
*Oleh: dr. Nona Suci Rahayu, Sp.N
PASIEN A datang dengan keluhan nyeri kepala yang masih dirasakan hilang timbul meskipun sudah minum obat teratur. Pasien B dengan keluhan stroke 2 tahun lalu di anggota gerak kiri datang dengan keluhan kekakuan otot extremitas kiri disertai rasa nyeri hebat meskipun sudah rutin minum obat. Pasien C dengan keluhan sering pusing yang tidak berkurang sekalipun sudah konsumsi obat-obatan sehingga menggangu aktivitas harian pasien. Pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pengobatan bukan hanya tentang mengendalikan gejala penyakit, namun juga memastikan pemulihan fungsi dan kualitas hidup pasien.
Hal ini dapat dipahami karena otak merupakan pusat pengendali hampir seluruh fungsi tubuh, mulai dari proses berpikir, bergerak, berkomunikasi, mengingat, mengendalikan emosi bahkan otak ikut berperan dalam membantu manusia dalam proses pengambilan keputusan. Ketika terjadi gangguan pada sistem saraf, dampaknya tidak hanya berupa timbulnya penyakit, tetapi juga berdampak pada penurunan fungsi kemampuan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Kabar baiknya, perkembangan ilmu saraf menunjukkan bahwa otak bukanlah organ yang statis. Otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi, membentuk hubungan baru antarsel saraf, dan memulihkan sebagian fungsi yang terganggu melalui mekanisme yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Kemampuan inilah yang menjadi dasar mengapa proses pemulihan masih dapat berlangsung bahkan setelah fase akut penyakit berlalu. Oleh karena itu, menjaga kesehatan otak tidak cukup hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga harus mendukung proses pemulihan fungsi agar seseorang dapat kembali menjalani hidup secara optimal melalui kombinasi terapi obat-obatan, neurorestorasi dan rehabilitasi, perubahan gaya hidup, serta dukungan keluarga dan lingkungan.
Sehingga penanganan gangguan neurologis tidak langsung terhenti saat diagnosis ditegakkan dan gejala mulai perbaikan. Keberhasilan pengobatan juga tidak hanya diukur dari hilangnya rasa nyeri, hilangnya kejang, atau membaiknya hasil pemeriksaan penunjang, tetapi juga diukur sejauh mana kemampuan kembali dapat bergerak, berfikir, berinteraksi hingga berkehidupan sosial tanpa hambatan.
Melalui peringatan hari kesehatan otak sedunia yang diperingati setiap tanggal 21 Juli, mari kita tingkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan otak dengan gaya hidup sehat, aktivitas fisik dan olahraga yang teratur, tidur yang cukup, nutrisi seimbang, pengendalian faktor risiko, serta managemen stres yang baik. Menjaga kesehatan otak adalah langkah awal dalam meningkatkan kemampuan otak untuk terus pulih dan beradaptasi terhadap berbagai penyakit gangguan fungsi sistem saraf di kemudian hari. []
*dr. Nona Suci Rahayu, Sp. N merupakan dokter spesialis saraf sekaligus pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Penulis aktif berpraktik di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Pemerintah Aceh dan RS Umum Cempaka Lima, Banda Aceh.




