjadi sumber energi terbarukan, tetapi juga bahan baku bagi industri kimia,” ujar Dr. Laksmi.
Tak hanya membuka peluang pemanfaatan karet alam sebagai sumber energi terbarukan, penelitian tersebut juga memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan teknologi konversi biomassa yang lebih efisien. Model yang dikembangkan bahkan berpotensi diterapkan pada berbagai jenis biomassa lain untuk mempercepat riset dan pengembangan biohidrokarbon di masa depan.
Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. tech. Djoko Triyono, M.Si., mengatakan capaian tersebut menjadi bukti kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi berbasis sains guna mendukung transisi energi nasional.
“Universitas Pertamina berkomitmen menghasilkan lulusan yang mampu menjawab tantangan industri melalui penguasaan sains, rekayasa, dan inovasi. Di Program Studi Teknik Kimia, mahasiswa dibekali kompetensi melalui peminatan Teknik Sistem Proses Kimia Berkelanjutan dan Rekayasa Energi serta Material Maju untuk Energi dan Pengembangan Proses, sehingga mampu mengembangkan solusi bernilai tambah dari sumber daya lokal. Penelitian ini menjadi contoh bagaimana pembelajaran dan riset dapat melahirkan inovasi yang mendukung ketahanan energi sekaligus pembangunan berkelanjutan,” tutup Prof. Djoko. []





