
Banda Aceh – Asisten Direktur Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Firman Octo Armando, menilai sektor perbankan syariah memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah paling barat Indonesia itu.
Ia menyebut penguatan jasa keuangan syariah menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.
“Tentu dengan dukungan semua pihak, termasuk dari rekan-rekan media,” kata Firman saat Media Gathering bersama insan pers di Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Rabu (13/5).
Kegiatan yang digelar Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Aceh itu mengangkat tema “Peran Strategis Perbankan Syariah dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Aceh”.
Acara tersebut turut melibatkan Otoritas Jasa Keuangan Aceh, Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah, Persatuan Wartawan Indonesia Aceh, serta sejumlah media massa.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakil Direktur Eksekutif Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah Aceh, Hafas Furqani, serta Manager Madya OJK Aceh, Ferdinan Daular.
Prof Hafas Furqani memaparkan peran KDEKS dalam mempercepat pengembangan ekonomi syariah di Aceh melalui penguatan ekosistem halal dan peningkatan literasi ekonomi syariah masyarakat.
Sementara Ferdinan Daular menjelaskan kontribusi industri perbankan syariah dalam mendukung pembiayaan sektor produktif, penguatan UMKM, hingga peningkatan inklusi keuangan syariah di Aceh.
BSI Makin Moncer, Aset Tembus Rp 460 Triliun
Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, mengatakan perbankan syariah kini memiliki posisi yang semakin strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah, khususnya di Aceh yang menerapkan sistem ekonomi berbasis syariah.
Menurut Imsak, secara nasional BSI mencatat pertumbuhan customer base yang signifikan pada Kuartal I 2026. Sejak merger pada 1 Februari 2021, jumlah nasabah BSI bertambah 9,26 juta nasabah.
Khusus pada tiga bulan pertama 2026, jumlah nasabah meningkat sekitar 500 ribu menjadi 23,7 juta nasabah.
“Peningkatan customer base ini turut mendorong Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI pada Triwulan I 2026 tumbuh 18 persen secara year on year menjadi Rp376,8 triliun,” ujar Imsak.
Selain DPK, pembiayaan BSI juga tumbuh 14,39 persen secara tahunan menjadi Rp329 triliun. Di sisi lain, rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) gross berada di level 1,8 persen, membaik dibandingkan periode sebelumnya sebesar 1,88 persen.
Total aset BSI hingga Maret 2026 juga meningkat menjadi Rp460,1 triliun. Capaian itu disebut membawa BSI masuk jajaran lima besar bank di Indonesia setelah resmi menjadi bank persero pada Januari 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa bank syariah saat ini memiliki posisi dan kinerja yang sejajar dengan bank-bank besar Himbara lainnya,” tambahnya.
Untuk wilayah Aceh, BSI Regional Aceh mencatat Dana Pihak Ketiga tumbuh 17,49 persen secara year on year menjadi Rp21 triliun pada Triwulan I 2026.
Sementara pembiayaan tumbuh 11,15 persen menjadi Rp25,4 triliun dengan kualitas pembiayaan yang tetap sehat. Adapun total aset BSI Aceh mencapai Rp26,4 triliun atau naik 11,36 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. []





