
Banda Aceh – Tim KOMMa dari GEN-A, bagian dari program Youth for Health (Y4H) Impact yang diselenggarakan UNICEF melalui Yayasan SEHAI, menggelar workshop edukatif bertajuk “Pengembangan Kartu dan Penguatan Komunikasi Keluarga tanpa Gawai”.
Workshop ini memperkenalkan inovasi KOMMa (Kartu Obrolan Meja Makan), alat bantu komunikasi yang dirancang untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga melalui obrolan ringan saat makan bersama.
Kegiatan yang berlangsung di Aula BKKBN Provinsi Aceh pada Sabtu (18/10/2025) pagi itu menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program BKKBN “Kembali ke Meja Makan”, gerakan yang mengajak keluarga Indonesia untuk makan bersama demi memperkuat ikatan emosional, meningkatkan komunikasi, dan memastikan gizi seimbang.
Sebanyak 16 keluarga, terdiri atas remaja SMA dan orang tua mereka, mengikuti workshop tersebut. Melalui sesi interaktif dan edukatif, peserta diajak menyelami kembali makna kebersamaan, berbagi cerita, serta saling mendengarkan satu sama lain.
Workshop dibuka oleh Azzam Ahmad Muharrar, Ketua Tim KOMMa. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya komunikasi keluarga.
“Komunikasi dalam keluarga sangatlah penting. Kehadiran KOMMa menjadi perantara untuk memulai topik-topik obrolan yang mungkin selama ini terlupakan,” ujar Azzam dalam keterangannya, Selasa (21/10/2025).
Setelah sesi pembukaan, tim memperkenalkan perjalanan pengembangan KOMMa serta mengajak peserta memainkan kartu tersebut bersama-sama.
Kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) mengenai inovasi kartu, presentasi hasil diskusi, serta edukasi interaktif yang dipandu oleh Muhammad Firdaus Ariansyah, sebelum ditutup dengan sesi refleksi bersama seluruh peserta.
Tim KOMMa sendiri beranggotakan Najwa Mifthahul Jannah (pembimbing), Azzam Ahmad Muharrar (ketua), Fadhil Tri Firzatullah, Muhammad Arkan Ramadhan, dan Hasna Nadia, dengan Muhammad Firdaus Ariansyah sebagai fasilitator.
Sebelum tiba di tahap workshop, tim KOMMa telah melalui sejumlah proses pengembangan, di antaranya uji coba internal untuk memastikan mekanisme permainan berjalan efektif.
Kemudian, Focus Group Discussion (FGD) guna menyerap masukan dari fasilitator, remaja, dan orang tua. Lalu, tahap development 2, berupa revisi isi dan tampilan visual kartu agar lebih menarik dan relevan.
Berikutnya, uji coba eksternal, melibatkan 16 keluarga yang memainkan KOMMa di rumah masing-masing selama lima hari.
Dari hasil uji coba tersebut, respons peserta cenderung positif. Salah satu remaja peserta mengatakan, “Makan malam jadi momen yang aku tunggu karena kami saling cerita, bukan cuma main HP.”
Sementara seorang orang tua mengaku, “KOMMa bikin saya sadar bahwa anak saya sebenarnya punya banyak cerita, hanya perlu ruang untuk didengar.”
Selain memperkuat komunikasi keluarga, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kesehatan mental anak dan remaja.
KOMMa diharapkan menjadi media yang membantu keluarga lebih perhatian secara emosional, menyediakan ruang aman untuk berbagi cerita, serta memperkuat kelekatan antaranggota keluarga.
Ke depan, tim KOMMa akan melakukan analisis lanjutan serta revisi kartu berdasarkan masukan peserta, sebelum menyiapkan peluncuran produk agar dapat digunakan secara luas oleh masyarakat. []
Kamaruddin



