
Banda Aceh – Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal resmi membuka Banda Aceh Art and Cultural Market di Taman Putroe Phang, Sabtu (18/7) sore. Kegiatan bertema “Warisan Budaya untuk Masa Depan” itu diharapkan menjadi ruang bertemunya seni, budaya, ekonomi kreatif, dan masyarakat sekaligus menghidupkan kembali salah satu kawasan bersejarah di ibu kota Aceh.
Acara yang berlangsung selama dua hari hingga Minggu (19/7) tersebut menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya, pasar seni, serta stan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Pembukaan kegiatan juga diramaikan kehadiran puluhan wisatawan asal Johor, Malaysia.
Dalam sambutannya, Illiza menegaskan Taman Putroe Phang memiliki nilai sejarah yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan peradaban Aceh. Menurutnya, kawasan itu harus tetap hidup melalui berbagai aktivitas budaya, bukan sekadar dipercantik dari sisi fisik.
“Empat ratus tahun lalu tempat ini dibangun atas nama cinta. Hari ini cara kita mencintai Putroe Phang dengan menjaga sejarahnya, menghidupkan budayanya, dan meramaikan tamannya,” kata Illiza.
Ia mengatakan Pemerintah Kota Banda Aceh terus melakukan revitalisasi infrastruktur di kawasan tersebut. Namun, menurutnya, upaya itu harus dibarengi dengan kegiatan yang mampu menarik masyarakat untuk memanfaatkan ruang publik.
“Kalau tamannya sudah bagus tapi kosong, panggungnya ada tapi tidak dipakai, maka ruang itu akan kehilangan jiwanya. Saya berharap mulai hari ini Putroe Phang kembali menjadi ruang yang hidup,” ujarnya.
Illiza berharap Art and Cultural Market menjadi ekosistem yang mempertemukan pelaku seni, komunitas budaya, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat luas. Ia juga mengingatkan agar budaya tidak dipandang sebagai sesuatu yang usang, melainkan identitas yang menjadi kekuatan Banda Aceh.
“Teknologinya boleh berubah, medianya boleh berkembang, tetapi jangan pernah lepaskan akar kita. Yang membuat orang datang ke Banda Aceh adalah cerita, budaya, dan keramahtamahannya,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Illiza menegaskan pelestarian budaya bukan hanya berkaitan dengan menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi modal penting dalam membangun masa depan kota.
“Warisan budaya bukan hanya tentang masa lalu. Warisan budaya adalah bekal kita untuk melangkah ke masa depan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Banda Aceh Rosdi mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang terbuka bagi seniman, komunitas budaya, dan pelaku ekonomi kreatif untuk memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
“Ada lomba kesenian dan kebudayaan selama dua hari, pasar seni, dan insyaallah ini akan kita jadikan agenda tetap setiap akhir pekan untuk memperkuat pariwisata kota,” ujar Rosdi.
Ia menyebut kehadiran wisatawan dari Johor, Malaysia, pada pembukaan acara menjadi sinyal positif bagi pengembangan sektor pariwisata berbasis seni dan budaya di Banda Aceh.
Pembukaan Banda Aceh Art and Cultural Market turut dihadiri Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah bersama sejumlah anggota dewan, jajaran pejabat Pemerintah Kota Banda Aceh, akademisi, mahasiswa, seniman, komunitas budaya, pelaku UMKM, serta masyarakat yang memadati kawasan Taman Putroe Phang. []





